|
Arisan Syahwat - 7 |
Belum usai muncrat Pak Hermawan mencabut kontolnya. Kedutan-kedutan besar
masih terus dengan menyemprotkan air maninya ke perutku, pahaku,
jembutku, dadaku. Dia ingin aku kembali menjilati kontolnya agar bersih
dari lengket sperma di batangnya. Namun aku telanjur kelelahan yang amat
sangat.
Akhirnya aku benar-benar lunglai karena lelahku. Aku tak lagi berpikir
macam-macam. Rasa kantuk yang hebat karena kelelahan melanda diriku.
Dalam keadaan bugil aku terlena..
Entah berapa lama tertidur. Aku terbangun saat kurasakan lidah Pak
Hermawan mengecupi perutku dan menjilati spermanya sendiri yang tercecer.
Aku malas untuk membuka mata. Kubiarkan dia terus menjilat dan aku
menikmati lata lidahnya pada perutku yang kemudian turun, turun, turun..
teruss turun..
Pak Hermawan membersihkan seluruh cairan kentalnya yang tercecer di 'jembut'ku.
Lidahnya juga semakin menjalar menepi ke bibir vaginaku. Mungkin dia
igin menyedot kembali semua yang dia tumpahkan tadi. Namun.. Tiba-tiba
aku merasakan hal yang agak ganjil.
Bukankah Pak Hermawan tak berkumis dan jambang? Kenapa aku merasakan
bibir yang merangseki vaginaku kini membawa penuh bulu atau kumis. Ah,
akhirnya aku membuka mataku dan kulihat seseorang yang.. Acchh..
Ternyata dia adalah Mas Barus. Bagaimana dia ada disini? Dan telah
berbugil pula? Dimana Pak Hermawan sekarang?
Berapa lama aku tertidur sehingga tidak menyadari apa yang telah
terjadi? Rupanya saat aku terlena tadi Mas Barus datang dan Pak Hermawan
berkesempatan untuk pergi. Mungkinkah semua ini memang telah dirancang
Mas Purnawan dan kawan-kawannya termasuk sopir taksi itu. Rupa-rupanya
aku dijadikan arisan syahwat mereka? Aku digilir untuk menyuguhkan
kepuasan syahwat Mas Purnawan dan teman-temannya.
"Aahh.. Mas Barruuss.. kok.. kenapa.. aahh.. bbll.. mmeemmhh..." aku tak
selesaikan bicaraku karena bibir Mas Barus yang memang penuh kumis dan
janggut langsung melahap bibirku. Seperti ular kobra dia melumpuhkan aku
dengan pagutannya
Saat tangan-tangannya yang juga disesaki dengan bulu-bulu tubuhnya
meremas dan memilin-milin buah dada dan pentilku aku tak hendak bertanya
lagi. Rangsangan yang kuterima akibat gesekkan tubuhnya yang penuh bulu
pula birahiku langsung kembali melanda syahwatku.
Sesungguhnya aku tak begitu peduli. Yang penting hakku bisa kudapatkan.
Setidaknya Rp. 4 juta aku harus bawa pulang hari ini. Aku tetap percaya
pada sopir taksi dan Mas Purnawan bahwa mereka tidak akan mentelantarkan
aku. Tangan Mas Barus turun menelusuri perutku dan terus turun.
Jari-jarinya menyapu sambil meremas rambut kemaluanku. Aku mendesah..
Kenikmatan syahwatiku sungguh melemparkan aku ke langit birahi tanpa
batas.
Ciuman Mas Barus membuat aku melayang dalam alun nikmat. Terus terang
aku belum pernah merasakan ciuman bibir berkumis dan bercambang seperti
Mas Barus ini. Sejak aku mengenal lelaki sebagai pacar hingga suamiku
Mas Pardi tak satupun yang memelihara kumis dan cambang. Kini aku baru
tahu betapa gelitik kumis dan cambang pada bibir dan wajahku sangat
merangsang hasrat syahwatku. Aku terlena. Tak lagi kurasakan lelahnya
melayani Pak Hermawan. Aku terus mendesah, terkadang merintih, merasakan
nikmatnya dalam pelukan Mas Barus. Aku berharap Mas Barus lebih cepat
mendaki puncak syahwatnya..
"Tatii.. Kamu sangat seksii banget siihh.. Sejak tadi aku sudah tergetar
oleh kecantikanmu. Aku mau jadi budakmu Tatii.. Aku telah bersihkan kamu
dari sisa cairan lengket Pak Hermawan. Sangat nikmat menjilati cairan
lengket itu dari memekmu Tatii.. Nggak apa-apa khan??" Mas Barus meracau
seakan minta dikasihani, disayangi dan bermanja padaku.
Aku hanya mengangguk-angguk untuk menyenangkan kegundahan syahwatnya.
Menjilati sperma lelaki lain yang meleleh dari memekku. Aku rasa pria
ganteng ini punya kelainan seks. Akhirnya jari-jari tangannya menari di
bibir vaginaku. Aku menggigit bibirku menahan kenikmatan yang melandaku.
Kupeluk lebih erat punggung Mas Barus. Namun dia bergerak melepas.
Ciumannya turun melata menuruni lembah dadaku, bukit payu dara dan
ketiakku. Dia melumati habis dengan meninggalkan cupang-cupang di leher,
dada dan ketiakku. Aku menggelinjang hebat saat bibir berkumis itu
menggesek-gesek dan menyedoti ketiakku. Adduhh.. Sungguh aku tak mampu
menahan gelinjang syahwatku.
"Mass.. Bb.. Baruzz.. A.. Aampuunn.."
Dengan tangan-tangannya yang kekar dia membentangkan pahaku. Wajahnya
terus merangsek ke bawah dan ciumannya mendarat di selangkanganku. Lidah
dan bibirnya kembali melumati selangkanganku seperti saat aku tertidur
tadi. Kudengar suara kecup bibirnya beruntun dan sangat histeris
menyergapi pori-pori selangkangan dan pahaku. Kemudian kembali tangannya
meraih pahaku dan mengangkatnya hingga terlipat menyentuh dadaku. Ini
membuat posisi vagina dan pantatku tengadah.
Dengan mudahnya Mas Barus mengecup-kecup lubang vaginaku dan sesekali
lidahnya menyapu anusku pula. Hal ini benar-benar menjadi sensasi
seksualku. Siapapun belum pernah menjilati lubang duburku. Rambahan
lidah Mas Barus yang mengila pada lubang ini membuat aku seperti cacing
kepanansan. Meliuk-liuk dan merentak-rentakkan pinggulku menahan
kegelian birahi yang amat sangat.
"Gilaa.. Mas Baruuzz.. Apa yang kamu lakukan padakuu.."
Akhirnya kakiku menendang tubuhnya dan menahan jilatannya.
"Adduuhh.. Ampuunn..."
"Maazz.. Tati nggak tahann.. Nikmat bangett seehh..." aku meracau
kegelian sembari tanganku meremasi daging bahunya. Namun dia menekan
kakiku lagi agar terlipat hingga menyentuh dadaku kembali seperti
sebelumnya. Dan Mas Barus dengan penuh asyiknya kembali mengecupi bibir
vaginaku dan menjilat-jilat anusku.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan seseorang masuk. Kulihat Mas Purnawan
telah berbugil dengan kemaluannya yang ngaceng mengkilat tegak seperti
tonggak yang nancep di selangkangannya. Eeddaann.. Adakah mereka mau
beramai-ramai menyantap aku??
Tanpa banyak omong Mas Purnawan mendekat ke ranjang dan menyorongkan
kontolnya ke wajahku,
"Isep.. Isepp Tattii.."
Dia sorongkan kepala kemaluannya yang sangat berkilatan hingga menyentuh
bibirku. Aku yang saat itu dilanda rangsangan birahi karena jilatan Mas
Barus pada anusku memang memerlukan kompensasi sebagai penawar kehausan
birahiku. Tanpa disuruh lagi aku langsung menganga dan menerima kontol
Mas Purnawan. Aku mengulum dan mengisepinya seperti bayi yang diseseli
dot ke mulutnya. Pinggul dan pantat Mas Purnawan langsung bergoyang maju
mundur mendorong kemaluannya ngentot mulutku.
Kemudian yang kulihat adalah reaksi Mas Barus. Nampak matanya melotot
menyaksikan mulutku yang penuh. Adeganku bersama Mas Purnawan membakar
gairahnya. Tanpa ayal lagi dia langsung bangkit dan memasukkan kontolnya
untuk menembusi memekku. Dia juga langsung mengenjot-enjot memompa
vaginaku. Uuhh.. Benar-benar sensasional. Dua pria ganteng secara
bersama ngentot dua lubangku. Benar-benar tak pernah kubayangkan
sebelumnya bahwa ini berlangsung untukku. Aku sama sekali tak berpikir
tentang Mas Pardi suamiku. Entah sedang apa dan dimana dia kini?
Yang kemudian aku kaget adalah kelakuan Mas Barus. Dengan tanpa
mengendorkan genjotan kemaluannya pada memekku dia terus merangsek
menindih tubuhku sambil berusaha menggapai bibirku yang sedang mengulum
kontol Mas Purnawan. Nampak mulutnya juga ingin menelan kontol Mas
Purnawan. Ah.. Memang dia sakit nih. Atau jangan-jangan kedua orang ini
memang biasa bercinta sejenisnya. Karena yang kemudian kulihat adalah
tangan Mas Pur yang cepat menjambak rambut Mas Barus dan menariknya agar
bersama aku mencium atau menjilati kontolnya. Dan aku sendiri...
ternyata langsung terbakar menyaksikan apa yang tak pernah kubayangkan
sebelumnya.
Memang aku sering mendengar adanya cinta sejenis sesama pria. Namun aku
pikir itu mustahil kusaksikan. Dan kini aku menghadapi langsung
kenyataan itu. Sambil mengerang ke-enakan Mas Barus merem melek
menjilati batangan Mas Pur yang kepalanya keluar masuk mengentot
mulutku.
Dan akhirnya aku kembali merasakan ejakulasi Mas Purnawan di mulutku.
Air maninya muncrat berceceran di mulut dan wajahku. Aku hampir tersedak
oleh derasnya cairan kental dan hangat itu saat nyemprot di gerbang
tenggorokanku.
Dan Mas Barus sepertinya sedang pesta. Dia berusaha menangkap sebanyak
mungkin sperma yang muncrat ke mulut dan wajahku. Dia jilati ceceran di
pipi, dagu dan dekat mataku. Kemudian dia memagut mulutku. Dia sedoti
air mani Mas Purnawan yang masih di mulutku dengan ganasnya. Aahh..
Begini rupanya orang kegilaan cinta sejenis.
Hari ini aku benar-benar sangat lelah dan kehabisan tenaga. Aku lunglai
namun ingat bahwa kini waktunya untuk mengakhiri segalanya. Aku berusaha
untuk bangun dari ranjang. Kusaksikan Mas Barus masih menjilati kemaluan
Mas Purnawan.
Aku mandi air hangat di bath-up yang mewah Grand Hayyat ini hingga
badanku terasa kembali segar. Kulihat waktu sudak menunjukkan jam 10
malam. Aku berbenah dan mengenakan pakaianku kembali. Mas Pur bilang
agar aku membawa pakaian yang diberikannya. Woo.. Pasti aku kegirangan.
Kulihat sepintas tadi merknya yang Giorgino Armani. Semua orang tahu
merk itu bernilai jutaan rupiah.
Sambil menyodorkan amplop yang tebal berisi uang, Mas Purnawan
menyampaikan kepuasannya akan keberadaanku bersamanya. Dia berharap bisa
ketemu lagi dalam waktu dekat. Beberapa temannya ingin pesta bersama dan
aku dimintanya menjadi 'host' yang bisa menemani mereka. Dia juga
sedikit ceritakan bahwa Pak Hermawan tadi adalah pejabat tinggi yang
sering memberikan bisnis padanya. Dia menceritakan bahwa sangat puas
dengan pelayananku.
Saat di atas taksi pulang kubuka isi amplop itu. Kudapatkan Rp. 5 juta
dalam ratusan ribu rupiah. Kudekapkan ke dadaku. Aku belum pernah
memegang uang sebesar itu 'cash' seketika. Mungkin benar racau Pak
Hermawan tadi, bahwa aku hanyalah 'pelacur jalanan'. Aacchh.. |
|
|
|