|
Pengganti Istri 02 |
Tiap kali kejantananku menekan dasar kemaluannya, gadis itu tergelinjang
oleh ngilu bercampur nikmat yang belum pernah dirasakannya. Kejantananku
bagai diremas-remas dalam liang kemaluan Ningsih yang begitu 'peret' dan
legit. Dengan perkasa kudorong kejantananku sampai masuk seluruhnya
dalam selangkangan gadis itu, membuat Ningsih tergelinjang-gelinjang
sambil merintih nikmat tiap kali dasar kemaluannya disodok.
"Ahh.. Ndoro..! Aa.. ah..! Aaa.. ahk..! Oooh..! Ndoroo.. Ningsih pengen..
pih.. pipiis..! Aaa.. aahh..!"
Sensasi nikmat luar biasa membuat Ningsih dengan cepat terorgasme.
"Tahan Nduk! Kamu nggak boleh pipis dulu..! Tunggu Ndoro pipisin kamu,
baru kamu boleh pipis..!"
Dengan patuh Ningsih mengencangkan otot selangkangannya sekuat tenaga
berusaha menahan pipis, kepalanya menggeleng-geleng dengan mata
terpejam, membuat rambutnya berantakan, namun beberapa saat kemudian..
"Nggak tahan Ndoroo..! Ngh..! Ngh..! Nggh! Aaaii.. iik..! Aaa.. aahk..!"
Tanpa dapat ditahan-tahan, Ningsih tergelinjang-gelinjang di bawah
tindihanku sambil memekik dengan nafas tersengal-sengal.
Payudaranya yang bulat dan kenyal berguncang menekan dadaku saat gadis
itu memeluk erat tubuh majikannya, dan kemaluannya yang begitu rapat
bergerak mencucup-cucup.
Berpura-pura marah, aku menghentikan genjotannya dan menarik
kejantananku keluar dari tubuh Ningsih.
"Dibilang jangan pipis dulu kok bandel..! Awas kalau berani pipis
lagi..!"
Tampak kejantananku bersimbah cairan bening bercampur kemerahan, tanda
gadis itu betul-betul masih perawan. Gadis itu mengira majikannya sudah
selesai, memejamkan mata sambil tersenyum puas dan mengatur nafasnya
yang 'senen-kamis'. Di pangkal paha gadis itu tampak juga darah perawan
menitik dari bibir kemaluannya yang perlahan menutup.
Aku menarik pinggang Ningsih ke atas, lalu mendorong sebuah bantal empuk
ke bawah pantat Ningsih, membuat tubuh telanjang gadis itu agak
melengkung karena pantatnya diganjal bantal. Tanpa basa-basi kembali
kutindih tubuh montok Ningsih, dan kembali kutancapkan kejantananku
dalam liang kemaluan gadis itu. Dengan posisi pantat terganjal, klentit
Ningsih yang peka menjadi sedikit mendongak. Sehingga ketika aku kembali
melanjutkan tusukanku, gadis itu tergelinjang dan terpekik merasakan
sensasi yang bahkan lebih nikmat lagi dari yang barusan.
"Mau terus apa brenti, Nduk..?" godaku.
"Aii.. iih..! He.. eh..! Terus Ndoroo..! Enak..! Enak..! Aahh.. Aii..
iik..!"
Tubuh Ningsih yang montok menggiurkan tergelinjang-gelinjang dengan
nikmat dengan nafas tersengal-sengal diantara pekikan-pekikan manjanya.
"Ooo.. ohh..! Ndoroo.., Ningsih pengen pipis.. lagii.. iih..!"
"Yang ini ditahan dulu..! Tahan Nduk..!"
"Aa.. aak..! Ampuu.. unnhh..! Ningsih nggak kuat.. Ndoroo..!"
Seiring pekikan manjanya, tubuh gadis itu tergeliat-geliat di atas
ranjang empuk.
Pekikan manja Ningsih semakin keras setiap kali tubuh telanjangnya
tergerinjal saat kusodok dasar liang kegadisannya, membuat kedua pahanya
tersentak mengangkang semakin lebar, semakin mempermudah aku menikmati
tubuh perawannya. Dengan gemas sekuat tenaga kuremas-remas kedua
payudara Ningsih hingga tampak berbekas kemerah-merahan. Begitu kuatnya
remasanku hingga cairan putih susu menitik keluar dari putingnya yang
kecoklatan.
"Ahhk..! Aaa.. aah! Aduu.. uhh! Sakit Ndoroo..! Ningsih mau pipiiss..!"
Dengan maksud menggoda gadis itu, aku menghentikan sodokannya dan
mencabut kejantanannya justru disaat Ningsih mulai orgasme.
"Mau pipis Nduk..?" tanyaku pura-pura kesal.
"Oohh.. Ndoroo.. terusin dong..! Cuma 'dikit, nggak pa-pa kok..!" rengek
gadis itu manja.
"Kamu itu nggak boleh pipis sebelum Ndoro pipisin kamu, tahu..?" aku
terus berpura-pura marah.
Tampak bibir kemaluan Ningsih yang gundul kini kemerah-merahan dan
bergerak berdenyut.
"Enggak! Enggak kok! Ningsih enggak berani Ndoro..!"
Ningsih memeluk dan berusaha menarik tubuhku agar kembali menindih
tubuhnya. Rasanya sebentarlagi gadis itu mau pipis untuk ketiga kalinya.
"Kalau sampai pipis lagi, Ndoro bakal marah, lho Nduk..?" kuremas kedua
buah dada montok Ningsih.
"Engh.. Enggak. Nggak berani." Wajah gadis itu berkerut menahan pipis.
"Awas kalau berani..!" kukeraskan cengkeraman tangannya hingga payudara
gadis itu seperti balon melotot dan cairan putih susu kembali menetes
dari putingnya.
"Ahk! Aah..! Nggak berani, Ndoro..!"
Ningsih menggigit bibir menahan sakitnya remasan-remasanku yang bukannya
dilepas malah semakin kuat dan cepat. Namun gadis itu segera merasakan
ganjarannya saat kejantananku kembali menghajar kemaluannya. Tak ayal
lagi, Ningsih kembali tergiur tanpa ampun begitu dasar liang kemaluannya
ditekan kuat.
"Ngh..! Ngh..! Ngghh..! Ahk.. Aaa.. aahh..! Ndoroo.. ampuu.. uun..!"
Tubuh montok gadis itu tergerinjal seiring pekikan manjanya.
Begitu cepatnya Ningsih mencapai puncak membuat aku semakin gemas
menggeluti tubuh perawannya. Tanpa ampun kucengkeram kedua bukit montok
yang berdiri menantang di hadapanku dan meremasinya dengan kuat,
meninggalkan bekas kemerahan di kulit payudara Ningsih. Sementara
genjotan demi genjotan kejantananku menyodok kemaluan gadis itu yang
hangat mencucup-cucup menggiurkan, bagai memohon semburan puncak.
Gadis itu sendiri sudah tak tahu lagi mana atas mana bawah, kenikmatan
luar biasa tidak henti-hentinya memancar dari selangkangannya. Rasanya
seperti ingin pipis tapi nikmat luar biasa membuat Ningsih tidak sadar
memekik-mekik manja. Kedua pahanya yang sehari-hari biasanya disilangkan
rapat-rapat, kini terkangkang lebar, sementara liang kemaluannya tanpa
dapat ditahan-tahan berdenyut mencucup kejantananku yang begitu perkasa
menggagahinya. Sekujur tubuh gadis itu basah bersimbah keringat.
"Hih! Rasain! Dibilang jangan pipis! Mau ngelawan ya..!" Gemas
kucengkeram kedua buah dada Ningsih erat-erat sambil menghentakkan
kejantananku sejauh mungkin dalam kemaluan dangkal gadis itu.
Ningsih tergelinjang-gelinjang tidak berdaya tiap kali dasar kemaluannya
disodok. Pantat gadis itu yang terganjal bantal empuk berulangkali
tersentak naik menahan nikmat.
"Oooh.. Ndoroo..! Ahk..! Ampun..! Ampun Ndoroo..! Sudah..! Ampuu..
unn..!" Ningsih merintih memohon ampun tidak sanggup lagi merasakan
kegiuran yang tidak kunjung reda.
Begitu lama majikannya menggagahinya, seolah tidak akan pernah selesai.
Tidak terasa air matanya kembali berlinang membasahi pipinya. Kedua
tangan gadis itu menggapai-gapai tanpa daya, paha mulusnya tersentak
terkangkang tiap kali kemaluannya dijejali kejantananku, nafasnya
tersengal dan terputus-putus. Bagian dalam tubuhnya terasa ngilu disodok
tanpa henti. Putus asa Ningsih merengek memohon ampun, majikannya bagai
tak kenal lelah terus menggagahi kegadisannya. Bagi gadis itu seperti
bertahun-tahun ia telah melayani majikannya dengan pasrah.
Menyadari kini Ningsih sedang terorgasme berkepanjangan, aku tarik paha
Ningsih ke atas hingga menyentuh payudaranya dan merapatkannya.
Akibatnya kemaluan gadis itu menjadi semakin sempit menjepit
kejantananku yang terus menghentak keluar masuk. Ningsih berusaha
kembali mengangkang, namun dengan perkasa semakin kurapatkan kedua paha
mulusnya. Mata Ningsih yang bulat terbeliak dan berputar-putar,
sedangkan bibirnya merah merekah membentuk huruf 'O' tanpa ada suara
yang keluar. Sensasi antara pedih dan nikmat yang luar biasa di
selangkangannya kini semakin menjadi-jadi.
Aku semakin bersemangat menggenjotkan kejantananku dalam hangatnya
cengkeraman pangkal paha Ningsih, membuat gadis itu terpekik-pekik
nikmat dengan tubuh terdorong menyentak ke atas tiap kali kemaluannya
disodok keras.
"Hih! Rasain! Rasain! Nih! Nih! Nihh..!" aku semakin geram merasakan
kemaluan Ningsih yang begitu sempit dan dangkal seperti mencucup-cucup
kejantananku.
"Ahh..! Ampuu..uun.. ampun.. Ndoro! Aduh.. sakiit.. ampuu.. un..!"
Begitu merasakan kenikmatan mulai memuncak, dengan gemas kuremas kedua
payudara Ningsih yang kemerah-merahan berkilat bersimbah keringat dan
cairan putih dari putingnya, menumpukan seluruh berat tubuhku pada tubuh
gadis itu dengan kedua paha gadis itu terjepit di antara tubuh kami,
membuat tubuh Ningsih melesak dalam empuknya ranjang.
Pekikan tertahan gadis itu, gelinjangan tubuhnya yang padat telanjang
dan 'peret'-nya kemaluannya yang masih perawan membuatku semakin hebat
menggeluti gadis itu.
"Aduh! Aduu.. uuhh.. sakit Ndoro! Aaah.. aamm.. aammpuun.. ampuu.. uun
Ndoro.. Ningsih.. pipii.. iis! Aaamm.. puun..!"
Dan akhirnya kuhujamkan kejantananku sedalam-dalamnya memenuhi kemaluan
Ningsih, membuat tubuh telanjang gadis itu terlonjak dalam tindihanku,
namun tertahan oleh cengkeraman tanganku pada kedua buah dada Ningsih
yang halus mulus.
Tanpa dapat kutahan, kusemburkan sperma dalam cucupan kemaluan Ningsih
yang hangat menggiurkan sambil dengan sekuat tenaga meremas-remas kedua
buah dada gadis itu, membuat Ningsih tergerinjal antara sakit dan
nikmat.
"Ahk! Auh..! Aaa.. aauuhh! Oh.. ampuu..uun Ndoro! Terus Ndoro..! Ampuun!
Amm.. mmh..!Aaa.. aakh..!"
Dengan puas aku menjatuhkan tubuh di sisi tubuh Ningsih yang sintal,
membuat gadis itu turut terguling ke samping, namun kemudian gadis itu
memeluk tubuhku. Sambil terisak-isak bahagia, Ningsih memeluk tubuhku
dan mengelus-elus punggungku.
Sambil mengatur nafas, aku berpikir untuk menaikkan gaji Ningsih
beberapa kali lipat, agar gadis itu betah bekerja di sini, dan dapat
melayaniku setiap saat. Dengan tubuh yang masih gemetar dan lemas,
Ningsih perlahan turun dari ranjang dan mulai melompat-lompat di samping
ranjang.
Keheranan aku bertanya, "Ngapain kamu, Nduk..?"
"Katanya.. biar nggak hamil harus lompat.. lompat, Ndoro.." jawab gadis
itu polos.
Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya, melihat cairan kental meleleh
dari pangkal paha gadis itu yang mulus tanpa sehelai rambut pun. |
|
|
|