|
There Something About Bu RW |
Halo kaskuser semua (sengaja nyantumin kaskus biar kalo ada yang
kopi paste keliatan asalnya ). Saya mo bagi cerita lagi nih....
biasa, kayaknya udah kurang stok cerita baru Oh iya, saya postingnya
sebelum RUU anti pornografi di legalin ya, jadi gak boleh diusut
(awas kalo mimin bongkar-bongkar rahasia ke polisi )
Biasanya kembang disuatu kompleks adalah seorang gadis SMU ato
kuliah yang memang lagi mekar-mekarnya, tapi beda dengan kompleks
dimana aku tinggal. Ya, dikompleks ini yang menjadi kembang adalah
ibu RW yang tinggal disebelah rumahku. Mungkin sebagian besar
pembaca tidak percaya, tapi memang tante lia, bu rw tetanggaku itu
bagaikan magnet bagi semua laki-laki dikompleks ini.
Aku gak bisa mendeskripsikan secara tepat mengapa tante lia bisa
begitu mempesona. Memang secara fisik tante lia jauh diatas
perempuan rata-rata. Kulitnya putih seperti kebanyakan wanita sunda,
tapi kulitnya mulus tak bercacat. Sebenarnya aku gak tau pasti
gimana kulit ditubuhnya, tapi yang pasti kulit yang membalut betis
indahnya mulus tak bercacat, aku bisa memastikan itu sebab aku
sering mengagumi betis bulir padi itu saat tante lia keluar rumah
memakai celana selutut kesayangannya. Tubuhnya tidak terlalu gemuk
tapi juga tidak terlalu kurus, makanya payudara sedangnya sangat
cocok mengimbangi pinggul dan pantatnya yang sedikit tonggeng.
Tapi selain fisiknya yang memang cantik dan berbody aduhai, tante
lia punya sesuatu yang memancar dari dirinya. Mungkin kalau orang
bilang tante lia punya inner beauty yang sangat kuat. Senyum selalu
menghiasi bibir mungilnya, keramahannya menanggapi lawan bicaranya,
tawa lepasnya yang segar dan keanggunannya menghela rambut yang
selalu dibiarkan terurai itu... Hmmmm... sosok wanita idaman setiap
pria.
Sebenarnya tante lia punya seorang anak perempuan yang bernama sarah
yang sudah duduk di kelas 2 SMU. Jelas sarah mewarisi kecantikan
ibunya, tapi inner beauty tante lia memang susah untuk ditandingi.
Aku sangat akrab dengan tante lia, sebab selain memang bertetangga,
dulu aku berusaha untuk mendekati sarah dari ibunya . Tapi
sepertinya usaha itu gagal. Hubunganku dengan sarah gak lebih dari
cuma say hello, tapi sebaliknya dengan ibunya, tante lia senang
sekali mengajak aku mengobrol. Bahkan tante lia melarang aku untuk
membayar iuran warga yang memang ditanganinya untuk beberapa bulan
sekaligus. Aku diwajibkan untuk membayar per bulan. Alasan dia sih
untuk ngembangin silaturahmi, makanya setiap aku membayar iuran
warga, pasti tante lia mengajakku mengobrol terlebih dahulu,
hasilnya minimal 1 jam aku tertahan dirumahnya.
Dua bulan lalu, saat aku hendak membayar iuran warga, aku mendatangi
rumah tante lia. Aku mendapati rumahnya kosong.
"Pada kemana tan ?" tanyaku saat kami mengobrol diruang tamu.
"Oh... Sarah sama papanya lagi ke sukabumi, kerumah neneknya" jawab
tante lia.
"Kok tante gak ikut ?" tanyaku. "Maunya sih, tapi besok ibu-ibu pkk
ada kegiatan, gak enak kalo tante gak dateng" jelas tante lia. Aku
cuma mengangguk tanda mengerti.
Setelah itu kami mengobrol seru seperti kebiasaanku kalau berkunjung
kerumahnya. Sampai tante lia menanyakan hal pribadi padaku.
"Rian, kapan nih kamu menikah ?" tanya tante lia menyelidiki.
"He..he..he.. kapan ya tan ?" jawabku setengah becanda. "Masih belom
punya calon nih tan" lanjutku.
"Ah masa sih kamu gak punya calon. Kan kamu lumayan ganteng, materi
juga udah lumayan, mo nunggu apa lagi" tanya tante lia lagi.
"Maunya sih secepetnya, udah gak tahan" jawabku sambil tertawa,
tante lia ikutan tertawa. "Tapi mo gimana lagi, emang belom ada
calonnya" kataku meneruskan.
"Emang kamu mo cari cewek kayak gimana ?" tanya tante lia. "Kayak
gimana ya ? Mungkin kayak tante lia ini lah" jawabku bercanda.
Sebenernya aku berharap dengan jawaban itu tante lia mau menawarkan
anaknya sarah ke aku . Tapi jawaban sungguh diluar dugaan.
"Kayak tante ??? Emang tante masih cantik ya sampe brondong kayak
kamu mimpiin dapet istri kayak tante" jawab tante lia sambil
tersenyum genit.
Sebenarnya aku sedikit kecewa atas reaksinya, tapi berhubung sudah
terlanjur, aku teruskan saja. "Tentu aja tan, cowok mana sih di
kompleks ini yang gak ngakuin kalo tante perempuan paling cantik
disini" kataku sedikit menggombal
Tante lia terseyum kecil, mukanya sedikit memerah, mungkin dia malu.
"Masa sih Rian, tante kan udah tua" kata tante lia.
"Hmm.. walau tante udah punya anak gadis, tapi menurutku tante masih
terlihat seperti anak gadis. Jujur kalo melihat tante sama sarah,
saya sering menganggap tante adek kakak sama sarah" lanjutku, dalam
hati aku heran kenapa aku jadi merayu gitu.
"Masa sih tante masih kayak anak gadis, badan tante udah kendor
sana-sini begitu" jawab tante lia yang kemudian berdiri dan
memperhatikan tubuhnya sendiri. Dasternya ditarik kebelakang agar
melekat ketubuhnya, hasilnya tubuh aduhainya tercetak. Terlihat
jelas lekuk pinggul dan dadanya. Kemudian dia berputar-putar sambil
mengamati tubuhnya, tentu aja mataku juga ikut mengamati atau lebih
tepatnya menikmati tubuhnya. Apalagi karena dasternya ditarik,
terlihat pangkal pahanya yang putih mulus. Mungkin kalau ditarik
sedikit lagi celana dalamnya juga ikut terihat.
"Gak usah khawatir tante. Tante emang gak kalah sama anak gadis.
Jujur aja saya juga sering bayangin tante sebelum tidur..." damn...
aku nyesel banget ngomong kayak gitu, tapi wtf lah, udah terlanjur
"Masa sih kamu bayangin tante ?" tanyanya dengan muka tidak percaya.
"Masa sih tante bisa merangsang kamu ?" tanya lagi. Aku cuma terdiam
malu.
"Tapi kamu gak usah jawab deh, tuh adek kamu udah ngejawab sendiri"
kata tante lia sambil ketawa. Damn, gundukan penisku yang menegang
dibalik celanaku ternyata terlihat sama dia aku cuma tersipu malu.
"Gak usah malu gitu yan" kata tante lia yang kemudian duduk
disebelahku. "Kamu kan udah gede, wajar kalo terangsang sama cewek"
lanjut tante lia yang kemudian mengelus penisku dari luar celana.
Aku menepisnya, tapi sayang tangan tante lia sudah mencengkram
penisku dari luar.
"Hmmm... punya kamu gede juga ya" kata tante lia yang kemudian
meremas-remas penisku dan sesekali mengocoknya, aku meringis
keenakkan.
Setelah beberapa lama, aku berkata "Udah tan, nanti ada orang"
katakuku dengan agak gugup, soalnya ruang tamu ada dibagian depan,
orang bisa aja tiba-tiba melongok melalui jendela.
"Ya udah, kalo gitu kekamar tante yuk" ajak tante lia. Aku cuma
terdiam. "Kalo mau, tante tunggu didalam ya" ajaknya sambil
tersenyum genit. Kemudian dia berdiri berjalan menuju kamarnya.
Sesaat aku terdiam, jujur dalam hati aku ingin segera menyusulnya,
tapi dipikiranku masih ada yang mengganjel. Ada sesuatu yang
melarangku mengikutinya kekamar. Tapi pikiran itu gak lama, nafsuku
menguasai semua pikiranku. Aku segera beranjak.
Aku buka perlahan pintu kamarnya dengan sangat gugup. Setelah dibuka
aku melihat tante lia sedang duduk dipinggir tempat tidurnya sambil
membuka-buka majalah. Melihat aku masuk tante lia tersenyum senang
kemudian berdiri menyambutku.
"Tante kira kamu gak mau" kata tante lia yang kemudian memelukku.
Aku membalas memeluknya erat sambil mengelus-elus punggungnya.
Sambil memeluk aku cium keningnya. Menerima kecupanku, dia
memandangku mesra, kemudian meyodorkan bibirnya sambil matanya
terpejam. Melihat gerakannya, aku mengerti, aku kecup bibirnya
lembut. Kecupannku diikuti oleh kecupan-kecupan lain dibibirnya.
Awalnya ciumanku ke bibir mungil tante lia pelan dan lembut. Tapi
lama-lama ciuman itu menjadi lebih liar, apalagi aku dan tante lia
saling menggesek-gesekan tubuh satu sama lain. Saat lidahku
menelusuri rongga mulut dan lidahnya, tanganku tak lupa penyelusuri
tubuhnya. Awalnya tanganku mengelus-elus punggung dan rambutnya.
Tapi kemudian tanganku turun ke pantatnya. Aku meremas-remas pantat
bulat tante lia dan sesekali aku mendorong pantat itu agar
kemaluannku tergesek dimemeknya. Walau masih dari luar tapi cukup
membangkitkan birahi.
"Crop.............Crooop.........Croooop" cuma suara itu yang
terdengar mengiringi sedotan-sedotan ciuman kami. Kadang tante lia
menggumam kecil saat pantatnya ditekan kearah penisku.
Sambil berciuman, aku dorong tubuh tante lia kearah tempat tidur.
Saat kakinya menyetuh pinggir tempat tidur, tante lia terduduk. Aku
tidak melepas ciumanku, aku terbungkuk mengikuti tubuhnya. Aku
dorong tante lia lagi ketengah tempat tidur, sebab aku ingin
bercumbu sambil tiduran. Tante lia mengerti, dia bergeser ketengah
tempat tidur dan terlentang disana. Aku segera menindihnya dan
meneruskan ciumanku.
Pada posisi yang lebih menguntungkan itu, aku mengarahkan tanganku
kepayudaranya. Aku meremas daging kenyal itu. Hmm.... benar-benar
masih kencang payudara tante lia !
Setelah meremas-remas payudaranya beberapa kali, aku menarik
dasternya keatas, dan tanganku mulai meremas payudaranya dari luar
BHnya. Untung dia pakai BH yang lembut, sehingga remasanku bisa
maksimal walau masih dari luar.
Aku mengangkat BH tersebut keatas, terlihatlah kedua puting hitam
tante lia. Ciuman aku pindahkan dari bibir ke puting sebelah kanan.
Sambil menyedot dan sesekali menjilat puting kanan, payudara kiri
tante lia aku remas-remas. Kadang aku hanya memutar-mutar puting
kiri tersebut.
Bosan dengan yang kanan, aku berpindah ke yang kiri. Selama aku
menyedot-nyedot payudaranya tante lia hanya merem-melek keenakkan.
Bibir bawahnya digigit, entah mengapa, mungkin supaya suara dia
tidak keluar. Sambil memegangi BHnya supaya tidak turun, tante lia
mulai meracau. "Ah..ah..ah.. enak sayang, enak..."
"Klik..." aku buka pengait BH yang ada dibelakang tubuhnya. Segera
setelah itu aku dorong daster beserta BHnya keatas dan melepasnya.
Makanya aku suka banget cewek pake daster, gampang banget dibugilin
Setelah dasternya tersingkir, tante lia merems-remas sendiri
payudaranya, sambil menatap lemah padaku seakan berharap mulutku
menggantikan peran tanggannya. Aku menanggapinya dengan menciumi
lagi pentil payudaranya, bergantian kiri dan kanan
"shhh.....ahhhh....ahh...." cuma itu yang terdengar dari mulut tante
lia.
Tangan tante lia kemudian menarik kaosku keatas, dia berusaha untuk
membukanya, aku membantunya, aku lepas kaosku. Setelah kaosku
terbuka aku menindih lagi tubuh dan mencium bibirnya sambil
menggesekkan dadaku ke payudaranya. Tapi tante lia yang sudah
tinggal CD itu tidak berhenti, dia membuka ikat celana pendekku dan
mendorongnya kebawah. Aku buka celana pendekku sehingga kami
sama-sama tinggal celana dalam.
Aku menindihnya kembali dan mencium bibirnya. Tanganku tidak lupa
bergerayangan meremas-remas payudaranya. Dengan hanya celana dalam,
aku menggesek-gesekkan penisku yang sudah tersembul sedikit ke
vaginanya. Tante lia meresponnya dengan menggerak-gerakkan
pinggulnya.
Tanganku yang meremas-remas payudaranya sesekali mengelus tubuhnya
dari atas kebawah. Sampai bawah, aku elus-elus paha dalammnya agak
lama. Kata orang paha dalam termasuk darah sensitif diluar vagina.
Beberapa kali mengelus-elus paha dalamnya, aku naikkan elusanku
kearah selangkangannya. Saat menyentuh cdnya, terasa cd tersebut
sudah basah dan lembab. Sepertinya tante lia sudah terangsang hebat.
"Ah...ah..ah... " rintih tante lia saat aku mengelus-elus vaginanya
dari luar. Tanpa diduga tante lia membalasnya dengan menarik penisku
keluar. Dengan mengocok penisku tante lia membuka cdnya dari
pinggir. Kemudian dia mengarahkan penisku ke vaginanya.
Aku mengerti maksudnya. Dengan satu tangan dia masih menahan cdnya
dari samping. Aku menyapukan kepala penisku ke permukaan vaginanya,
terasa sudah basah disana. Kemudian aku menekan sedikit penisku
kevaginanya. "Agh..... ayo sayang masukin" kata tante lia. Kemudian
aku mendorong lagi hingga masuk semuanya. "Ohhhh.. enak banget
sayang, enak banget sayang" tante lia meracau sambil memejamkan
matanya. Kepalanya terdongak saat aku masukkan penisku seluruhnya.
Sebenarnya lucu juga posisi kami saat itu. Aku dan dia masih paka
celana dalam !! udah gak tahan lagi soalnya
Aku mulai memaju mundurkan penisku. "aghhhhh....aghhh....agh..."
rintih tante tergetar menerima pompaanku. Karena keenakan tante lia
melepaskan pegangan celana dalamnya sehingga menjepit penisku dari
samping. Aku berhentikan pompaanku. Saat aku berhenti tante lia
menatapku dengan tatapan marah, sepertinya dia tidak rela pompaanku
terhenti. "Sebentar tante, kita buka celana dalam aja, sakit
soalnya" Aku segera bangkit melepaskan cdku dan cd tante lia yang
terkulai.
Selesai membuka cd aku posisikan badanku diantara selangkangannya
yang terbuka lebar. Dengan tanganku aku mengarahkan penisku ke
vaginanya. Saat tepat didepan vaginanya, aku dorong penisku kencang.
"Hghghhhhh...." rintih tante lia saat penisku masuk ke memeknya.
"Enak yan... kontol kamu gede banget" katanya sambil melingkarkan
kakinya ketubuhku. Aku mulai lagi pompaanku. Kadang aku pompa cepat,
kadang aku pompa lambat. Kadang saat pompanku lambat, tiba-tiba aku
dorong keras. Tante lia cuma bisa merintih-rintih keenakan sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya kesana kemari.
"Kamu hebat ya, kamu udah gagahin aku" kata tante lia disela-sela
pompaanku. Aku cuma tersenyum, aku sedang berkonsentrasi menikmati
gesekkan penisku di dinding vaginanya.
"Sebentar ya, aku mo pipis" tiba-tiba kata tante lia. "Mo pipis apa
emang mo orgasme" tanyaku sedikit kecewa. "Enggak yan, emang mo
pipis" jawab tante lia. wah payah nih, masa ada interupsi begitu.
Aku cabut penisku dari memeknya dan bangkit. Tapi dia masih tiduran.
"Katanya mo pipis tan ?" tanyaku kecewa. "Gendong dong ya..."
katanya manja. Hmm.. sebenernya aku sedikit marah, tapi akhirnya aku
gendong juga. Secepetnya dia pipis, secepet itu juga ngentotnya
dilanjutin kan ?
Aku mengangkatnya dan menggendongnya dengan mendekapnya didepan,
tangannya dikalungkan keleherku sedang kakinya dilingkarkan
ketubuhku. Penisku tepat dibawah vaginanya, tapi tidak dimasukkan.
Baru beberapa langkah tante lia berkata "Kok gesekan kontol kamu
enak banget sih yan, masukkin dong" katanya manja. Penisku yang
memang masih berdiri tegak aku arahkan ke vaginanya. Dia mengangkat
tubuhnya sedikit agar aku mudah memasukkan penisku. "Ahhhh..."
rintihnya panjang saat penisku masuk ke memeknya. Tapi kemudian dia
malah menaik-turunkan tubuhnya sehingga penisku dan memeknya
bergesekkan lagi.
"Katanya mo pipis ?" tanyaku sambil menahan nikmat. "Entar deh yan,
lagi enak banget." jawab tante lia nakal.
Akhirnya aku bawa tante lia kembali tempat tidur, kurebahkan
dipinggir. Dengan tetap penisku di vaginanya aku bawa tubuh tante
lia ketengah. Aku pompa lagi memek tante lia, aku memompa maksimal
agar kita sama-sama orgasme sebelum dia mo pipis lagi. Tapi baru
beberapa tusukan tubuh tante lia menegang dan vaginanya terasa
banjir. dia menggigit bibirnya.
"Tante dah sampe ya..." tanyaku. "Iya..." katanya malu. "Maaf ya
tante duluan" Aku pompa lagi memek tante lia. Dengan cairan
vaginanya yang banyak, memeknya terasa licin dan nikmat.
"Crot..crot..crot" tak lama akupun menyemburka spermaku ke
vaginanya.
Tubuhku ambruk memeluknya, tapi kemudian posisi kemi bertukar, dia
tiduran diatas dadaku. Akupun mengelus-elus kepalanya mesra.
"Rian... kenapa sih kamu susah banget ngerti kalo tante suka kamu.
Dari dulu tante udah pake baju seksi depan kamu, tapi kamu gak
respon" tanyanya sambil tiduran didadaku.
"Ya udah, yang penting sekarang tante tau kalo aku sayang tante"
jawabku sambil mengecup kepalanya. Dia membalas dengan mencium
dadaku. Kemudian kami berdua tertidur.
|
|
|
|