|
DARAH PERAWAN |
Mata-mata jelalatan, mencari sasaran
Dengus napas menggesa, tak sabar meniti jeda
Jantung birahi berdegup, menuntut meminta
Rakus…., kuhirup darah perawan
Hooii…..!!
Perawan-perawan jelita
Puaskan aku dengan darah kalian!!!
(Tuhan, kapan kau renggut darah perawanku?)
Malam semakin tua, tetapi gelak tawa di stasiun radio itu masih
sesekali menggema. Semuanya suara cowok. Rupanya meski siaran sudah
habis tengah malam itu, masih ada saja orang yang tinggal, kongkow
ngrumpi sana-sini, membicarakan apa lagi, kalau bukan soal cewek.
Maklum, satu-satunya obyek pembicaraan antara cowok, yang tak lekang
dimakan jaman, adalah soal cewek.
"Cerita dong Boy, gimana kamu memerawani Meity," pinta salah seorang
diantaranya.
Meity adalah pacar Boyke. Mereka dikenal sebagai pasangan 'panas'
yang tak segan berciuman dan menunjukkan keintiman mereka di depan
umum. Edan pokoknya. Mereka bahkan saling foreplay di depan
rekan-rekan mereka selagi kongkow begitu.
"Kapan ya? Waktunya sih aku sudah lupa. Tapi masih terpatri di
ingatanku peristiwa itu terjadi saat pesta perpisahan SMA kami. Di
bawah panggung pementasan tepatnya," jawab Boyke sambil nyengir.
"Wah, sebelum pementasan tutup tahun?" tukas Pri, yang merupakan
sobat Boyke sejak lama. Kini mereka berdua sama-sama siaran di radio
itu.
"Hahahaha," gelak yang ditanya, "Nggak! Nggak Pri. Kamu salah.
Justru tepat ketika anak A2 nge-band sehabis kita itu Pri."
"Hah?"
"Masih ingat nggak, kan band kita kan tampil pertama kali? Abis itu
si Meity, Andin, dan Tri nge-dance?" tanya Boy sambil menatap Pri
dan kemudian senyum-senyum ke dua pendengar lainnya. Pri mengangguk.
"Nah, saat itulah otakku bersiasat, mencari cara untuk mendapatkan
Meity. Habis, konak aku liat pusat perutnya yang diobral sewaktu
nari itu. Mulus bok!! Ketika tubuhnya meliuk-liuk di panggung,
mataku udah melotot saja. Jakunku sampai gelegak-gelegek nelen air
liur beberapa kali. Busyet deh," mata Boy menerawang.
"Trus, gimana kamu berhasil menyeretnya ke bawah panggung tanpa
orang lain tahu?" tanya si Agil. Agil adalah fans lawas. Ia bahkan
sesekali membantu ketika stasiun radio itu membuat acara offair.
Aktif pokoknya.
"Hehehe, pertanyaan cerdasss," seringai Boy sambil mengacungkan
jempolnya. "Waktu itu kalau nggak salah, panggung kesenian tutup
tahun itu terpaksa dibuat di lapangan basket. Aula besar baru
direnovasi deh. Trus, belakang panggung tuh didirikan backdrop
hitam, kanan kirinya ditambahi batas kain, hitam juga, jadi ada gang
di antara kain itu, untuk pengisi acara mondar-mandir dari panggung
ke kamar ganti tanpa ketahuan penonton. Asal tahu saja, ketika Meity
turun panggung, aku langsung menggeret tangannya. Aku tarik dia ke
belakang panggung yang hanya sanggup menyembunyikan tubuh
kerempengku ini."
"Ah ya, waktu itu kamu memang nolak aku ajak ke area penonton,
rupanya karena alasan itu," tukas Pri seolah baru ngeh kenapa
sahabatnya menolak ajakannya waktu itu.
"Betul Pri. Dan di balik backdrop itu deh aku garap Meity, yang
waktu itu belom menerima cintaku. Aku cium bibir dia. Meity semula
menolak, tapi akhirnya mandah saja, rupanya dia nggak tahan menerima
hujan ciuman yang aku berikan." Jelas Boy seraya ngakak.
"Dan akhirnya aku geret deh dia ke bawah panggung, dan jebol
keperawanannya di situ. Habis itu, jadilah Meity pacarku sampai
sekarang, ketagihan dia rupanya ama dedek aku. Hahaha…..," Boy
ngakak semakin keras.
"Asyik juga kali kalau dapet perawan gitu ya?" gumam Agil kepingin.
"Lho, ya kamu tinggal cari dong," seru Boy.
"Cari gimana Boy? Masak kita harus ujicoba terus ampe nemu yang
perawan gitu? Kamu kan tahu sendiri sekarang ini jarang banget cewek
yang masih virgin gitu,"
"Yupp. Harus. Caranya ya emang trial terus deh. Soalnya kalau sampai
kita blon ngerasain darah keperawanan, hhmmm, bakal penasaran terus
deh," tutur Boy.
Belum lagi salah satu dari mereka bereaksi terhadap perkataan itu,
pintu di sebelah kanan mereka bergeser kasar, bahkan daun pintu itu
ditutup lagi dengan sebuah bantingan. "Brakkk..!!!" Sepertinya si
pembuka pintu kesal.
"Eh, Lang, buka pintunya perlahan saja dong," ujar Pri setelah tahu
siapa yang membanting pintu. Kaget juga dia, tidak biasanya Lang
muncul selarut ini.
"Ah, pasti elo lagi perang ya ama Denni?" tanya Boyke sambil
cengengesan, merasa lucu dengan guyonannya sendiri.
Fatal.
"Nggak usah ngurusi urusan orang! Sana cari terus darah perawanmu ke
ujung dunia..!!" teriak Lang dengan muka memerah menahan amarah.
Bibir gadis itu bahkan terlihat bergetar.
|
|
|
|