17 TAHUN.HOT.TO

 











 
DARAH PERAWAN
Mata-mata jelalatan, mencari sasaran
Dengus napas menggesa, tak sabar meniti jeda
Jantung birahi berdegup, menuntut meminta
Rakus…., kuhirup darah perawan
Hooii…..!!
Perawan-perawan jelita
Puaskan aku dengan darah kalian!!!
(Tuhan, kapan kau renggut darah perawanku?)
Malam semakin tua, tetapi gelak tawa di stasiun radio itu masih sesekali menggema. Semuanya suara cowok. Rupanya meski siaran sudah habis tengah malam itu, masih ada saja orang yang tinggal, kongkow ngrumpi sana-sini, membicarakan apa lagi, kalau bukan soal cewek. Maklum, satu-satunya obyek pembicaraan antara cowok, yang tak lekang dimakan jaman, adalah soal cewek.
"Cerita dong Boy, gimana kamu memerawani Meity," pinta salah seorang diantaranya.
Meity adalah pacar Boyke. Mereka dikenal sebagai pasangan 'panas' yang tak segan berciuman dan menunjukkan keintiman mereka di depan umum. Edan pokoknya. Mereka bahkan saling foreplay di depan rekan-rekan mereka selagi kongkow begitu.
"Kapan ya? Waktunya sih aku sudah lupa. Tapi masih terpatri di ingatanku peristiwa itu terjadi saat pesta perpisahan SMA kami. Di bawah panggung pementasan tepatnya," jawab Boyke sambil nyengir.
"Wah, sebelum pementasan tutup tahun?" tukas Pri, yang merupakan sobat Boyke sejak lama. Kini mereka berdua sama-sama siaran di radio itu.
"Hahahaha," gelak yang ditanya, "Nggak! Nggak Pri. Kamu salah. Justru tepat ketika anak A2 nge-band sehabis kita itu Pri."
"Hah?"
"Masih ingat nggak, kan band kita kan tampil pertama kali? Abis itu si Meity, Andin, dan Tri nge-dance?" tanya Boy sambil menatap Pri dan kemudian senyum-senyum ke dua pendengar lainnya. Pri mengangguk.
"Nah, saat itulah otakku bersiasat, mencari cara untuk mendapatkan Meity. Habis, konak aku liat pusat perutnya yang diobral sewaktu nari itu. Mulus bok!! Ketika tubuhnya meliuk-liuk di panggung, mataku udah melotot saja. Jakunku sampai gelegak-gelegek nelen air liur beberapa kali. Busyet deh," mata Boy menerawang.
"Trus, gimana kamu berhasil menyeretnya ke bawah panggung tanpa orang lain tahu?" tanya si Agil. Agil adalah fans lawas. Ia bahkan sesekali membantu ketika stasiun radio itu membuat acara offair. Aktif pokoknya.
"Hehehe, pertanyaan cerdasss," seringai Boy sambil mengacungkan jempolnya. "Waktu itu kalau nggak salah, panggung kesenian tutup tahun itu terpaksa dibuat di lapangan basket. Aula besar baru direnovasi deh. Trus, belakang panggung tuh didirikan backdrop hitam, kanan kirinya ditambahi batas kain, hitam juga, jadi ada gang di antara kain itu, untuk pengisi acara mondar-mandir dari panggung ke kamar ganti tanpa ketahuan penonton. Asal tahu saja, ketika Meity turun panggung, aku langsung menggeret tangannya. Aku tarik dia ke belakang panggung yang hanya sanggup menyembunyikan tubuh kerempengku ini."
"Ah ya, waktu itu kamu memang nolak aku ajak ke area penonton, rupanya karena alasan itu," tukas Pri seolah baru ngeh kenapa sahabatnya menolak ajakannya waktu itu.
"Betul Pri. Dan di balik backdrop itu deh aku garap Meity, yang waktu itu belom menerima cintaku. Aku cium bibir dia. Meity semula menolak, tapi akhirnya mandah saja, rupanya dia nggak tahan menerima hujan ciuman yang aku berikan." Jelas Boy seraya ngakak.
"Dan akhirnya aku geret deh dia ke bawah panggung, dan jebol keperawanannya di situ. Habis itu, jadilah Meity pacarku sampai sekarang, ketagihan dia rupanya ama dedek aku. Hahaha…..," Boy ngakak semakin keras.
"Asyik juga kali kalau dapet perawan gitu ya?" gumam Agil kepingin.
"Lho, ya kamu tinggal cari dong," seru Boy.
"Cari gimana Boy? Masak kita harus ujicoba terus ampe nemu yang perawan gitu? Kamu kan tahu sendiri sekarang ini jarang banget cewek yang masih virgin gitu,"
"Yupp. Harus. Caranya ya emang trial terus deh. Soalnya kalau sampai kita blon ngerasain darah keperawanan, hhmmm, bakal penasaran terus deh," tutur Boy.
Belum lagi salah satu dari mereka bereaksi terhadap perkataan itu, pintu di sebelah kanan mereka bergeser kasar, bahkan daun pintu itu ditutup lagi dengan sebuah bantingan. "Brakkk..!!!" Sepertinya si pembuka pintu kesal.
"Eh, Lang, buka pintunya perlahan saja dong," ujar Pri setelah tahu siapa yang membanting pintu. Kaget juga dia, tidak biasanya Lang muncul selarut ini.
"Ah, pasti elo lagi perang ya ama Denni?" tanya Boyke sambil cengengesan, merasa lucu dengan guyonannya sendiri.
Fatal.
"Nggak usah ngurusi urusan orang! Sana cari terus darah perawanmu ke ujung dunia..!!" teriak Lang dengan muka memerah menahan amarah. Bibir gadis itu bahkan terlihat bergetar.
 

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
HOME    CERITA     GAMBAR     MOVIE      INDO     LINK

Copyright © 2005 17TAHUN  All rights reserved.

Your Ad Here