|
Email Affair |
Seperti yang para pembaca telah ketahui lewat kisah nyata saya bercinta
dengan anjing dan pengalaman saya sewaktu naik bis di Italy, sekarang saya
akan menceritakan apa yang terjadi setelah saya mengirim kisah-kisah saya
itu lewat 17thn.
Tak lama setelah saya mengirim kisah nyata saya itu, saya banyak menerima
kiriman e-mail dari para pembaca yang menyukai kisah saya dan banyak dari
mereka yang ingin bercinta dengan saya sehingga terus terang saya sering
bermasturbasi sambil membaca e-mail mereka satu persatu dan tentunya saya
membuka e-mail saya ketika Erick tidak ada di rumah.
Diantara e-mail yang saya terima, saya mengenal satu cowok Indonesia yang
kebetulan membaca kisah saya dan dia juga berada di Roma, Italy. Nama
cowok itu adalah Herman Irwanto. Karena dia berada di Roma, maka pada
suatu kesempatan ketika Erick berada di luar rumah, saya mengajak Herman
untuk datang main-main ke rumah saya. Herman Irwanto adalah seorang pemuda
yang cukup tampan, tingginya sekitar 180 cm dan memiliki perawakan yang
sedikit mirip dengan bule. Menurut pengakuannya, dia masih keturunan orang
Italy makanya perawakannya mirip seperti bule. Sewaktu dia datang ke rumah
saya, dia melihat si Polly yang berada di dalam kandang dan dia langsung
tersenyum kepada saya karena dia mengetahui apa yang saya lakukan bersama
Polly sebelum dia mengenal saya.
Saya sebenarnya mengenal dia hanya karena keisengan saya menjawab e-mail
Herman yang berada di mailbox saya. Keisengan dan kata-kata "ngeres" saya
kepada Herman membuat dia semakin ingin bertemu dengan saya dan akhirnya
karena saya membutuhkan kehangatan sewaktu kekasih saya tidak ada, saya
memberikan alamat kepada Herman yang kebetulan berada di Italy. Sehingga 1
hari setelah perkenalan saya dengan Herman lewat Hotmail, saya kemudian
mengajaknya datang ke rumah saya disaat Erick tidak ada di rumah.
Kemudian saya mengajaknya masuk ke rumah saya yang lumayan besar. Herman
duduk di ruang tengah sementara saya menyiapkan air sirup untuknya. Ketika
saya sedang menyiapkan sirup untuknya, tiba-tiba saya merasakan ada
pelukan di belakang saya dan saya baru menyadari bahwa Herman sudah ada di
belakang saya dan dia menciumi leher saya yang jenjang. Ciumannya yang
lembut membuat nafsu erotis saya bangkit kembali dan dengan gerakan
refleks saya langsung berbalik ke arahnya dan langsung mencium bibirnya.
Saya langsung memainkan lidah saya di dalam mulutnya sementara tangan
Herman sedang mengusap-usap paha saya dan dilanjutkan bermain di balik rok
saya. Dengan tenangnya, Herman melepaskan celana dalam saya dan
menggendong saya ke dalam kamar saya. Saya masih terus mencium bibir
Herman.
Sewaktu di ranjang, saya hanya diam saja sewaktu Herman menelanjangi saya.
Sewaktu saya sudah tanpa busana, Herman membuka pakaiannya sehingga saya
bisa melihat sosok laki-laki macho di depan saya. Saya sempat menelan
ludah melihat batang kemaluannya yang berukuran 23 cm yang lebih besar
beberapa cm dari batang kemaluan Erick dan tentunya lebih besar dari Penis
Polly.
Dengan tangkasnya, Herman langsung mendekati liang kenikmatan saya dan
dengan tangkasnya dia langsung menjilati liang kenikmatan saya. Klitoris
dan bibir kemaluan saya disapu bersih oleh lidahnya dan hal ini membuat
saya menjadi gemetaran karena menahan kenikmatan yang tiada tara ini. Saya
kemudian mendorong kepala Herman supaya lebih semangat memainkan lidahnya
di kelamin saya dan selain itu, saya sudah hampir mendekati klimaks yang
begitu saya impikan selama ini. Jilatan-jilatannya yang ahli akhirnya
membuat saya menyerah, kemudian secara tiba-tiba saya jepit kepala Herman
sehingga dia susah bernafas. Saya merasakan sesuatu yang maha dasyat yang
keluar dari liang kenikmatan saya. Cairan saya banyak sekali dan langsung
disapu bersih oleh Herman dengan lidahnya sehingga nafsu seks saya menjadi
bangkit kembali karena ulah Herman ini.
Kemudian Herman menghentikan permainan oralnya dan dia mulai mengacungkan
batang kemaluannya yang semakin besar sehingga membuat saya menelan ludah
berkali-kali karena saya yakin sebentar lagi saya akan menikmati
kenikmatan yang tiada tara dari batang kemaluannya yang maha besar itu.
Sambil berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam liang kenikmatan
saya, dia menjilati payudara saya yang semakin mengeras karena nafsu saya
tersebut. Payudara saya ini habis dilumat oleh mulut dan permainan
lidahnya, sementara batang kemaluannya berhasil menyeruak masuk ke dalam
liang kenikmatan saya sehingga saya menjadi blingsatan sewaktu batang
kemaluannya menguasai liang kenikmatan saya. Herman terus-menerus menekan
tubuh saya dengan batang kemaluannya di dalam liang kenikmatan saya
sementara tangannya sudah aktif dan mengelus-elus payudara saya yang mulai
mengeras.
Kemudian dengan tenaganya yang luar biasa, dia menggendong saya secara
mendadak sehingga secara refleks, saya juga menyilangkan kaki saya yang
cukup panjang ke belakang punggungnya. Sambil terus mengocok batang
kemaluannya di dalam liang kenikmatan saya, dia menggendong dan membawa
saya ke ujung dinding kamar saya. Saya bersandar pada dinding sementara
tubuh saya masih berada dalam gendongannya. "Ohhh.. nikmattt.. sekali",
para pembaca, Herman benar-benar membuat saya semakin menyukai permainan
seks ini.
Sambil terus menggenjot saya, dia berkata kepada saya "Florence sayang,
mana yang lebih enak bercinta dengan Herman atau dengan Polly?" dan saya
menjawab sambil mendesah, "Arrrgghhh... sama Hermannn.. ehmmm.." dan
sehabis saya mengucapkan kata-kata itu, mulut saya habis dilumat oleh
mulutnya dengan kasar, kemudian Herman menurunkan saya dan menyuruh saya
untuk telungkup di ranjang. Setelah saya membelakanginya, Herman dengan
cepatnya memasukkan batang kemaluannya yang sudah berkilat karena
bercampur cairan kewanitaan saya ke dalam anus saya. Tentunya saya merasa
kesakitan karena terus terang saya belum pernah melakukan anal seks.
Tetapi ketika batang kemaluan Herman menusuk-nusuk lubang dubur saya, saya
merasakan sesuatu sensasi yang sungguh susah dilukiskan oleh kata-kata.
Herman sepertinya tidak perduli dengan apa yang dia lakukan karena dia
terus-menerus menggenjot tubuh saya dengan batang kemaluannya yang besar
itu. Herman menggenjot tubuh saya sambil tangannya meremas payudara saya
sehingga saya semakin berteriak tidak karuan.
Tidak lama kemudian, Herman mengeluarkan batang kemaluannya kembali dan
dia langsung tiduran di ranjang. Saya mengerti apa maksudnya, saya
langsung bangkit dan kemudian duduk di atas tubuhnya. Saya mengarahkan
rudalnya untuk masuk ke dalam liang kenikmatan saya. "Blesss", masuklah
batang kemaluannya yang besar dan saya mulai menggoyang-goyangkan tubuh
saya ke atas dan ke bawah sambil saya meliuk-liuk membentuk suatu
sillhoute. Sambil terus menggenjot tubuh Herman, saya memencet payudara
saya. Hingga tidak berapa lama, saya merasakan ada sesuatu yang ingin
keluar dari dalam liang kenikmatan saya dan saya yakin bahwa saya akan
mencapai masa orgasme sehingga saya berteriak kepada Herman dan saya
mengaku kepadanya bahwa saya akan keluar.
Herman semakin mempercepat gerakannya sambil tangannya memeluk saya dengan
kencang. Desakan batang kemaluan Herman yang panjang di dalam liang
kenikmatan saya akhirnya membuat saya mengeluarkan suatu cairan keindahan
dan saya bergetar hebat untuk beberapa menit dan sewaktu saya sedang
menikmati tiap menit kenikmatan ini, saya kembali sadar bahwa Herman tidak
boleh menembakkan spermanya di dalam liang kenikmatan saya karena saya
takut hamil. Akan tetapi karena saya begitu nikmatnya sehingga saya lupa
untuk memperingatkan Herman dan akhirnya Herman menembakkan cairan
kentalnya lewat rudal privatnya ke dalam liang kenikmatan saya sehingga
saya kembali merasakan sensasi yang luar biasa ketika spermanya membasahi
liang kenikmatan saya. Herman kembali mencium saya sambil berkata, "Lain
kali jika mau bercinta, jangan sama Polly, kamu bisa telpon saya", dan
setelah itu saya istirahat dalam pelukannya dan saya mencium keningnya
karena saya suka atas permainannya.
Inilah kisah nyata saya sewaktu Erick tidak ada di rumah dan setelah saya
mengirim kisah saya bersama Polly. Kiriman e-mail dari para peminat seks
akhirnya berhasil membuat saya mencapai masa klimaksnya dan saya semakin
ingin menemui para fans-fans saya yang telah mengirimkan E-mailnya kepada
saya. Saya mengucapkan terima kasih kepada para fans saya, 17thn yang
telah memuat kisah saya serta kepada Herman Irwanto yang telah memuaskan
saya.
|
|
|
|