|
London, Once upon a time, not so long ago.
Deringan keras jam weker antik menyatu di epilogue mimpi
indahku. Perlu beberapa menit untuk benar-benar menyadari bahwa deringan
itu adalah suara weker, bukannya dering telepon yang kudengar dalam mimpi.
Setelah mata ini benar-benar terbuka, dering keras itu sudah berhenti.
Hm... rasanya malas sekali untuk bangkit meninggalkan kasur tua yang tergeletak
begitu saja di lantai apartemen kumuh ini. Apalagi melepaskan pelukan
hangat sahabatku, Matthew, yang semalaman telah bekerja keras untuk menghangatkan
aku yang sebenarnya agak 'alergi' pada pria ras kaukasoid. Ah, rasanya
lebih enak baring-baring dulu beberapa saat sambil memejamkan mata.
"Sari, semalam kamu janji untuk tidak meng-extend waktu tidur kamu
di hari kerja kan?" Terdengar suara wanita dengan aksen Irlandia
di telinga kananku.
"Aww, Belle... cuma beberapa menit saja kok." Jawabku dengan
malasnya.
"Oh? Apa kamu lupa dengan keluarga angkatmu yang sedang menunggu-nunggu
di negaramu?" Terdengar lagi suara itu.
Mataku berkejap-kejap sesaat. Terbayang wajah adik angkatku, mama angkatku,
dan semuanya yang harus segera kujumpai kembali. Memang kehangatan pelukan
Matthew cukup menghanyutkan dan dinginnya udara London membuat siapapun
dari Indonesia akan memilih untuk diam di ranjang, tapi kali ini kekuatan
impian lebih mendominasi. Sejenak mataku terpejam rapat, dan hatiku berteriak
keras pada diriku sendiri, mengingatkanku akan tujuan-tujuan 'mulia'-ku
dalam perantauan liar ini. Akhirnya aku menyingkirkan tangan Matthew yang
masih mengalungi pinggangku, kusingkirkan juga selimut tebal yang nyaman
ini, dan aku bangkit berdiri.
Sejenak aku menggerakkan badan untuk melemaskan otot, memandangi seisi
ruang apartemen yang kusewa secara patungan bersama tiga orang teman.
Tampak Isabelle, teman yang tadi membangunkanku itu sedang mengemasi tas
kerjanya. Wanita Irlandia ini adalah contoh sempurna kaum imigran yang
bertekad memburu impian di kota besar. Ah, konyol juga dia, seharusnya
dia memilih tempat yang lebih hidup daripada kota tua yang sudah sekarat
ini. Di sudut lain ruang seluas 6 x 8 meter itu tampak temanku Albert
sedang menyiapkan sarapan. Pemuda yang setanah air denganku ini lain lagi
ceritanya dengan Belle. Ia dikirim oleh orang tuanya kemari untuk kuliah,
namun sebelum kuliahnya usai, keluarganya berantakan. Uang kiriman pun
ikut berhenti mengalir, sehingga ia harus merubah pola hidupnya jadi semi-gelandangan
seperti kami yang ada di apartemen kumuh ini.
Sahabatku Matthew? Ah, ia hanyalah seorang yankee. Seperti umumnya para
yankee (orang amerika) muda lainnya, pikirannya kekanakan dan dipenuhi
impian bertualang keliling dunia dengan penghasilan minim. Impian konyol
itu pula yang membuatnya terdampar di tempat ini dengan cara demikian.
Tentu saja kenekatannya di beberapa kasino juga ikut berperan dalam stage
hidup yang sedang dilaluinya ini.
Aku melangkah ke sudut lain ruangan, dimana sebuah kamar mandi dan toilet
kecil terpasang secara nyaris darurat di sana. Ketika melewati sebuah
cermin besar yang agak retak di atasnya, sempat aku melenggok sebentar,
mengamati tubuh ramping yang hanya terbungkus kaos oblong tipis dan celana
dalam yang agak lengket di bagian depannya. Hmm... aku benci melihat diriku
dengan rambut yang sudah panjang melebihi bahu. Tapi lihat kedua tungkai
itu, panjang dan lencir menyangga sebuah pinggul ramping yang bersambungan
dengan pinggang dan perut yang datar, juga leher itu... hmm... aku memang
sama sekali tidak jelek, pikirku.
"Sudah cepat mandi sana!" Kata Albert membuyarkan ritual 'mengagumi
diri' yang sudah kulakukan sejak kecil ini.
"Kenapa emang?" Jawabku setengah menggoda, "Pengen mandi
bareng?"
"Boleh aja." Seru Albert sambil menyambar handuk yang diletakkannya
di samping kompor.
"Apa sih yang kalian omongin?" Tanya Isabelle yang tidak mengerti
bahasa Indo kami.
Aku dan Albert hanya diam melihat ke arah Isabelle sambil sama-sama mencangking
handuk dan sikat gigi.
"Mandi pagi?" Tanya Belle, "Gila, bangsa kalian adalah
bangsa paling rajin mandi."
Aku hanya tersenyum kecil dan melangkah masuk ke kamar mandi, diikuti
dengan Albert.
"Dan selama ini aku pikir negara kalian berisi orang-orang alim yang
religius!" Lanjut Belle mengomentari kegiatan mandi bersama itu.
"Kamu jadi menerima tawaran di Picadilly?" Tanya
Albert sambil melucuti pakaiannya.
"Nggak tahu." Jawabku sambil berusaha melepaskan celana dalamku
yang lengket pada rambut-rambut disitu karena ada cairan mengering, "Aku
lihat kondisinya dulu."
"Nice body." Jawab Albert sambil tersenyum berkacak pinggang
melihat tubuh telanjangku.
"Thank you." Jawabku singkat memutar kran shower.
"Hrrrggggghhhhh!!!" Seru kami bersamaan mencoba menahan dinginnya
air shower yang menyemprot.
"Belle, The Heater!" Teriak Albert keras-keras.
"Oops, sorry!" Terdengar jawaban Isabelle dari luar kamar mandi.
Setelah beberapa detik air shower mulai hangat dan nyaman.
"Thanks!" Teriakku berterimakasih pada Belle yang telah rela
mengalihkan gas dari kompor ke pemanas air.
"Semalam capek nggak?" Tanya Albert di tengah-tengah
kesibukan kami membersihkan badan.
"Nggak... Kenapa emang?" Jawabku sambil tidak melihatnya karena
aku sedang berdiri di bawah shower membiarkan air hangat menyirami wajahku.
Albert tidak menjawab, tiba-tiba aku merasakan ia mendekap tubuhku dari
belakang.
"Hey!" Aku menjerit kaget, "Ntar keburu siang, lho!"
"Cuman sebentar kok." Jawab Albert sambil menarikku dari bawah
shower. Kini terpampang di hadapanku tubuh telanjangnya yang kurus namun
berotot liat, masih berlumur busa-busa sabun.
"Mau nggak?" Godanya sambil tangannya menyabuni kedua pinggangku.
Aku menatapnya dalam-dalam, dan mengangguk pelan. Lalu bersandar di dinding
porselen dingin itu, mempersilakannya.
Tubuhnya terasa hangat dan licin oleh busa sabun. Pelukan licin itu rasanya
menyenangkan sekali, nikmat dan geli. Apalagi ketika ia mulai meraba-raba
sekujur badan ini dengan tangan yang berlapis sabun. Mmmm... tidak memerlukan
waktu lama baginya untuk membuat kedua puting susuku menegang dengan jemari
licinnya. Di kedua puting susu yang tegang ini ia menjentik-jentikkan
jarinya. Uhh... geli sekali. Aku menggelinjang kegelian dibuatnya. Dengan
cepat salah satu telapak tangannya menuruni perutku dan tiba pada pangkal
pahaku. Aku pasrah saja ketika sahabatku ini mengoyak-ngoyak bibir kewanitaanku
dengan jarinya. Aduhhh... wanita mana yang tahan jika puting susu dan
kewanitaannya dimainkan dengan jari-jari licin seperti itu. Aku terduduk
di lantai lembab kamar mandi itu dengan kedua tungkai jenjang ini mengangkang
lebar. Karena tak banyak waktu, Albert langsung ikut duduk dan menarik
tubuhku ke atas pangkuannya. Aku memeluknya erat-erat ketika kejantanannya
dengan licin dan mudah melesak ke dalam tubuhku. Akkh... Sejenak aku terlarut
dalam kenikmatan yang luar biasa ketika tubuh-tubuh licin kami bergesekan
cepat. Aku ingin memulai hari ini dengan segar dan nikmat, hingga aku
menggerakkan tubuhku dengan liar di atas tubuh Albert yang rupanya cukup
kewalahan menahannya. Uhhk... kugesek-gesekkan puting-puting susuku pada
dadanya yang licin oleh sabun itu, kugerakkan tubuhku naik turun dengan
cepat agar kejantanannya makin terasa menggerus-gerus kewanitaanku. Nggh...
nikmaaat sekali rasanya. Uuhhh.... Ohhh... Aku merintih dan mengerang
keras-keras merasakan nikmatnya persetubuhan ini, sekaligus ingin membuat
iri Belle yang bisa mendengar dengan jelas dari luar kamar mandi. Namun
seperti biasanya, Albert tidak pernah memegang teguh sopan santun bangsa
setempat yang mengatakan "Ladies First", ia buru-buru menarik
keluar kejantanannya dan mengeluarkan isinya di lantai kamar mandi.
"Ohh... sial." Bisikku menggerutu.
Tapi sahabatku ini juga bukan seorang pria egois. Yang aku sukai padanya
adalah kerelaannya untuk membuat wanita ikut 'tiba' pada tujuan. Ia dengan
sigap (seperti biasanya juga) memeluk tubuhku dari samping kanan dan menyelipkan
(dua?) jarinya kedalam tubuhku dan mengocokkannya di dalam sini sambil
mengulum puting susu kananku. Enggghhh... ia begitu terampil melakukan
yang seperti ini, aku menggelepar-gelepar keenakan diperlakukan seperti
itu, hingga tidak perlu waktu terlalu lama untuk membuat tubuhku mengejang
bergelinjangan sebelum akhirnya terkulai lemas dalam pelukannya.
"Thanks." Bisikku ketika menerima kecupan di kening.
"Sama-sama." Jawabnya balik.
Stasiun underground Bakerstreet tergolong paling ramai
pada jam-jam rush-hours seperti pagi ini. Aku ikut berjajar dengan penumpang
lain menunggu kereta jalur Bakerloo bersama dengan Isabelle. Sementara
Matt dan Albert mengambil jalur Jubilee yang akan membawa mereka ke tempat
kerja mereka di West Hampstead.
"Kamu serius mau menerima tawaran di Picadilly?" Tanya Belle
di sela-sela penantian ini.
"Not really." Jawabku singkat, "I'm checking it out."
Pembicaraan kami terhenti saat kereta tiba dan kami berdesakan masuk.
Di negara dengan bangsa setua ini adalah keuntungan untuk menjadi wanita,
karena sejelek apapun model pria Inggris, mereka akan dengan ramah mempersilakan
kami duduk dan mengorbankan diri untuk berdiri. Itu juga yang terjadi
pada aku dan Isabelle.
Dalam perjalanan agak panjang itu, Isabelle menasehati aku agar tidak
gegabah menerima tawaran kerja di Picadilly dan meninggalkan pekerjaan
lamaku sebagai tukang bersih-bersih stadion Wembley. Ia juga berkhotbah
agar aku lebih berkonsentrasi pada 'kuliah'-ku yang sebenarnya sudah kuselesaikan
beberapa bulan lalu. Ah, orang di level dia memang kolokan. Mereka hanya
berpikir pada jobsecurity dan bukannya 'hasil akhir'. Untuk hal-hal seperti
ini, aku merasa orang Indonesia lebih unggul daripada orang Eropa. Sejak
tahun segitu pun persentase orang Indonesia yang berwiraswasta sudah lebih
tinggi dari Eropa.
"Jaga diri baik-baik, Sweety!" Ujar Belle sambil mengecup pipi
kananku ketika ia turun di stasiun Oxford Circus meninggalkanku yang akan
meneruskan sampai ke Picadilly Circus. Kereta kembali jalan, dan disampingku
duduk seorang ibu-ibu muda dengan bayi yang tidak berhenti menangis sampai
di stasiun berikutnya.
Lega rasanya terlepas dari siksaan tangisan bayi yang menjengkelkan
itu. Kini aku berada di bundaran Picadilly, berjalan di trotoar merasakan
dinginnya udara London. Huh, raincoat biru muda ini memang tidak becus
menahan suhu, dulu aku membelinya hanya karena pertimbangan warna dan
diskon, kini aku tahu kenapa orang Inggris lebih memilih warna-warna mati
seperti maroon tua, hitam, coklat tua, atau biru tua. Alasannya adalah
karena bahannya lebih tebal (juga harganya!).
Ah, itu dia tujuanku, pub CH, yang cukup terkenal di lingkaran Picadilly
ini. Di pintu masuknya tampak sebuah poster berukuran sedang bertuliskan
'Featuring: Oriental Strippers, Experience the Asian Myth and Myst!' Sesaat
aku memandangi poster bergambar beberapa wanita Asia berpakaian minim
sambil tersenyum ramah. Hm... mungkin Isabelle benar, pikirku, aku harus
berpikir dua kali untuk menerima tawaran ini.
"Selamat pagi, Sir." Sapaku ramah pada seorang pria berwajah
Italia yang kutemui setelah menunggu sekitar setengah jam.
"Selamat pagi, Nona L" Sapa pria itu ramah menyebutkan nama
belakangku. "Panggil saja aku Frank."
"Kami sudah mempelajari berkas-berkas Anda, dan kami pikir..."
Frank berhenti sejenak.
"What's wrong?" Tanyaku, "Apakah saya tidak masuk kualifikasi?"
"Justru sebaliknya." Ujar Frank, "Apakah Anda tidak rugi
mengisi posisi seperti itu dengan 'kertas' yang Anda miliki?"
Rupanya pria itu tidak terbiasa dengan pola lamaran kerja orang Indonesia
yang selalu menyertakan semua ijazah dalam surat lamaran, termasuk yang
tidak ada hubungannya dengan pekerjaan itu.
"Saya rasa tidak." Jawabku, "Saya hanya butuh uang."
Tambahku terus terang.
"Setelah mempertimbangkan dengan beberapa teman, kami menawarkan
posisi lain padamu." Ujar Frank lagi, yang kusambut dengan berjingkrak
riang dalam hati.
Posisi yang ditawarkan padaku (dan langsung kusetujui) adalah sebagai
stage manager untuk sebuah kelompok stripper bernama Orient Dolls, yang
berisi sejumlah gadis Asia berusia muda yang tugasnya meliuk-liuk di panggung
pub sambil melepaskan busana satu per satu. Pekerjaan yang sederhana meski
cukup melelahkan, yang penting adalah penghasilannya yang belasan kali
lipat dari pekerjaanku selama ini, bersih-bersih stadion Wembley. Setelah
menandatangani kontrak yang tidak kubaca seluruhnya, Frak memperkenalkanku
pada Agnes, seorang wanita cantik berkebangsaan Thailand yang rupanya
adalah leader dari kelompok stripper itu. (Tokoh ini pernah muncul pada
serial The Huntress: A story behind our business part2). Setelah berbincang-bincang
sejenak, kami pun mulai akrab. Agnes menjelaskan banyak tentang tugasku
untuk memastikan bahwa show berjalan sesuai skenario, tentang apa yang
harus dilakukan jika jadwal meleset, dan banyak lagi. Rupanya hanya untuk
sebuah show striptease seperti ini saja, penggarapan mereka sangat profesional.
Hari itu juga aku berkenalan dengan Vincent, seorang Afro kulit hitam
dengan tinggi lebih dari dua meter, yang nantinya akan menjadi seorang
'juruselamat' bagiku di kota itu (Baca lagi The Huntress: A story behind
our business, part1 dan part2).
"Di posisi seperti kamu, tugasmu hanya memastikan acara berlangsung
lancar." Ujar Agnes, "Dan itu menguntungkanmu!"
"Kok bisa?" Tanyaku.
"Ya, karena kami yang harus menari tidak bisa leluasa mencari 'kerja
sampingan' seperti kamu." Jawabnya datar.
"Kerja sampingan?" Tanyaku, "Maksud kamu?"
"Aww, Momma-Gal, ini adalah bisnis hiburan malam." Jawab Agnes
seolah menyuruhku membiasakan diri.
"Oh, I get it." Jawabku setelah mengerti bahwa kerja sampingan
yang dimaksudkannya adalah melayani tamu 'di luar pub'.
Dalam hati aku menyumpah-nyumpah, karena sejak remaja aku sudah berjanji
untuk tidak menjual diri meski kepepet. Aku memang hidup bebas, tapi bukan
untuk cari duit.
Akhirnya, meski mendapat berbagai nasehat dari teman-teman seapartemen,
aku memulai pekerjaanku dengan lancar. Aku cukup bahagia dengan penghasilan
saat itu, juga dari tips yang diberikan para pengunjung hidung belang
yang memintaku membuat janji dengan salah satu stripper. Hehe, memang
cara jitu untuk menghindari permintaan ke ranjang dari para tamu adalah
dengan mengalihkan sasaran ke para stripper. Tamu-tamu yang umumnya mabuk
itu lebih mudah tergoda pada penampilan 'polos' para stripper itu dibandingkan
dengan setelan rapi yang kukenakan pada jam kerja. Menyenangkan sekali
suasana itu, sampai teman-teman seapartemen yang tadinya melarangku bekerja
disitu juga mulai sering berkunjung ke pub CH sambil membawa teman-teman
mereka yang lain. Hal seperti itu secara tidak langsung membuat reputasiku
di mata Frank, manager pub, mulai naik. (Dan saat itulah awal dari keterlibatan
saya dengan lingkaran setan "La Cosa Nostra" yang pernah saya
ceritakan di episode The Huntress yang dulu-dulu. Semoga pertanyaan para
pembaca yang dulu-dulu itu bisa terjawab juga.)
Semuanya berjalan lancar sampai beberapa lama. Hingga pada suatu malam,
atau tepatnya dini hari, saat aku sedang beranjak pulang dari pub CH,
Frank dan Agnes mengajakku berbicara di coffee shop hotel St Giles, di
Oxford Road, yang tidak terlalu jauh dari situ. Karena merasa bahwa kedua
atasanku itu memperhatikan hasil kerjaku yang bagus dan akan memberikan
promosi atau kenaikan gaji, aku setuju saja. Dan dugaanku pun tidak meleset
jauh. Di coffee shop itu, Frank mengatakan bahwa aku akan segera naik
pangkat dari stage manager menjadi wakilnya.
"Wakil manager pub?" Tanyaku, "That's great."
"I know, Sari." Jawab Frank yang pundaknya digelendoti manja
oleh Agnes, "Tapi aku memikirkan suatu hal."
Dalam hatiku, aku sudah bisa menebak apa yang diinginkan Frank, yaitu
kehangatan tubuhku. Itu sudah dapat kurasakan dari perilaku Frank belakangan
ini, yang selalu meletakkan tangan di pinggangku saat memantau para strippers
di panggung. Namun aku juga tidak terlalu keberatan, karena selain aku
membutuhkan kenaikan gaji itu, di usiaku saat itu jiwa avonturirku masih
terlalu menggebu-gebu. Kapan lagi aku bisa bercinta dengan orang Italia
yang terkenal ganteng-ganteng itu, dimana Frank adalah salah satunya.
"What is it?" Tanyaku meyakinkan.
"Aku dan Agnes ingin merayakan kenaikan posisimu ini bersama denganmu
di kamar." Jawab Frank sambil mengerdipkan mata kiri.
"Oh, I would love it." Jawabku singkat, membuat kedua orang
di hadapanku itu agak kaget meski girang.
Hangatnya suhu kamar kelas satu yang dipesan Frank di hotel
itu terasa sangat nyaman dibandingkan dengan apartemen yang kusewa di
bilangan Bakerstreet. Aku juga tidak protes (bahkan menikmati sekali)
ketika Frank dengan ketrampilan Italianya menciumi tengkukku dari belakang.
Rambutku yang (waktu itu) panjang sebahu disibakkannya ke kiri kanan,
lalu lidah hangatnya menari menebarkan rasa geli di leher ini. Mmmmm...
nikmatnya. Hal yang aku belum terlalu terbiasa adalah ikut sertanya Agnes
dalam permainan itu. Ia berada di hadapanku kini, melucuti satu per satu
kancing kemeja putih yang menempel di badanku sambil sesekali memijit
meremas kedua payudara ini. Jilatan dan ciuman Frank tiba di belakang
telingaku, memberikan rangsangan yang tak terperi. Mmmm... aku menggumam
lirih menikmati. Tanpa kusadari, satu-satunya yang menempel pada tubuhku
hanyalah tinggal kacamata minus yang bertengger di telingaku.
Kupejamkan mata rapat-rapat ketika Frank menggendong dan membaringkan
tubuhku di atas ranjang bulu angsa yang empuk ini. Sejenak kubuka mata,
menatap langit-langit yang berhiaskan ornamen kecil-kecil khas Inggris
klasik. Kubiarkan diriku terhanyut dalam belaian-belaian lembut jemari
lentik Agnes yang kini menjalar-jalar pada kedua pahaku. Kurasakan pula
nikmatnya tangan-tangan kekar Frank meremas-remas pinggangku sambil menciumi
perutku.
"Oops! Kamu jangan ikut bergerak!" Bisik Frank merdu ketika
tanganku meremas otot-otot kekar di dada bidangnya.
"Kamu adalah ratu malam ini, nikmati sajalah." Bisik Agnes menambahkan.
Aku menurut saja, terbaring diam dan menyusupkan kedua tanganku di balik
bantal di bawah kepalaku dan memejamkan mata.
Ohhh... aku menggelinjang-gelinjang kegelian ketika sebuah lidah menari-nari
di bagian dalam pahaku yang agak terentang. Entah lidah Frank atau Agnes,
semuanya terasa hangat, lunak dan lembab membelai-belai badanku yang telanjang.
Terasa lidah-lidah itu menari-nari menggelitik pinggang ini. Sejujurnya,
itu adalah kali pertama aku menyerahkan diri untuk dikerjai lebih dari
satu orang.
Ngggghhhh... Aku kembali mengerang agak keras ketika merasakan apa yang
bagiku terasa paling nikmat sepanjang hidupku. Ketika kedua puting susu
ini sama-sama diselimuti oleh bibir-bibir lembut dan dilumat-lumat bersamaan.
Uhhh... aku tak mampu menahan rasa terangsang yang amat sangat ini...
jari-jariku mencengkeram ujung bantal... keningku mengerenyit ke bawah,
mataku sayu setengah terpejam, gigiku terkatup rapat meski mulutku setengah
terbuka mendesah dengan nafas berat dan tertahan-tahan.
Frank dan Agnes rupanya menyadari perubahan ekspresiku, mereka justru
makin giat menjilat, mengulum, dan melumat-lumat puting-puting susu yang
terasa mengejang kegelian ini. Terasa juga kedua pangkal payudaraku mendapat
remasan-remasan lembut sementara kedua putingnya terus tersayat-sayat
oleh lidah-lidah hangat dan lembut. Aduhhh... aku menggeliat-geliat keenakan.
Nafasku tersengal-sengal, tiap kali aku akan menarik nafas panjang, nafas
ini terhenti oleh sentakan rasa nikmat yang mengalir pada puting susu
ini. Ohh... badan ini rasanya lemas sekali, dan otakku tak kuasa memikirkan
apa-apa lagi selain kenikmatan dan kenikmatan. Kedua puting susu ini adalah
bagian paling sensitif pada badanku, mungkin lebih sensitif daripada liang
kewanitaanku sendiri, agak aneh memang. Aduhhh... rasanya seperti melayang-layang
ketika sambil terus menghisap dan menjilat mereka menceritakan betapa
indahnya kedua puting susu yang kini menjadi merah tua, tegang, dan mengkilap
karena basah oleh liur mereka. Dan mereka tak berhenti menghisap... terus
dan terus... sampai aku harus mendesah lemah memohon mereka untuk sedikit
memberiku waktu menarik nafas. Namun, uhhh, mereka tidak menurut. Aku
menjerit-jerit seperti kerasukan sambil mencengkeram bantal. Kewanitaanku
ini terasa berdenyut-denyut minta diperhatikan. Dari dalamnya, membanjir
cairan kewanitaan yang amat banyak, mungkin sudah membasahi ranjang. Aduuhhh...
aku makin tak mampu mempertahankan diri lagi.
"Ahggggg....." Aku menjerit tertahan ketika tiba-tiba saja gelombang
orgasme menghajarku. Sentuhan sekilas pada klitorisku membuatku meledak
begitu saja, meski kewanitaan ini belum diapaapakan. Sesaat semuanya terasa
putih terang. Namun Frank dan Agnes tidak berhenti. Dengan setengah terpejam
aku menyaksikan bibir tipis Agnes mengulumi puting susu kananku dan jemarinya
menjentik-jentik yang kiri. Sementara kini kepala Frank berada diantara
kedua pahaku, menjilat-jilat dengan buas kewanitaanku yang telah basah
kuyup oleh cairanku sendiri. Ahhh... Aku makin menggelinjang-gelinjang
tak karuan. Tangan-tangan kekar Frank memegangi pinggangku agar gerakanku
tak terlalu merepotkannya. Lidah itu... lidah itu mengoyak-ngoyak bibir
kewanitaanku dengan rakus dan buasnya sampai aku seperti kehilangan kesadaran
dan berteriak-teriak keras.
Agnes tetap menjentik-jentik kedua puting susu ini, mulutnya menghampiri
mulutku. Karena rangsangan yang begitu deras, dan sisa orgasme pertama
yang masih membelenggu kesadaranku, aku tak peduli lagi bahwa itu adalah
bibir sesama wanita, aku segera menangkap mulutnya dengan mulutku dan
kami berciuman dahsyat. Lidah lembut Agnes menerobos ke dalam mulutku,
menjilati langit-langit rongga mulutku hingga aku makin menggelinjang-gelinjang.
Tak tahan lagi, kudekap tengkuknya, kutarik erat-erat kepalanya agar mulutnya
tetap menempel pada mulutku.
Seluruh tubuh ini terasa mengejang menerima sambaran orgasme kedua ketika
Frank menjejalkan kejantanannya masuk ke dalam kewanitaanku. Ohh... baru
kali ini aku merasakan orgasme di awal penetrasi. Mmmm... kejantanan ini
begitu kokoh dan keras rasanya memenuhi seluruh sudut liang kewanitaanku.
Pelan-pelan kejantanan itu bergerak menggesek-gesek. Membangun kembali
rangsangan dalam tubuhku yang telah lunglai terhajar orgasme ini. Agnes
menindih dan memeluk tubuhku dengan hangatnya sambil terus membenamkan
puting-puting susuku bergantian ke dalam mulutnya. Ohhh... dengan setengah
terpejam aku dapat melihat ekspresi wajah Agnes yang juga tampak meringis-ringis
menahan nikmat sambil mengulumi puting susu ini. Rupanya kewanitaan Agnes
sedang mendapat perlakuan yang sama dari Frank, yang juga sedang menyetubuhiku.
Oh... pemandangan ini membuat birahi ini makin tak terkendali. Uhhh...
hisapan pada puting susu ini... tikaman kejantanan Frank pada kewanitaanku,
semuanya terasa berulang-ulang terus... kedua payudara ini terasa berat
sekali, kedua putingku terasa kejang dan kaku namun terus terasa geli
dan nikmat karena dilumat-lumat oleh Agnes... kewanitaanku terasa sudah
tak mampu lagi menerima hunjaman-hunjaman Frank... Aduuhhhh... enak sekali
rasanya badan ini... ngggg.... aku tak mampu lagi bertahan... uhhh...
sedikit lagi... Aghhhhhhhhhhh!!!... disertai dengan erangan panjang, sebuah
orgasme hebat kembali meledak dalam tubuhku. Lalu aku tak lagi mampu merasakan
atau mengingat apa-apa. Kali ini aku benar-benar mengalami yang namanya
jatuh pingsan akibat orgasme. Semuanya putih, lalu hitam dan hangat. Tidak
terlihat atau terdengar apa-apa, hanya kenikmatan dan kenikmatan saja
yang terasa.
Entah berapa lama kemudian, aku mulai tersadar dengan tubuh masih dipenuhi
kenikmatan sisa-sisa dari orgasme-orgasme yang telah menaklukkanku tadi.
Kepalaku masih terasa berat dan sekujur badanku terasa lemas sekali. Aku
melirik ke samping, mendapati pemandangan indah yang lain, Frank sedang
duduk di sofa dengan Agnes di pangkuannya membelakangi. Kedua tubuh itu
bergerak naik turun dengan cepat. Tangan-tangan Agnes mencengkeram pegangan
sofa, tangan-tangan Frank mencengkeram payudara Agnes, pinggul Agnes tampak
menempel erat di depan pinggul Frank. Sekilas sempat kudengar Agnes mengerang-ngerang
keenakan. Lama aku menonton adegan itu dengan tubuh lemas tak berdaya,
sampai akhirnya keduanya berhenti diiringi rintihan Agnes dan lenguhan
Frank. Keduanya mencapai klimaks. Aku merasakan tubuhku masih terlalu
letih setelah apa yang baru saja terjadi padaku. Ingin rasanya bangun
dan bangkit berdiri, namun rasa letih dan sisa-sisa kenikmatan yang ada
membuatku kembali jatuh tertidur.
Semuanya berubah setelah malam itu. Kehidupan malam sempat
menjadi duniaku di sana. Akrab sudah rasanya aku dengan bau alkohol, musik
keras menghentak, geliat sensual para stripper, atau colekan-colekan nakal
dari para hidung belang. Untung (atau sial) bahwa Frank rupanya kurang
puas dengan performance-ku di hotel itu hingga ia tidak lagi pernah mengajakku
'berpesta' bersama Agnes atau strippers lainnya. Ini membuatku sempat
punya banyak waktu sisa untuk mengakrabkan diri dengan orang-orang di
sana, mempelajari struktur kerja dan 'aturan main' di lingkungan baru
itu, termasuk manajemen mereka yang sederhana namun profesional. Secara
sengaja aku berusaha menunjukkan prestasi dan disiplin sebaik mungkin,
agar tabunganku cepat penuh dan aku bisa segera pulang. Harus kuakui,
aku menyesal karena dengan masuknya aku dalam lingkungan ini membuat sahabat-sahabat
yang tadinya se-apartemen mulai menjauh. Mungkin mereka menyayangi aku,
dengan cara memperingatkan agar tidak terlibat terlalu jauh atau mempopulerkan
diri secara berlebihan. Tapi... apakah jika suatu saat aku benar-benar
membutuhkan uluran tangan mereka... mereka akan mampu? Akankah hidup ini
harus ditentukan oleh pemikiran orang lain?
Aku tidak menyesal ketika mendapati tubuhku berpindah dari satu ranjang
ke ranjang lain untuk mempertahankan hidup waktu itu. Bagiku yang penting
adalah hasil akhirnya sekarang ini. Dimana aku berada, dan dimana mereka
berada. Kadang-kadang aku jengkel dengan pendapat orang rata-rata yang
rela mempertaruhkan segalanya hanya demi kemapanan di tempat yang tidak
tinggi. Perubahan memang menyakitkan, tapi kesakitan itulah yang membuat
diri kita dewasa, dan lebih siap menghadapi tantangan pada stage kehidupan
yang lebih tinggi.
Seperti kata pepatah, "Nobody can predict the height you can soar.
Even you will not know, until you spread your wings."
|