|
Selingkuh Dengan Pembantu Sendiri |
Pagi itu bangunya agak kesiangan, tidurnya nyenyak sekali akibat kecapaian
setelah semalam ia melakukan pergumulan yang amat hebat dengan istrinya..
Di lihatnya ke arah samping tempat tidur, rupanya istrinya sudah tidak
ada. Rima, istri arif memang adalah salah satu karyawan di perusahaan
swasta di kota itu. sedangkan arif sendiri masih berstatus mahasiswa
semester trerakhir. Di ambilnya handuk dan segera menuju kamar mandi.
sebelum sampai ia melihat di dapur yang berdekatan dengan kamar mandi itu
bi Esih sedang memasak dengan pakaian seperti kebaya dengan bawahannya
kain sarung bermotif seperti batik agak sedikit ketat sehingga terlihat
tonjolan pantatnya dari belakang. Tengah asiknya pemandangan tersebut,
bukan maen kagetnya tiba-tiba bi Esih membalikan badannya sehingga
posisinya kini berhadapan dengannya, begitupun dengan bi Esih ikut kaget
melihat Arif yang tiba-tiba ada di hadapannya. "dd den arif, sedang apa?"
agak sedikit terbata. "nga ngapa2in bi, saya baru mau ke kamar mandi"
jawabnya. "lagi masak apa bi?" mencoba menghilangkan kecurigaan bi essih
terhadapnya. "oh anu den, bibi masak sayur asam dan goreng telor kesukaan
den arif" jawabnya dengan sedikit senyuman. Arif hanya tersenyum. "terusin
lagi aja bi masaknya, saya mau mandi dulu" suruh arif. "iya den, silahkan"
Setelas selesai mandi ia sempat menayakan kepada bi Esih "masaknya udah
beres bi?" "mmm sedikit lagi den, tinggal goreng telornya" jawabnya. "wah
tinggal telornya ya bi, kebetulan saya sudah lapar" gumamnya. "tenang aja
den, pokoknya sesudah den arif ganti pakaian masakannya pasti sudah beres"
bi asih meyakinkannya. kemudian arif segera pergi dari dapur hendak ke
kamarnya. Selesai ganti baju tanpa lama lagi ia segera menuju dapur
kembali untuk menyantap makanan yang sudah dimasakan bi Esih. "benerkan
den, masakannya sudah siap" ujar bi Esih. "iya bi, makasih" ucap arif dan
segera menyantapnya. "enak bi, istri saya aja ga seenak ini masakannya"
pujinya kepada bi Esih. bi Esih hanya tersenyum dan agak sedikit malu. "ah
yang bener den, biasa aja koq bibi masaknya" "bener lho bi, pas sekali
bibi masak sayur asamnya, kacangnya ga terlalu keras" pujinya lagi. "ah
den arif bisa aja bikin geer bibi, oh iya den bibi tinggal dulu ya, mau
mandi dulu" "oh silakan bi" jawabnya.
Sesudahnya makan ia hendak membereskan piring dan yang lainya dan berniat
untuk mencucinya meskipun itu adalah pekerjaan bi Esih. belum selesai
menucinya, tiba-tiba di belakang bi esih melarangnya untuk mencucikan
piring yang kotor tadi. "eh den, biar bibi saja yang bersihinnya"
suruhnya. "oh udah beres mandinya bi? ah gapapa koq bi sekali-kali bantuin
bibi, kan bibi tadi lagi mandi" Ia seperti kebo bego, hanya memandangi
tubuh pembantunya yang lumayan montok itu. meski sudah tidak muda lagi
tubuh bi esih masih kencang dan mulus, hal itu diakui arif. "lho koq den
arif bengong kaya gitu, kenapa den" tanya bibi pura-pura, menggodanya.
dengan sedikit tersentak dan agak malu juga ia setelah ditanya begitu.
kemudian arif yang sudah tidak tahan lagi segera mendekati bi esih dan
mencoba meraih tubuhnya untuk dipeluk. namun bi esih melakukan sedikit
perlawanan dengan mencoba menghindarnya"den jangan den jangan, bibi takut
dengan non Rima" gumamnya. "ia kan sedang tidak ada, bibi ga usah takut,
tenang aja ya bi" mencoba menenangkan bi esih dan kembali mencoba
merangkulnya. kali ini bi esih tidak lagi terlihat menghindar. Desahan
kecil terdengan dari mulut bi esih yang tidak tahan lehernya diciumi dan
dijilati oleh mulut kasir majikannya itu. "aough" kemudian mulutnya
perlahan menuju bibir bi esih dan dan segera menciuminya. sambil keduanya
beradu bibir arif membukakan lilitan handuknya kini yang tampak adalah Bra
berwarna hitam sama dengan warna CDnya, tangan kanannya mulai
menggerayangi salah satu toket bi asih sesekali dimainkanya putingnya
dengan diplintirnya sedangkan tangan kirinya bergeriliya di daerah
vaginanya, kini bi asih melepaskan bibirnya dari arif seakan menyerah tak
kuasa menahan kenikmatan semua bagian vitalnya kini diobok-obok, posisi
wajahnya ke atas menatap atap langit-langit dapur sedikit menggigit
bibirnya sendiri seraya mendesah "aakkhh... akkhhhh.. " "den bibi pegal
nih kita pindah aja yuk ke kamar!" pinta bi esih yang merasa pegal setelah
agak cukup lama dengan posisi berdiri. tak tega keluhannya kemudian arif
memboyong bi esih ke kamar bi esih yang tidak jauh dari tempat semula
mereka berada. kini posisi bi esih terlentang dengan kedua paha di atas,
kini arif mencoba menjilati kemaluannya yang masih terbungkus CD, tampak
bi esih sedang meremas-remas kedua susunya sendiri. tidak puas karena
terhalang oleh CDnya itu, kemudian ia segera membukanya dan mulai kembali
menjilati memek bi esih yang tidak berjembut itu dan tampak
kemerah-merahan dan mulus serta putih bagian pinggir-pinggirnya.
desahannya kini semakin keras saja, benar-benar tidak kuat lagi jilatan
arif terhadap memeknya itu. "den, sudah den bibi ga kuat lagi, sekarang
aja ya masukinnya!" kemudian arif pun segera memlucuti seluruh pakaiannya
termasuk celana dan CDnya. sambil mengocok-ngocokkan kontolnya itu ia
mencoba mendekatkannya ke lubang vagina bi esih serta ditempelkannya dan
dimasukannya dengan didorong nya ke dalam perlahan-lahan dan seterusnya.
bi esih hanya mengerang seperti kesakitan, namun dirinya tahu kalo bi esih
sedang menikmatinya. tusukannya semakin dalam dan cepat saja gerakannya
memajumundurkan kontolnya itu. setelah sekitar setengah jam lamanya
akhirnya keduanya hampir bersamaan mengeluarkan air maninya masing-masing
yang dimuntahkannya di dalam vagina bi esih. Kemudian cukup agak lama
mereka berciuman dengan mesra hingga mereka terbaring dengan posisi
berdekapan. Setelah agak lama mereka beristirahat kemudian mereka
melakukannya lagi hingga lima kali sampai puncak kenikmatan.
Dari kejadian itu kini semakin menjadi-jadi, bisa dikatakan hampir tiap
hari dilakukannya ketika istrinya tidak ada di rumah. bahkan sampai ia dan
rima mempunyai dua orang anak.
|
|
|
|