|
TIGA KEPONAKANKU |
Nama-nama dalam cerita ini adalah nama yang disamarkan, tetapi
ceritanya betul-betul terjadi. Sebut saja namaku Andi, pria berumur
30 tahunan. Aku ingin menceritakan beberapa pengalamanku. Cerita ini
terjadi pada tahun 1993, aku diultimatum ayah untuk melanjutkan
kuliah di kota kelahiranku, yaitu kota P*** (edited). Sebelumnya,
aku kuliah di kota Y*** (edited) dan kuliahku berantakan karena
terjerumus ke pergaulan bebas, ternyata ayah mendapatkan informasi
tentang sepak terjangku sehingga keluarlah ultimatumnya.
Setelah mengurus semua surat-surat kepindahan, pulanglah aku ke kota
P*** (edited) dan mendaftar di salah satu perguruan tinggi swasta.
Di kota P*** (edited), aku tinggal di rumah kakak sepupuku karena
orang tuaku tinggal di desa. Kakak sepupuku mempunyai 3 orang anak
perempuan yang cantik dan montok. Anak pertama bernama Donna,
umurnya 16 tahun. Anak kedua bernama Vivian berumur 13 tahun. Anak
ketiga bernama Lisa berumur 11 tahun. Walaupun mereka bertiga masih
ABG tetapi tubuhnya benar-benar montok, mungkin karena gizi dan
hormon yang berlebihan.
Untuk singkatnya, aku mulai dengan pengalaman bersama Donna yang
berumur 16 tahun dan baru duduk di kelas I SMU. Pada suatu siang,
kami berdua nonton televisi di ruang keluarga, acaranya tidak ada
yang bagus.
"Om.. tolong pijatin dong betis kakiku, capek nih habis olah raga di
sekolah," kata Donna tiba tiba.
Wah... kesempatan datang nih pikirku.
"Ayo.. kamu tengkurap di sofa aja ya?" jawabku kegirangan karena
merasa mendapatkan kesempatan.
Kemudian Donna telengkup di sofa dan aku duduk di ujung sofa,
telapak kakinya kuletakkan di atas pahaku dan aku mulai memijat
kakinya. Dengan pelan dan penuh perasaan, aku mulai memijat dari
pergelangan kaki terus naik ke atas betis, bergantian kaki kiri dan
kanan. Ketika aku asyik memijat betis kaki kanannya, tanpa aku
sadari telapak kaki Donna menempel sesaat di kemaluanku dan kontan
darahku mengalir kencang serta kemaluanku menjadi keras. Aku
perhatikan Donna, apakah dia sengaja atau tidak sengaja, tetapi dia
santai saja. Kemudian aku teruskan memijat betisnya dan kejadiannya
berulang lagi, karena sekali ini aku yakin Donna sengaja, maka aku
nekat menarik telapak kakinya dan menempelkannya di kemaluanku,
ternyata Donna diam saja dan hal ini bagiku merupakan lampu hijau.
Donna semakin berani, telapak kakinya menekan-nekan halus kemaluanku
dan kepalaku mulai sakit karena nafsuku mulai naik.
"Donna.. kita pindah ke kamar kamu yuk.., supaya lebih rileks,"
kataku penuh dengan harapan.
"Yuk ah.. Donna juga kepengen lebih rileks," katanya yang membuatku
semakin kegirangan.
Setelah di dalam kamarnya, Donna langsung telungkup di atas ranjang
dan aku mulai melanjutkan pijatanku. Sekali ini aku jauh lebih
nekat, karena aku yakin Donna juga pasti menginginkannya. Sambil
memijat betisnya, telapak kakinya kutempelkan di kemaluanku dan
Donna tampaknya langsung mengerti, karena setelah itu telapak
kakinya langsung menekan-nekan halus. Wajahku mulai terasa panas dan
nafasku pendek-pendek, aku mulai horny tetapi aku harus sabar dan
tidak boleh terburu-buru, takut Donna shock dan menyebabkan semuanya
berantakan. Dengan perlahan, aku mengeluarkan penisku yang telah
mengeras dari celana pendek yang kupakai.
Ketika merasakan benda asing, Donna tampaknya agak kaget dan terdiam
sebentar, tetapi tidak lama kemudian dia mulai menggerakan telapak
kakinya kembali. Ujung jari kakinya menyentuh halus biji kemaluanku
dan terus naik ke atas sampai ke batang penis dan kepala penisku.
Kadang-kadang ditempelkannya seluruh telapak kakinya dan rasanya aku
benar-benar hendak muncrat keluar. Kupegang telapak kakinya dan
kulebarkan jari jempolnya, kuselipkan batang kejantananku di antara
jari jempol kakinya dan kujepitkan kejantananku naik turun. Wah..
rasanya benar-benar nikmat. Kuperhatikan Donna begitu menikmatinya
dan aku pun yakin dia pasti sangat horny juga. Karena aku takut air
maniku muncrat keluar, kuhentikan jepitan jari kakinya dan
kuteruskan memijat. Pelan tetapi pasti, aku mulai memijat pahanya,
karena dia juga memakai celana pendek maka dapat kurasakan kehalusan
kulit pahanya yang putih dan lembut. Tanganku terus naik ke atas, ke
pangkal dalam pahanya, bagian dalam pahanya kupijat pelan sambil
sekali-kali kuraba. Dapat kurasakan sekali-kali Donna mengencangkan
pahanya, aku yakin liang surganyaya mulai basah. Kemudian aku pindah
ke pantatnya, di sana kupijat dengan memutar-mutarkan telapak
tanganku sambil menekan-nekan.
Kulihat Donna mulai menggigit bantal dan menggesek-gesekan vaginanya
di ranjang. Karena aku tidak mau permainan ini cepat selesai, maka
aku memutuskan menurunkan libido Donna sedikit. Tanganku mulai
memijat pinggang dan punggung Donna. Gerakan tanganku biasa saja
karena aku menginginkan libido Donna menurun sedikit. Ketika aku
memijat bahu Donna, aku sengaja duduk menimpa pantatnya. Sekarang
saatnya naik lagi, sambil memijat dan meraba lehernya, batang
kejantananku kugesek-gesekan di bokongnya. Sekali-kali kumasukkan
jari kelingkingku ke dalam kupingnya dan Donna menggelinjang
kegelian. Aku semakin horny, dengan telungkup di atas tubuhnya
kujilat-jilat leher dan belakang kupingnya. Donna mendesah-desah
kegelian dan keenakan.
"Oke Donna.. sekarang bagian depan," kataku sambil membalikkan
badannya yang telungkup.
"He eh.." jawab Donna terdengar lemas.
Setelah Donna terlentang, aku duduk di samping tubuhnya dan mulai
memijat pahanya. Kupijat pelan-pelan bagian dalam pahanya, Donna
memejamkan matanya dan begitu menikmatinya. Tanganku kunaikkan
sedikit, tetapi tidak sampai menyentuh kemaluannya, aku ingin Donna
benar-benar terbakar. Kemudian tanganku pindah ke perutnya, kaosnya
kusibakkan sedikit. Sambil meraba-raba perutnya yang kencang dan
putih, kusempatkan menggelitik pusarnya dengan jari kelingkingku.
Nafas Donna terdengar menderu-deru dan dia mulai mendesah-desah
keenakan.
"Aduh Om... geli sekali..," katanya sambil membuka mata.
"Ngga apa-apa Donna, tahan sedikit dan nikmati saja." kataku
berusaha menenangkannya.
Posisi duduk kugeser ke samping kepalanya. Sambil tetap memijat dan
meraba-raba perutnya, akukeluarkan penisku yang sudah keras.
Kudekatkan ke wajah Donna. Bibirnya bergetar karena baru sekali ini
melihat penis dan dari dekat sekali. Kubiarkan Donna menikmatinya.
Tanganku kuselipkan ke dalam celana dalamnya. Terasa bulu bulunya
yang masih halus. Kupijat-pijat sambil kuraba-raba. Sekali kali
kusentuh kemaluannya yang benar-benar sudah basah, kutekan-tekan
halus klitorisnya, Donna mengelinjang kegelian dan keenakan. Batang
kejantananku semakin kudekatkan ke wajahnya dan kugosok-gosokan di
pipinya yang halus, mata Donna terpejam malu, tetapi aku yakin ia
menikmatinya karena wajahnya memerah dan nafasnya menjadi sangat
berat.
"Om... kepala Donna sakit, nyut-nyutan..," katanya sambil membuka
matanya yang terpejam tadi.
"Oke Donna... Om tuntaskan permainan ini ya..?" kataku sambil
menurunkan celana pendeknya sekalian melepaskan celana dalamnya.
Kubuka pahanya lebar-lebar, dan vaginanya benar-benar merangsang,
basah mengkilap dan merah. Pelan-pelan mulai kujilat pahanya dan
terus naik ke bagian dalam.
"Shhh... ah... geli Om...," Donna menggelinjang.
Kujilat-jilat lubang anusnya, bibir vaginanya dan lubang kencingnya.
Terus kujilat-jilat klitorisnya sambil menghisap dan menggigit-gigit
kecil.
"Ah... Om... Donna ngga tahan Om..," Donna mulai meracau liar.
Sementara itu pinggulnya mulai bergoyang-goyang.
"Tahan sebentar Donna dan nikmati saja," kataku.
Terus kujilat dan kuhisap klitorisnya, jari telunjukku kutusuk
sedikit-sedikit ke lubang anusnya, sementara tanganku yang satunya
meremas-remas payudaranya dan memilin-milin putingnya yang sudah
keras.
"Aduh... ampun... Om... shhh... ahhh..," suaranya serak.
"Om... Om.., enak... geli... ahhh... aduhhh..," racaunya.
Kupikir sekaranglah saatnya untuk membuat Donna merasakan orgasme.
Kupercepat semua gerakanku, semakin cepat dan cepat. Dan meledaklah
Donna, pinggulnya terangkat, sehingga badannya melengkung.
"Ahhh... shhh... aduhhh... shhh..," teriak Donna.
Rupanya dia telah sampai ke puncak orgasme. Cairan dari liang
wanitanya mengalir deras dan kuhisap serta kujilat habis.
Benar-benar enak dan baunya merangsang sekali. Donna terbaring
lemas, matanya terpejam, nafasnya masih tersenggal-senggal, tetapi
mulutnya tersenyum manis. Kuambil tissue dan kubersihkan vaginanya,
kucium lembut bibir kemaluannya, kemudian kupakaikan lagi celana
dalam serta celana pendeknya.
"Kamu pasti lemas dan mengantuk ya..? Tidurlah..!" bisikku kepada
Donna dan kucium keningnya.
"Terima kasih Om, lain kali kita ulangi lagi ya..?" jawab Donna
sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Beres... kamu tinggal ngomong saja..," kataku sambil membalas
kedipan matanya.
Kemudian aku keluar dari kamarnya, menuju kamar mandi untuk
masturbasi. Bagaimanapun aku tidak tega memperawani keponakanku
sendiri, cukup oral seks saja dengannya.
Aku lanjutkan dengan pengalamanku bersama Vivian yang berumur 13
tahun dan baru duduk di kelas I SMP.
"Om... ajarin Matematika dong, ada PR sekolah yang Vivian ngga
ngerti." panggilnya dari dalam kamar.
"Bagian mana yang ngga ngerti?" tanyaku sambil menghampirinya dan
duduk di kursi sebelahnya."Ini nih.., bagian persamaan kuadrat,"
jawabnya.
Mulailah aku menerangkan tahap demi tahap kepadanya, kebetulan aku
sendiri menyukai Matematika. Setelah setengah jam, semua PR Vivian
selesai dikerjakannya.
"Oke Vivian.., sudah selesai semua dan Om mau tidur siang," kataku
sambil berdiri dari kursi.
"Sebentar Om.., jangan tidur dulu.., tolong dong pijatin tangan
Vivian, memar nih..," ujarnya seraya menunjukkan lengannya yang
memar.
Kulihat lengannya memang memar dan kuajak dia duduk di lantai.
Kupijat bagian yang memar dan dia meringis kesakitan. Sambil
kupijat, aku melirik payudaranya yang sudah tumbuh dan glek... aku
menelan ludah. Timbul pikiran nakalku untuk mengerjai Vivian. Sambil
memijat lengannya, aku memikirkan bagaimana caranya supaya bisa
ngerjain Vivian. Lagi asyik berpikir, tiba-tiba aku terkejut karena
Vivian dengan santainya meletakkan telapak tangannya di atas
kemaluanku. Wah... pucuk di cinta, ulam tiba nih. Aku pikir Vivian
pasti sengaja dan kemaluanku mulai mengeras. Tangan Vivian mulai
meraba-raba dan meremas halus kemaluanku. Matanya mulai terpejam dan
nafasnya berat, kulihat wajahnya mulai memerah. Aku diamkan saja dan
mulai menikmati. Ternyata ABG sekarang nafsunya besar-besar, mungkin
hormon mereka juga besar.
"Om.. boleh ngga Vivian tiduran di paha Om..?" tanyanya.
"Boleh.. boleh..," jawabku kegirangan.
Dan Vivian meletakkan kepalanya di pahaku. Tangannya masih tetap
membelai-belai dan meremas halus kemaluanku yang berdenyut denyut.
Wah... aku jadi tambah horny. Tangan Vivian semakin berani,
dimasukkannya ke dalam celana pendekku melalui pahaku. Disibakkannya
celana dalamku dan mulai diremas-remas biji kejantananku. Tanganku
sendiri asyik meremas-remas payudaranya yang montok dan mencuat.
Kuselipkan tanganku ke balik kaos yang dipakainya dan kusibakkan
BH-nya. Mulailah kupilin-pilin putingnya yang masih kecil tetapi
sudah mengeras.
"Ooo... shhh... geliii... Om..," Vivian mulai mendesah, "Aduh...
ahhh... shhh... enakkk... terusss..," suaranya terdengar begitu
merangsang.
Pahaku mulai diciumi Vivian, sekali-kali dijilatnya. Aku benar-benar
kegelian, kurasakanpenisku mulai basah. Apakah Vivian sering nonton
blue film, kok pintar begitu, atau memang sedang puber?
"Om... boleh ngga lihat anunya?" malu-malu Vivian bertanya kepadaku.
"Boleh... boleh..." jawabku sambil melepaskan celana pendek serta
celana dalamku.
Dia tampaknya benar-benar horny, tangannya gemetar memegang penisku
yang tegang dan membengkak. Kuambil tangannya yang lain dan
kuarahkan ke biji kemaluanku. Vivian secara otomatis mulai
meremas-remas batang dan biji kejantananku dan aku juga mulai
meremas-remas payudaranya serta sekali-kali memilin putingnya. Kami
lakukan itu sekitar 15 menit.
"Vivian... jilat dong penis Om..," aku mulai membujuknya.
"Tapi Vivian ngga pernah dan ngga bisa Om..," jawab Vivian
malu-malu.
"Anggap saja kamu lagi jilat ice cream atau permen begitu..." kataku
sambil mendekatkan batang kejantananku ke mulutnya yang mungil.
Dan Vivian tidak lagi menolak, dia mulai menjilat batang penisku,
lidahnya begitu kecil danmenimbulkan sensasi yang luar biasa.
Tanganku memegang kepalanya dan mengarahkan ke buah kejantananku,
terus turun ke lubang anusku, naik kembali ke buah kejantananku,
naik ke batang dan berakhir di kepala kemaluanku, demikian berulang
kali naik turun. Setelah kurasakan Vivian mulai mahir, kulepaskan
tanganku yang memegang kepalanya. Amboi... sebentar saja Vivian
sudah menguasai pelajaranku. Tanganku mulai kumasukkan ke dalam
celana pendeknya dan terus menyibak celana dalamnya.
Aku mulai meraba-raba vaginanya yang masih gundul alis botak tidak
berbulu. Vivian menggelinjang kegelian, tetapi masih tetap menjilati
batang kejantananku. Kepalaku mulai nyut-nyutan dan darahku semakin
kencang mengalir, wah... harus cepat-cepat nih. Dengan jari tangan
kubuka lipatan vagina Vivian dan kuputar-putar di klitorisnya,
sekali-kali kuarahkan jariku ke lubang anusnya dan kutusuk-tusuk
lembut. Pinggul Vivian bergoyang-goyang antara kegelian dan
sekaligus nikmat.
"Vivian... sekarang masukkan penis Om ke dalam mulut kamu dan hisap
pelan-pelan." kataku terengah-engah.
Vivian memasukkan batang kejantananku ke mulutnya dan mulai
menghisap-hisap.
Kugoyang-goyangkan pinggulku sehingga penisku keluar masuk mulutnya
yang mungil. Tanganku tidak berhenti mempermainkan vaginanya. Dan
tiba-tiba kulihat pinggul Vivian semakin cepat bergoyang, ah... dia
pasti hampir orgasme. Aku pun semakin mempercepat goyangan pinggulku
dan penisku semakin cepat keluar masuk mulutnya yang mungil,
tanganku pun semakin cepat memilin-milin klitorisnya. Pinggul Vivian
terangkat ke atas, pahanya menjepit jari tanganku. Bersamaan itu, di
dalam mulutnya, batang kejantananku memuntahkan air mani yang begitu
banyak, sebagian tertelan olehnya dan sebagian mengalir keluar dari
ujung bibirnya. Ooo... nikmatnya..., setelah orgasme yang bersamaan,
Vivian terbaring lemas di lantai. Kuambil tissue dan kubersihkan
mulutnya serta liang kegadisannya. Setelah bersih semua, kurapikan
kembali celana pendek dan kaosnya. Matanya terpejam dan mulutnya
tersenyum persis senyum Donna kakaknya. Kucium keningnya dan terus
keluar kamar. Pasti nyenyak tidur siangku hari ini.
Terakhir adalah pengalamanku bersama Lisa yang berumur 11 tahun dan
baru duduk di kelas V SD. Di antara mereka bertiga, si Lisa inilah
yang paling cantik dan sangat manja denganku. Aku tidak malu-malu
mencium pipinya yang halus dan dia pun tidak malu-malu duduk di
pangkuanku. Kadang-kadang penisku sakit karena diduduki Lisa dengan
mendadak, tetapi kupikir dia tidak sengaja. Pada suatu malam Minggu,
abang sepupuku, istrinya, Donna dan Vivian pergi menghadiri pesta
pernikahan. Di rumah tinggal aku, Lisa dan dua orang pembantu. Jam
di dinding menunjukkan pukul 19:30. Di ruang keluarga, hanya aku dan
Lisa yang sedang menonton televisi yang kebetulan saat itu
menayangkan film barat, sedangkan dua orang pembantu berada di kamar
mereka.
"Om... pangku Lisa dong..." kata Lisa dengan manjanya.
"Yuk... sini duduk di pangkuanku," kataku sambil menarik tubuhnya ke
pangkuanku.
Setelah Lisa duduk di pangkuanku, kucium pipinya yang putih seperti
biasanya.
"Ih... Om genit deh..." kata Lisa sambil memukul pahaku.
Aku hanya tertawa dan melanjutkan tontonan di televisi. Sambil
menonton, kami bercerita mengenai jalan cerita film tersebut.
"Om... Lisa agak dingin nih, peluk Lisa dong..." pinta Lisa dengan
manja.
Maka kupeluk badannya yang masih kecil sambil sekali-kali kucium
pipinya yang membuatku gemas.
Setelah kupeluk sekitar 15 menit, aku merasakan duduk Lisa tidak
mantap, pinggulnya bergerak terus. Aku melebarkan kakiku sehingga
lebih rileks dan pada saat itu mendadak Lisa memundurkan pinggulnya
sehingga menempel di kemaluanku seperti biasanya. Karena sudah biasa
aku tidak kagetdan diam saja. Tetapi semakin lama Lisa semakin
gelisah dan pinggulnya mulai menggesek-gesekke arah kemaluanku. Mau
tidak mau, kemaluanku jadi berdiri tegak dan mengeras. Merasakan
kemaluanku mengeras, Lisa semakin merapatkan pinggulnya dan
menggesek-gesekanya. Konsentrasiku menonton film di televisi mulai
buyar. Aku memandangi Lisa dan berpikir apakah mungkin anak ini juga
sudah mengenal libido? Rasanya tidak mungkin karena baru berumur 11
tahun. Memang kadang-kadang secara tidak sengaja, aku menyentuh
dadanya dan terasa sudah ada yang tumbuh di sana.
"Lisa... Om mau nanya kamu, tapi jawab yang jujur dan ngga usah
malu-malu ya..?" kataku kepadanya.
"Nanya apaan sih Om..?" tanyanya sambil tersenyum.
"Apakah kamu sudah pernah menstruasi?" tanyaku langsung.
"Sudah Om... setahun yang lalu Lisa mulai mens..." jawabnya
tersipu-sipu karena malu.
"Ha..? Umur 10 tahun sudah mens..., wah-wah... ternyata anak
sekarang semakin cepat pertumbuhannya." pikirku.
Jelas saja Lisa kelihatan mulai gatal dan suka duduk di pangkuanku.
Apalagi sekarang dia mengesek-gesekkan pinggulnya ke arah kemaluanku
yang mulai mengeras. Berarti dia sudah mempunyai libido dong.
Akhirnya kubiarkan saja Lisa mengesek-gesekkan pinggulnya ke
kemaluanku yang tegang dan membesar. Aku pun mulai menikmatinya.
Tanganku yang memeluknya mulai bergerilya. Pelan-pelan kuraba
dadanya yang baru tumbuh dan mulai kuremas. Benar-benar payudaranya
masih kecil dan sangat kencang. Lisa hanya memakai kaos dalam,
karena mungkin memang tidak ada BH yang kecil. Dapat kurasakan
putingnya yang mengeras dan baru sebesar kacang ijo. Kuremas-remas
dan kupilin-pilin putingnya itu, dia menggelinjang kegelian.
"Om... geliii.. Om..." Lisa mendesah halus.
"Kamu diam saja.., rasanya enak kok..." jawabku.
Aku mulai mencium pipinya, lehernya dan kujilat-jilat belakang
telinganya, sekali-kali kumasukkan ujung lidahku ke dalam lubang
telinganya dan Lisa menggeliat kegelian, nafsuku semakin naik.
"Aduh... geliii... geliii..." Lisa menjerit kecil.
Tanganku mulai menyusup ke balik kaosnya dan terasa kulit tubuhnya
yang begitu halus. Tanganku mulai turun ke bawah dan terus ke
selangkangan Lisa. Sama seperti Vivian, Lisa pun masih gundul alias
botak. Tanganku meraba-raba vaginanya yang kecil dan mulai
kuselipkan jariku membuka lipatan kegadisannya. Klitorisnya begitu
kecil dan lembut dan mulai kupilin-pilin serta menekan halus.
"Shhh... ahhh... aduhhh... shhh... shhh..." Lisa mendesah-desah
karena keenakan.
Sementara itu lidahku terus bermain di leher dan telinganya, tangan
kiriku terus meremas-remaspayudaranya yang kecil sambil memainkan
putingnya.
Tubuh Lisa tersandar lemas ke tubuhku dan pinggulnya semakin kencang
menggesek-gesek batang kejantananku yang mulai basah. Sekali-kali
paha Lisa mengejang dan menjepit jari tanganku, kubiarkan Lisa
menikmati pengalaman pertamanya. Terus kulanjutkan semua gerakanku
dan tiba-tiba Lisa mengerang kecil, pinggulnya terangkat ke atas,
pahanya mengejang dan menjepit jariku. Lisa mendapatkan orgasmenya
yang pertama dan mengerang terus.
"Ahhh... shhh... shhh... ahhh..." suara Lisa tersendat-sendat.
Cepat-cepat kumasukkan ujung lidahku ke dalam lubang telinganya dan
kuputar-putar lidahku. Aku sendiri mengalami orgasme yang hebat, air
maniku menyemprot di dalam celana dalamku sehingga aku merasa celana
dalamku basah kuyup bagai kencing di dalam celana.
Setelah Lisa tenang, kukeluarkan tangan kananku dari dalam celananya
dan tangan kiriku dari dalam kaosnya. Tubuh Lisa masih tersandar
lemas di tubuhku, kucium lembut pipinya, matanya terpejam dan
bibirnya tersenyum mirip senyuman Donna dan Vivian kakaknya.
Kuangkat tubuhnya dan kugendong ke kamarnya. Dengan hati-hati
kuletakkan di atas ranjang dan kuselimuti. Kucium pipinya sekali
lagi dan kumatikan lampu kamar dan aku keluar melanjutkan tontonan
film di telivisi.
Nah, pembaca yang terhormat, itulah pengalamanku bersama ketiga
keponakanku yang cantik dan montok. Sekarang aku sudah bekerja di
kota lain dan mereka juga sudah kuliah. Kalau aku pulang ke kotaku
dan bertemu mereka, mereka hanya tersenyum seolah-olah tidak pernah
terjadi apa-apa. Padahal terus terang masih ada keinginanku untuk
mengulangi pengalaman yang dulu bersama mereka, tetapi aku malu
mengatakannya. Semoga mereka membaca tulisanku ini dan
memberikukesempatan untuk mengulanginya lagi.
|
|
|
|