|
Arisan Syahwat - 5 |
Tak lama kemudian Mas Barus dan Pak Hermawan, demikian aku diperkenalkan
oleh Mas Pur, hadir ke kamar. Bersama mereka kami menikmati jamuan makan
malam yang sangat lengkap dan mewah ini. Mas Pur bilang teman-temannya
ini adalah orang-orang yang telah berjasa bagi perusahaannya. Merupakan
kewajiban bagi Mas Pur untuk memberikan kesenangan bagi mereka berdua.
Dia juga minta agar aku ikut membantunya. Aku tak begitu paham apa yang
dia maksud. Namun secara sopan santun aku mengangguk saja dengan apa
yang Mas Pur bicarakan itu.
Mas Barus orangnya sangat supel dan penuh humor. Mukanya nampak jantan
dengan kumis dan jambangnya yang tipis. Kalau melihat garis wajahnya
kelihatannya dia masih punya darah orang Arabnya. Tubuhnya sangat
terawat. Dia bilang senang main tenis. Nampak biseps-nya begitu menonjol
dari lengannya. Ketampanan Mas Barus tak kalah dari Mas Pur. Kalau
tersenyum nampak pipinya ada cekung yang membuatnya nampak 'handsome'
banget-banget. Aku membayangkan seandainya dia telanjang. Adakah
kemaluannya juga segede punya Mas Pur? Acchh.. Kenapa otakku jadi liar
begini..
Pak Hermawan nampaknya menjadi senior di ruangan makan ini. Nampak
kalem, tenang namun sangat berwibawa. Saat dia bicara semua orang dengan
cermat mendengarinya. Dan yang menarik adalah berkali-kali dia mencuri
pandang padaku. Pada dadaku, pada rambutku, pada bibirku. Macam anjing
hyena pemakan sisa, nampaknya Pak Hermawan ingin melahap aku pula.
Tiba-tiba telepon genggam Mas Barus berdering. Sejenak dia bicara dan
kemudian telepon diserahkan Mas Pur. Nampak pembicaraan cukup serius.
Pada akhir telepon dia memandang aku.
"Jeng Tati, saya dan Mas Barus mesti turun ke lobby. Ada tamu dari
Surabaya yang memang telah janji sebelumnya. Tak lama. Paling sekitar 1
jam. Tolong temenin Pak Hermawan. Kalau mau pesan minuman panggil saja
room service. Maaf Pak Hermawan, saya tinggal dulu. Bapak santai saja.
Kalau lelah bapak bisa istirahat di kamar saya"
Maka Mas Pur dan Mas Baruspun meninggalkan aku bersama Pak Hermawan di
kamarnya.
Aku merasa aneh. Namun aku ingat pesan Mas Pur tadi agar aku membantu
dia ikut menyenangkan para tamunya. Bagaimana kalau Pak Hermawan minta
aku untuk melayani kelelakiannya? Bukankah dia juga lelaki yang normal?
Apakah memang itu yang dimaksud Mas Pur? Ahh.. Aku percayakan saja
padanya. Pasti dia telah perhitungkan semua ini. Bagiku yang penting
malam ini harus pulang dengan beberapa juta rupiah Sesuai omongan sopir
taksi itu.
Ternyata benar dugaanku. Bak macan lapar, begitu Mas Purnawan
meninggalkan ruangan Pak Hermawan langsung menerkam aku dan menyeret aku
ke sofa yang ada di ruangan itu. Ditariknya aku untuk jatuh
kepangkuannya. Tangan kirinya menyingkap gaunku untuk mengoboki
kemaluanku, sementara bibirnya langsung nyosor melumat gigit payudaraku.
Aku hampir terjatuh kehilangan keseimbangan. Namun apa yang dilakukan
Pak Hermawan justru membuat hasrat seksualku langsung berkobar.
Jari-jari tangannya yang bermain di bibir kemaluanku memberiku
kenikmatan yang tak terhingga.
Aku merasakan betapa keranjingan Pak Hermawan pada tubuhku. Dia begitu
kasar dan rakus untuk melumat-lumat bagian-bagian sensualku. Merupakan
kenikmatan untuk menyerahkan tubuhku padanya. Bagai rusa kecil yang
telah gemetar luluh menghadapi kerakusan pemangsanya, aku tak kuasa
untuk menghindar. Yang aku upayakan kemudian adalah menyongsongnya
sebagai korban yang tak terhindari. Demikianlah posisiku kini. Dan aku
menyerah untuk menikmati sebagai korban keganasan Pak Hermawan. Aku
melakukan penyesuaian dengan naluri seksualku sendiri.
"Kamu pelacur, khan? Hehh.. Kamu placur khan?? Tadi sudah berapa kali
kamu dientot si Purnawan? Aku hanya dikasih sisanya yahh??"
Sungguh bagai disambar petir aku mendengar ocehan Pak Hermawan ini.
Sangat menghina padaku dan merendahkan martabatku. Aku yakin itu
disebabkan berkobarnya nafsu birahinya padaku. Kemudian dia hela
tubuhku, dia renggut kepalaku ditariknya agar menunduk ke arah
selangkangannya.
"Ayoo, sekarang kamu isep kontolku," sambil menyentak rambutku hingga
kulit kepalaku seakan mau copot, terasa pedih.
"Ayyoo... kamu lepasi celanaku. Ayoo, isep kontolku," tarikannya makin
mengeras dan aku semakin merasa tertekan dan khawatir kalau Pak Hermawan
berlaku lebih kasar lagi.
Aku langsung kalah. Dengan sebelumnya aku harus melepasi sepatu dan kaos
kakinya kini tanganku mulai melepasi ikat pinggang, kancing celana
panjangnya dan menariknya hingga lepas ke lantai. Dan Pak Hermawan
melepasi sendiri celana pendeknya hingga tinggal CD-nya yang Calvin
Klein putih bersih itu. Nampak kontolnya membayang diagonal, menggunung
dengan stir kanan. Melihat gundukkan di selangkangannya aku yakin kontol
Pak Hermawan termasuk skala 'monster'juga.
"Cepat, pelacurku. Sini kamu jilati dulu kakiku. Ayoocchh..."
Kembali kekasarannya ditunjukkan padaku. Nafsu birahinya yang sangat
besar membuatnya menjadi serba kasar dan tak sabar. Tahu-tahu telapak
kakinya yang bau sepatu sudah melekat ke wajahku.
Dan.. Entah kenapa.. Aku justru sangat terangsang mendengar hinaan dan
caciannya. Perlakuan kasarnya padaku hingga merendahkan martabatku ini
malahan membuat aku tersihir dalam khayal syahwat seorang budak atau
pelacur sesuai umpatannya. Kini dengan gelegak dan kobar birahi aku
meraih kakinya. Aku mulai menjilat.
Kuciumi telapak kakinya dan kukulum jari-jarinya. Rasanya ingin muntah
saat aroma sepatunya langsung menyengat hidungku. Namun gejolak dan
khayal budak syahwatku akhirnya lebih menundukkanku.
"Oouuchh.. Enaknya Tatii.. Enak.. Terus jilati telapak kakikuu.. Enak
Tattii.. Kamu memang cabokuu.. Pelacurkuu..." Pak Hermawan terus meracau
dan melontarkan hinaan yang kini sepenuhnya kunikmati. Sesudah puas
dengan telapak dan jari-jari kakinya ciuman dan jilatanku bergeser.
Dengan penuh birahi lidahku melata ke betisnya yang penuh bulu, kemudian
naik lagi ke lututnya. Bulu-bulu kakinya terasa lembut menari di
lidahku. Aku mendengar desah histeris dari mulut Pak Hermawan.
Desah-desahnya itu membuat aku semakin terbakar birahi. Lidahku langsung
merangsek ke pahanya kanan dan kiri. Pak Hermawan tak mampu menahan
kegelian syahwatnya. Dia mengguling-gulingkan tubuhnya, namun tanganku
sudah memeluk erat untuk menggigiti dan menyedoti pori-pori pahanya.
Tak kupungkiri bahwa akhirnya seperti kuda binal kini justru akulah yang
memimpin pergumulan syahwat ini. Pak Hermawan hanya pasrah menerima
nikmat sambil sesekali tangannya menahan kepalaku karena kegeliannya dan
dilain kali meremasi tepian sofa sambil mengerang dan mendesis-desis.
Dan saat rambahan lidahku melatai selangkangannya tak tertahankan lagi
Pak Hermawan menjerit keras dengan cacian kasarnya...
"Aarcchh.. Dasar lonte... pelacur jalanan.. Anjing betina.. Jilat
teruss.. Yaa.. Anjingkuu.. Lonteku..." sungguh kata-kata kasar yang
semakin menyemangati gairah birahiku.
Lidahku menjilati tepian Calvin Klein-nya. Aroma selangkangan lelaki
jantan menusuk hidungku. Dengan penuh keheranan pada diri sendiri aku
mulai menggigit tepian CD-nya itu dan menarik untuk melepaskan dari
tempatnya. Aku ingin menelanjangi Pak Hermawan dengan bibir dan gigiku.
Tak perlu lepas seluruhnya.
Begitu aku menyaksikan kontolnya nge-per karena lepas dari ikatan CD-nya
aku terpana. Ternyata kontol Pak Hermawan luar biasa gede dan
panjangnya. Mungkin macam inilah yang disebut 'monster cock'. Batang itu
keras kenyal dengan gagahnya tegak miring mengarah ke pusernya.
Urat-uratnya nampak melingkar-lingkar menahan desakan darah nadinya di
seputar batangan itu.
Kepalanya yang menampakkan belahan merekah menuju lubang kencingnya
sangat mengkilat karena desakan darah nafsunya yang menyesaki batang
kontol itu. Barangkali kalau diukur akan menemukan 20 cm panjang dengan
garis tengah untuk genggaman sekitar 6 cm. Aku jadi ingat kemaluan Mas
Pardi yang mungkin hanya seperempatnya.
Kini akan kuupayakan agar kontolnya benar-benar kehausan untuk
dipuaskan. Aku ingin membuat Pak Hermawan lebih liar. Dengan sepenuh
pesona aku menghampirkan lidah dan hidungku ke kemaluannya. Kutempelkan
untuk menghirupi baunya. Dan lidahku menjilati asin keringat batangan
itu. Kugelitik dengan lidah urat-urat yang melingkar-lingkar itu.
Kucucup tepian 'topi baja'-nya. Kujilati lubang kencingnya. Pak Hermawan
menggelinjang hebat dengan desis tertahan. Nafasnya memburu, racauannya
semakin terbata-bata..'
"Aachh.. Enakk banget Tatii.. Kamu inter banget Tattii.. Kamu
bener-bener lonte yaa??"
Tangannya langsung menjambak keras rambutku. Dia tekan wajahku agar aku
cepat mengulum kontolnya itu. Hasrat libidoku langsung melonjak saat
bibirku menyentuh tepian kepala kontol itu. Hidungku yang meyergap
aromanya langsung merangsang birahiku. Aku ingin dia melolong puas oleh
layanan syahwatku.
Saat akhirnya dia jejalkan kontolnya itu ke mulutku akupun pasrah dengan
menerima dan melahapnya sebagaimana harapan Pak Hermawan. Aku mencoba
mencari kenikmatannya. Aku berpikir apabila orang lain bisa
melakukannya, kenapa aku mesti menolaknya. Aku percaya pasti kutemukan
kenikmatan besar dari sedotan dan kulumanku pada kontol ini. Dan itu
kudapatkan. |
|
|
|