|
Arisan Syahwat - 6 |
"Ampuunn.. Tatii... amppuunn.. bibir kamu enak bangeett... belum pernah aa..
kk.. akuu dapat bibir macam inii..." sambil menggelinjang-gelinjang Pak
Hermawan menahan derita birahi syahwatnya.
Dia remasi tepian jok sofa Grand Hayyat yang mewah itu. Terkadang
pinggulnya menyentak menahan serangan geli syahwat yang tak terhingga.
Dia juga mengayun-ayunkan pantatnya maju mundur mendorong kemaluannya
mengentot mulutku. Aku semakin melayang dalam badai birahi yang melanda
diriku. Seluruh tubuhku serasa dijangkiti peka nafsuku yang berkobar.
Senggolan-senggolan kecil pada setiap organ tubuhku dengan bagian tubuh
Pak Hermawan sepertinya merangsang dan memberikan kenikmatan tak
terhingga.
Saraf-saraf peka pada ujung lidahku memberikan kenikmatan jilatan pada
semua bagian yang bisa kugapai dengan lidahku ini. Aku menyertai
seruputan bibir setiap lidah melata pada centi demi senti dari bijih
pelir hingga sepanjang batang kontol Pak Hermawan.
Genjotan maju mundur pantat Pak Hermawan semakin keras dan cepat. Pasti
dia sedang mengayuh deras mengejar kepuasan puncak syahwatnya. Kontolnya
semakin membengkak dan mengeras. Aku yakin spermanya tengah menjalari
urat-uratnya untuk meletup muncrat.
Mulutnya kembali meracau,
"Lontekuu.. pelacur murahann.. anjing penjilat jalanan.. ayyoo..
puas-puasi yyaa.. biar kamu puasi menjilati kontol yaa.. kontolku enak
khann..? Kontolku gede dan nikmatt yaa..?! Ayyoo.. Tattii cabokuu..
anjingku.. lonte jalanankuu.. jilati teruzz..".
Aku sudah dalam keadaan 'trance' nikmat. Mataku tengah membeliak
meninggalkan putihnya. Aku melayang dalam topan badai birahiku. Segala
umpatan, hinaan dan racau Pak Hermawan sepertinya menjadi bumbu masak
penyedap yang membuat kenikmatan selingkuh dan ingkar janji pada suami
ini semakin demikian nikmat rasanya.
"Aarrcchh.. Tattii, Tatii... Tatii.. Tattii..."
Direnggutnya kepalaku, ditariknya rambutku. Rasa pedih pada kulit
kepalaku menyertai muncratnya air mani Pak Hermawan yang panas tumpah ke
rongga mulutku. Tak pernah ingin aku menerima tumpahan air mani Mas
Pardi suamiku, kini justru dari Pak Hermawan mengalir deras memenuhi
mulutku.
Begitu usai menyemprotkan cadangan spermanya Pak Hermawan langsung rubuh
lelah kemudian merosot dari sofa ke lantai. Terdengar nafasnya yang
ngos-ngosan sambil berbisik,
"Maafin saya Tati.. Omongan tadi sangat kasar yaa..".
Aku malahan tersenyum sambil tanganku meraih dagunya dan mengelusinya,
"Nggak apa-apa, Pak. Aku mengerti kok..."
Tanganku meraba turun dan menangkap kontolnya yang nampak masih lunglai.
Jari-jariku memilin pelan. Mengusap-usap sperma kental yang masih
melumurinya. Terus terang aku sangat berharap kontol gede dan panjang
itu kembali tegang dan mengaduk-aduk vaginaku. Aku sudah nggak sabar
menantikan gesekan-gesekan pada dinding-dinding vaginaku. Pak Hermawan
tahu.
Akhirnya dia berdiri dan mengajak aku ke ranjang. Kami langsung rebah
dalam pagutan. Dan kurasakan pelan tetapi pasti kemaluannya mulai
kembali menegang.
Aku lumat habis bibir dan lidahnya. Kusedoti ludahnya sambil tanganku
meremasi punggung kemudian pentil dadanya yang berbulu itu. Hasilnya
langsung kurasakan, kontol Pak Hermawan semakin menegang dan keras
kembali. Kini kutuntun tubuhnya untuk naik dan menindih tubuhku. Aku
eratkan pagutanku agar semangat syahwatnya kembali seutuhnya. Dan OK!
Sesudah beberapa saat kebuasan Pak Hermawan mulai kurasakan kembali.
Kata-kata kasarnya mulai terdengar,
"Ayo anjing. Kamu nungging.. Aku jilati pantatmu yaa..." sambil
mendorong tubuhku agar tengkurap kemudian mengangkat pantatku hingga aku
nungging. Aku rasakan lidahnya menjalari bukit bokongku. Dia
menjilat-jilat hingga mendekat ke lubang analku. Geli rasanya sangat tak
tertahankan. Aku mendesis kenikmatan. Sekali lagi ini benar-benar tak
pernah kubayangkan bahwa lelaki yang sangat kalem dan berwibawa itu kini
berada dipantatku. Lidahnya sedang mejilati lubang taiku. Antara
tersanjung dan terbakar birahiku aku mendesis hebat,
"Oochh.. Paakk.. Enak bangett.. Terus Paakk.."
Aku kelojotan namun tak bisa bergerak banyak karena dekapan Pak Hermawan
pada kedua pahaku demikian ketatnya. Sesudah puas menjilati lubang
pantatku tiba-tiba Pak Hermawan menarik balik wajahku. Dia kini
telentang dengan mengangkat kakinya melipat ke dadanya sehingga posisi
pantatnya terbuka.
"Ayoo gantian jilat anjing... jilat pantatku pelacurr.. jilatt..."
Sambil tangannya dengan kasar meraih rambutku dan menariknya hingga
mukaku terbenam ke belahan pantatnya. Aku hampir muntah saat mengendus
aroma pantatnya, namun tak bisa aku mengelakinya. Pantat itu benar-benar
menelan wajahku dan memaksa aku untuk menciumnya. Sungguh tak
terbayangkan sebelumnya bahwa aku akan menerima perlakuan nafsu syahwat
macam ini. Aku berontak mati-matian menolaknya.
Namun aku kalah kuat. Bahkan untuk meringkus aku dia lantas bangkit dan
membanting aku agar telentang di ranjang. Dia tekan tubuh dan tanganku
untuk kemudian dia bergerak dan duduk di wajahku. Tepat lubang duburnya
berada pada bibirku.
"Ayoo anjing kamu.. jilaatt.. ciumi pantatku.. jilat lubang anusnya
yaa..." sambil menarik-narik rambutku hingga pedih rasanya. Kembali aku
dijadikan budak nafsunya. Aku tak mampu berontak. Dia terus menekan aku
walaupun aku hampir pingsan karena rasa mual yang menimpaku.
Namun ternyata itu hanyalah proses.
'Kebudakan'ku bangkit untuk menikmati dominasi tuannya. Aku bisa
mengatasi rasa mualku. Bahkan akhirnyapun aku merasakan kenikmatannya.
Lidahku merasakan betapa alus bibir anal ini. Kerumunan rambut analnya
yang lebat kusedot dan kuisep-isep. Dan saat aku mendesakinya untuk
masuk lebih dalam lagi kurasakan sepat-sepat yang sangat nikmat di
lidahku. Akhirnya pula dengan penuh rakus aku melumat-lumat lubang anus
Pak Hermawan.
"Aa.. dduuhh.. enak Tattii.. Lidahmu enak banget menjilati lubang
taiku.. Tattii teruss ya sayaanngg.. Jilat lagi bulu-bulunya yaa.. Ciumi
yaa..." rintih dan racau mulut Pak Hermawan terus berkepanjangan.
Hingga akhirnya kembali dia ingin menumpahkan syahwatnya padaku. Dia
renggut kepalaku dan menggeser dan mendorong aku hingga aku telentang.
Tubuhnya menindih tubuhku. Tangannya menyeruak dan melebarkan
selangkanganku. Kemaluannya dengan pasti diarahkan ke liang vaginaku.
Pak Hermawan sangat bernafsu untuk ngentot memekku.
Hanya dengan desakan-desakkan kecil akhirnya kemaluannya menembusi
kemaluanku. Lingkaran batangnya sangat menyesaki rongga vaginaku. Aku
merinding merasakan nikmat yang tak terhingga. Kenikmatan yang tak
mungkin aku dapatkan dari Mas Pardi suamiku.
Pak Hermawan mulai menggenjot dan memompa. Mulutnya melumati buah dadaku
dan menggigir pentil-pentilnya. Aku terlontar dalan kenikmatan ke
awang-awang. Rasanya seperti terbang ke angkasa tanpa batas. Aku juga
mulai menggoyang pantatku mengimbangi dan mengatasi rasa gatal birahi
pada dinding-dinding vaginaku. Aku rasakan kini bahwa Pak Hermawan ingin
memuaskan kehausan libidoku. Lumatannya menggeser ke ketiakku. Aku
memang sangat tak mampu menahan rangsangan dari ciuman dan isepan pada
ketiakku. Aku langsung kelimpungan saat kurasakan betapa sedotan
disertai gigitan kecil merambahi ketiakku. Badai birahiku langsung
menggolak aku kembali 'trance'.
Tak kurasakan lagi betapa lelahnya mengimbangi pompaan Pak Hermawan.
Isepan dan sedotan pada ketiak membuat orgasmeku mendekat dengan cepat.
Kurasakan vaginaku mengalirkan dengan deras cairan birahiku. Aku mengeos
menderita oleh kocokkan kemaluan Pak Hermawan. Kini aku yang ganti
merengguk kepalanya. Kuremas rambutnya hinga pedih. Dan sepertinya
serigala yang kebingungan untuk melepaskan raunganya tanganku berpindah
meremas punggungnya. Dan saat-saat orgasme itu merambati saraf-sarafku
tanpa ragu aku menghujamkan kukuku ke punggung Pak Hermawan. Aku tak
mampu bertahan lagi. Dengan teriakan histeris aku melengking,
"Aacchh.. aadd.. duuhh enak bangett.. Pakk.. Enak banget kontol
Bapaakk.. Teruss Paakk..." sambil pinggul dan pantatku bergoyang
histeris tak keruan. Aku mengangkat-angkat pantatku tinggi-tinggi
menjemputi kemaluan Pak Hermawan agar menusukku lebih dalam lagi ke
rahim vaginaku. Dan...
"Ammppuunn.. Pak Heerr.. Aamppunn..." tanganku menghunjam keras
menusukkan kukuku ke daging punggung Pak Herman menyertai pelepasan
orgasmeku. Kuhentak-hentakkan kepala dan rambutku awut-awutan.
Keringatku mengucur deras di ruang AC dingin ini. Aku merasakan
kenikmatan tak terhingga saat kurasakan nikmat itu menjalar menelusuri
saraf-saraf birahi di seputar selangkanganku.
"Ammppuunn.. Pak Hermawann.."
Rupanya Pak Hermawan belum juga mendapatkan kepuasan puncaknya. Dia
kencengin pompaannya sambil meracau entah apa. Yang kurasakan kini
betapa pedih sesudah orgasme masih mendapatkan tusukkan-tusukkan
kemaluan sesak punya Pak Her ini. Aku begitu lelah. Aku tak mampu lagi
menggoyang untuk membantu Pak Hermawan. Namun ternyata itu tak
menghalangai ejakulasinya. Bagai singa lapar dia berteriak menyertai
muncratnya air maninya di liang vaginaku. Kurasakan cairan panas tumpah
menyembur rongga kemaluanku. |
|
|
|