|
Murid dan Guru 2: Hadiah Istimewa Untuk Theo - 2 |
Sebenarnya ia telah membuat keputusan itu beberapa hari yang lalu. Bahkan
ingin memberikannya pada saat itu juga. Tapi karena hari ulang tahunnya
yang ke-17 tinggal beberapa hari lagi, ia memutuskan untuk menundanya.
Ia tahu bahwa Theo akan merasa sangat berbahagia menerima hadiah itu. Ia
sadar bahwa lelaki yang selalu memanjakannya itulah orang yang paling
tepat dan berhak untuk mendapatkan hadiah itu. Lelaki yang dengan kedua
bibirnya dapat membuatnya menderita dalam rintihan nikmat. Lelaki yang
telah memberikan arti nikmatnya sebuah cumbuan di pangkal pahanya.
Lelaki yang lidahnya menari-nari pertama kali di vaginanya kira-kira
sebulan yang lalu, yang kemudian secara rutin seminggu dua kali selalu 'mimik'
pipis enak dari pangkal pahanya. Lelaki yang selama sebulan telah
bersabar mencumbu dan dicumbu hanya dengan bibir dan lidah.
'Theo memang lelaki yang sabar dan penuh perhatian', gumamnya ketika
teringat pada cendawan di ujung batang kemaluan Theo. Seolah masih
terasa lembutnya cendawan itu menyusup ke dalam rongga mulutnya.
Cendawan yang terasa mengalirkan kehangatan ketika menyentuh
kerongkongannya, yang membuat ia tersendat dalam nikmat, yang membuat
rasa dahaganya sirna setelah mendapatkan 'mimik' pipis enak dari batang
kemaluan itu, dan yang membuatnya terpejam ketika segumpal lendir panas
tiba-tiba 'menembak' kerongkongannya.
*****
Gadis remaja itu tersenyum manis ketika melihat cahaya lampu mobil yang
mendekati villanya. Tergopoh-gopoh ia menuruni tangga ke lantai 1 dan
setengah berlari menuju halaman. Langkahnya yang cepat membuat pahanya
yang berwarna kuning gading sesekali menyembul dari belahan kimono yang
pakainya. Segera dipeluknya pinggang lelaki itu. Pelukannya yang sangat
ketat seolah menunjukkan kerinduan yang mendalam. Padahal mereka baru
berpisah beberapa jam yang lalu.
Theo menggamit dagu gadis remaja itu, membuat wajahnya yang cantik
menengadah. Lalu ia menunduk dan menggosok-gosokkan hidungnya ke ujung
hidung gadis itu. Dalam keremangan cahaya lampu neon di teras, bibirnya
memagut bibir gadis itu. Dikulumnya bibir mungil itu dengan penuh
perasaan. Ia ingin menunjukkan rasa cintanya yang dalam. Dan ketika
lidah gadis itu menjulur, lidah itu segera dipilinnya dengan lidahnya
sambil dihisapnya dengan lembut.
"Kangen nggak?"
"Kangen banget, Sayang!" jawab Theo sambil mengecup leher jenjang gadis
itu.
"Geli, Theo!"
"Oh ya. Kalau yang ini..?" tanya Theo sebelum mengecup dan menjentikkan
ujung lidahnya persis di bawah dagu.
"Enak..!"
Jawaban itu membuat Theo lebih bersemangat menciumi leher gadis itu.
Sesekali lidahnya menjulur menjilat hingga membuat gadis itu beberapa
kali mendongakkan kepalanya. Lalu ia merasakan kedua belah lengan yang
merangkul pinggangnya berpindah ke lehernya, membuat buah dada gadis itu
menempel ketat ke dadanya. Karena senang dan gemas, kedua telapak
tangannya segera meremas bongkah pantat gadis itu. Bongkah pantat itu
terasa kenyal karena belum sepenuhnya mengembang. Diremasnya berulang
kali. Bahkan sambil meremas, bongkah pantat itu agak ditariknya ke atas
agar ia tak perlu terlalu menunduk ketika menciumi leher.
Debby menyukai tarikan di bongkah pantatnya walau hal menyebabkan ia
harus berjinjit. Tak lama kemudian, karena jari-jari kakinya mulai
terasa kelu, ia menggantung di leher agar dapat melingkarkan kedua belah
kakinya di pinggang lelaki itu. Tumitnya terpaksa menekan pinggul Theo
ketika ia merasakan ciuman-ciuman basah merayap menuju buah dadanya.
Ciuman yang membuat ia beberapa kali melengkungkan punggungnya ke
belakang, memberi ruang yang lebih luas kepada lelaki itu untuk menciumi
buah dadanya. Beberapa menit kemudian, tumitnya menekan lebih keras
karena ia ingin mengangkat badannya lebih tinggi agar ciuman-ciuman itu
segera mendarat di buah dadanya.
Theo menarik bongkah pantat gadis itu lebih tinggi setelah menyadari
bahwa di balik kimono itu tidak ada bra yang menghalangi. Walau kimono
itu belum sepenuhnya terbuka, bibirnya sudah tidak sabar untuk segera
mengecup celah di antara kedua buah dada yang baru mekar itu. Lidahnya
pun mulai merayap dari lekukan bawah hingga ke putingnya yang kecil.
Semakin lama lidah itu bergerak semakin cepat. Menjilati bergantian.
Buah dada kiri dan kanan. Dan ketika merasakan air liurnya telah
membasahi kedua buah dada itu, ia segera mengulum putingnya yang
kemerahan.
"Ooh..! Ooh.., Theo! Aarrgghh..!" desah Debby ketika merasakan puting
dadanya digigit dengan lembut. Dan ketika bibir lelaki itu berpindah ke
buah dada sebelahnya, lalu mengulum dan menjentik-jentikkan ujung lidah
di putiknya, ia mengerang..
"Theoo..! Aargh.., enak!!" Tapi beberapa detik kemudian, ia mendorong
kepala lelaki itu.
"Gendong ke atas dong, Theo," katanya sambil menunjuk ke arah balkon.
Debby tahu bahwa setelah menciumi buah dadanya, guru matematikanya yang
tampan itu akan menciumi betis, lalu paha, dan pangkal pahanya. Dari
beberapa cumbuan oral yang mereka lakukan sejak sebulan yang lalu, ia
pun tahu bahwa kedua betisnya akan mendapat ciuman-ciuman basah bila
cumbuan itu dilakukan di atas tempat tidur. Tapi kali ini ia
menginginkan cumbuan yang agak berbeda. Sesuatu yang berbeda akan
menciptakan sensasi yang berbeda pula, yang akan membuat tubuhnya
menderita dalam kenikmatan berkepanjangan. Ia menginginkan ciuman dan
jilatan basah merayap dari kedua betis hingga ke bibir vaginanya
dilakukan ketika ia sedang berdiri di balkon villa! Walaupun
sesungguhnya ia tak dapat memastikan apakah hangatnya jilatan-jilatan
rakus di vaginanya akan mampu melawan dinginnya embun dan tiupan angin
malam yang menerpa tubuhnya.
Ia merinding membayangkan kenikmatan akibat sensasi yang luar biasa itu.
Merinding karena ia ingin mengalami orgasme dalam terpaan embun putih
dan dinginnya angin malam! Suasana seperti itulah yang diinginkannya. Di
satu sisi ia ingin merasakan dinginnya tiupan angin malam di sekujur
tubuh, dan di sisi lain ia ingin merasakan hangatnya lidah yang terselip
di bibir vaginanya. Sensasi yang luar biasa itu akan membuat tubuhnya
kejang pada saat segumpal lendir orgasmenya akan langsung dihisap oleh
lelaki yang dicintainya itu dengan rakus. Lendir orgasme yang tumpah
ketika ia berdiri menggigil kedinginan dalam selimut embun malam!
Gadis itu merasa melayang ketika Theo menggendongnya menuju balkon.
Vaginanya mulai terasa basah ketika lelaki itu menurunkan tubuhnya
dengan hati-hati. Karena tali kimono yang melilit pinggangnya sudah
kendur, angin malam yang dingin terasa langsung menerpa bagian depan
tubuhnya. Ia mulai menggigil.
"Di sini?"
"Hmm!"
Debby menyandarkan punggungnya ke kusen pintu, lalu memandang ke
sekelilingnya. Putih berkabut. Ia menoleh ke arah rumah penjaga villa di
sudut barat, juga putih berkabut. Walaupun lampu neon di balkon tidak
dimatikan, ia merasa yakin tidak ada orang yang dapat melihat mereka.
Sambil tersenyum, diangkatnya kaki kirinya lalu meletakkan telapak
kakinya di sandaran lengan kursi di sebelahnya. Bagian tengah kimononya,
dari pinggang ke bawah menjadi terbelah dua.
"Di sini, Theo. Puaskan Debby di sini! Sepuas-puasnya, Sayang. Debby
ingin malam ini menjadi malam yang tak terlupakan. Debby ingin pipis
enak di sini. 'Mimik' ya Sayang. Kalau udah puas 'mimik', baru kita
pindah ke dalam. Debby akan beri hadiah istimewa untuk Theo di kamar!"
Theo tertegun. Posisi gadis belia yang disayanginya itu sangat
menantang, membuat ia tak mampu menjawab. Matanya nanar menatap
keindahan kaki yang keluar dari belahan tengah kimono, yang lututnya
tertekuk karena telapaknya menginjak lengan kursi. Mulutnya setengah
terbuka ketika matanya menatap pangkal paha gadis itu. Terkesima. Ia
baru menyadari bahwa tak ada celana dalam mini atau G-string yang
menutupi pangkal paha itu. Dalam keremangan, masih dapat dilihatnya
bulu-bulu ikal halus dan tipis di bagian atas vagina yang segar itu.
"Mau 'kan, Theo?"
"Akan kuturuti apa pun yang Debby inginkan," kata Theo sambil berlutut
di hadapan gadis itu.
Dengan posisi berlutut, betis indah itu berada persis di sebelah pipi
Theo. Dan dengan lembut diusap-usapkannya telapak tangannya ke betis
itu. Semenit kemudian, dibelai-belainya betis itu dengan pipinya. Ia
ingin merasakan kehalusan pori-pori betis itu di pipinya! Lalu ia
mengecupnya. Mula-mula ia mengecup bagian bawah, tetapi semakin lama
semakin naik ke arah belakang lutut. Mula-mula kecupannya kering, tetapi
semakin mendekati belakang lutut, kecupannya semakin basah. Ketika
bibirnya telah terselip di belakang lutut yang tertekuk itu, ia mengecup
sambil mempermainkan ujung lidahnya.
"Geli, Theo!" kata gadis ketika ia merasakan kumis Theo menggelitik
belakang lututnya.
Kedua belah tangannya mendekap dada untuk mengurangi dinginnya terpaan
angin sekaligus untuk menahan agar belahan tengah kimononya tetap
tertutup. Sebaliknya, ia mulai merasakan kehangatan di pangkal pahanya.
Theo memindahkan kecupannya ke betis yang sebelah lagi. Betis itu terasa
lebih kenyal karena berat badan Debby bertumpu pada sebelah kaki. Dengan
sabar, Theo mengecup kembali. Mengulangnya berulangkali. Dan kemudian
mulai menjilat ke arah bawah. Sesekali ia mengecup dengan gemas,
setengah menggigit.
Debby menunduk dengan mata terbuka lebar. Ia merasa senang dan
tersanjung menatap guru matematikanya itu berlutut di antara kedua belah
kakinya. Jantungnya berdebar-debar melihat lelaki yang sabar itu harus
membungkuk agar dapat mengecup betisnya. Ia merasa senang dan
tersanjung. Perasaan itu seolah membongkah dan memberi kehangatan di
rongga dadanya. Membuat dirinya seolah melambung tinggi ke dalam
dinginnya embun malam. Ia pun sangat menikmati hembusan nafas yang
terasa hangat di betisnya. Setiap kali lelaki itu mengecup, seolah
tersisa kehangatan di bekas kecupannya.
Theo mulai menciumi lutut bagian dalam. Sambil mencium, matanya menatap
bibir vagina gadis itu. Walau terlihat samar, tetapi cahaya lampu neon
di langit-langit balkon membuat bibir vagina tampak mengkilap. Pasti
sudah ada sedikit cairan lendir yang terselip di antara bibir itu,
katanya dalam hati. Lalu dengan cepat diterkamnya vagina yang segar itu.
Lidahnya segera membelah, dan bibirnya segera mengisap. Setelah itu,
dengan cepat pula ia menarik kepalanya menjauhi vagina itu. Hanya
sedikit cairan lendir yang terhisap.
Debby memekik karena terkejut. Ia tak menduga Theo akan 'menerkam'
vaginanya secepat itu. Walau hanya sekejap, dalam keterkejutannya,
terkaman itu ternyata mampu mengalirkan kehangatan di sekujur tubuhnya.
Mungkin karena terkejut, sekejap ia lupa pada dinginnya terpaan angin
malam.
"Theo jahat! Nggak sabar ya?"
"Ingat, tak ada setetes pun yang terbuang!"
"Paha dulu!" kata gadis itu sambil mendorong kepala Theo ke arah
pahanya.
Theo menatap keindahan paha yang terpampang di depannya. Paha itu
terbuka lebar dan karena telapaknya terletak di atas sandaran lengan
kursi, dengan mudah ia menciumi dan sesekali menjilatnya karena paha itu
persis setinggi kepalanya. Kulit paha itu terasa dingin di bibirnya.
Lalu diusapkannya wajahnya beberapa kali ke permukaan paha dalam yang
mulus itu. Ia suka merasakan kemulusan paha itu di wajah dan pipinya.
Semakin sering mengusap-usapkan wajah dan menciuminya, kulit paha itu
terasa semakin hangat. Kedua belah telapak tangannya pun giat bergerak
menyalurkan kehangatan. Tangan kirinya mengusap-usap paha kanan bagian
luar, sedangkan telapak kanannya digunakan untuk mengusap-usap betis
kiri gadis itu. |
|
|
|