|
LIANA, ISTRI YANG BAHAGIA |
SUATU kali di sebuah milis, aku membaca sebuah thread dari seorang pria.
Dia minta foto-foto bugil versi voyeurisme. Karena aku punya koleksi, aku
kirim lewat japri kepadanya. Dia membalas melalui email, mengucapkan
terima kasih dan minta koleksi lain kalau ada. Aku kirim. Balasan
selanjutnya, pria itu menceritakan tentang keanehan yang ada pada dirinya.
Dia sangat suka mengintip, baik orang yang lagi ML maupun perempuan bugil.
Bahkan istrinya sendiri pun dia intip. "Ada kepuasan tersendiri, walau
ngintip istri sendiri," tulisnya.
Sejak itu kami sering berkirim email. Aku juga tahu bahwa Om Han tinggal
di kota yang sama denganku. Dia selalu bercerita tentang dirinya. Dari
situ aku tahu, laki-laki itu agak lemah secara seksual. Dia menyadari
betul. Dia baru bisa terangsang secara hebat jika sudah mengintip.
Sementara istrinya termasuk perempuan yang amat doyan seks. Selalu
meminta, tapi jarang terpenuhi. Suami yang malang. Dia juga tahu istrinya
tidur dengan beberapa laki-laki lain.
Keterbukaan Om Han -- begitu aku menyapanya -- semakin lebar. Dia akhirnya
membuka rahasia besarnya dengan mengatakan bahwa dia sebenarnya ikut andil
dalam perselingkuhan istrinya. Andil? Om Han sendiri yang mengaturnya,
menyutradarainya. Sesungguhnyalah istrinya masuk ke dalam jebakan Om Han.
"Aku puas melihat bagaimana istriku bergumul dengan laki-laki itu. Aku
bahkan terangsang sangat hebat, dan seolah punya kekuatan ganda ketika
menyetubuhi Liana sambil membayangkan Liana dimakan laki-laki lain,"
katanya dalam email.
Om Han adalah seorang pria keturunan. Umurnya sekitar 45 tahun, hanya
berselisih dua tahun denganku. Istrinya, Liana, berumur sekitar 35 tahun.
Mereka sudah belasan tahun menikah tetapi belum punya anak. Keduanya
saling mencintai. Liana adalah tipe istri yang setia sebelumnya. Ya,
sebelum Om Han menjebaknya.
Aku sangat suka membaca email-email Om Han. Ceritanya benar-benar seru dan
mencengangkan. Tadinya aku mengira, orang-orang "sakit seks" seperti Om
Han hanyalah khayalan, atau cerita bohong. Dan pada suatu ketika Om Han
menulis email begini: You mau gak meniduri istriku?
Aku terpana. Tidak menyangka akan menerima pertanyaan selugas itu. Tawaran
menggiurkan, tetapi sulit untuk aku jawab. Tak mudah mengatakan "Mau". Ada
perasaan tidak enak. Selama ini aku telah memposisikan diriku sebagai
seorang "sahabat", tempat curhat. Bagaimana mungkin aku harus meniduri
istrinya? Terminologinya seolah aku merampas wilayah Om Han. Aku juga
membayangkan bagaimana rasanya kalau istriku ditiduri pria lain. Uhhh....
"Tetapi semua itu juga tergantung nasib. Maksud saya, kalau Liana mau.
Kalau dia merasa tak selera dengan Bung Andy, yaa you harus mengerti,"
tulis Om Han.
Dalam email-emailku selanjutnya aku tidak mengatakan secara tegas bahwa
aku mau. Aku tidak yakin, ada perasaan khawatir, ada ketidakpercayaan. Om
Han tampaknya menilai aku mengkhawatirkan wajah istriku. Makanya dalam
email selanjutnya dia kirim foto istrinya. Seorang perempuan keturunan
Tionghoa yang cantik. Bahkan kiriman selanjutnya sangat mencengangkan.
Foto Liana selagi tidur, hasil "intipan" Om Han. Difoto dari berbagai
pose, termasuk yang menampakkan paha mulus dan CD-nya.
Seperti sudah kuungkapkan di depan, semua perselingkuhan Liana atas
prakarsa diam-diam Om Han. Om Han yang memberi jalan bagaimana pertemuan
antara Liana dengan kekasih gelapnya terjadi, dan seterusnya sampai
berlanjut ke kamar hotel. Baik, aku ceritakan saja tentang apa yang aku
alami.
Setelah aku menerima tawaran Om Han (dengan malu-malu), akhirnya Om Han
mengajukan beberapa syarat. Pertama, semua harus diatur oleh Om Han. Aku
tinggal menjalani semua skenarionya. Jika aku melanggar, maka semuanya
batal.
"Jika semua lancar dan aku merasa puas, aku bahkan akan membayar Bung Andy
dengan uang yang cukup,' katanya. Kedua, aku harus menjaga kerahasiaan.
"Kita mencoba mencari kesenangan. Semua harus bersenang-senang, dan
berakhir penuh kesenangan. Aku tidak mau ribut-ribut." Aku setuju dengan
syarat-syaratnya.
Komunikasiku dengan Om Han selanjutnya dilakukan lewat HP. Om Han
menceritakan kebiasaan istrinya, kesukaannya. "Itu harus you pahami agar
bisa menaklukkan istriku." Dari situ aku tahu banyak kepribadian dan
kebiasaan Liana.
Liana termasuk perempuan pemalu, tetapi sangat suka dipuji. Sebagaimana
perempuan Tionghoa lainnya, Liana agak membatasi diri terhadap pria
non-Tionghoa. Karena itu Om Han minta supaya aku sangat berhati-hati.
Liana punya kegiatan berenang setiap hari Rabu. Om Han memberi tahu tempat
berenangnya. Dia biasa makan di resto kolam renang selepas berenang. Dia
selalu membawa mobil Peugeot 206 hijau metalik, nomor XXXX. "Kalau ada
prempuan turun dari mobil itu, dialah Liana," kata Om Han.
Om Han menyarankan aku supaya juga berenang, dan sesekali mendekat ke arah
Liana supaya perempuan itu mulai terbiasa dengan wajahku. Tetapi jangan
buru-buru melakukan pendekatan di kolam renang. Lebih baik di resto. Dan
sebelum aku melakukannya, aku mesti meminta izin kepada Om Han.
Akhirnya Rabu pagi itu aku mengontak Om Han, mengatakan bahwa aku akan ke
kolam renang. Om Han setuju, dan mengingatkan kembali tentang apa-apa yang
harus dan tidak harus aku lakukan. "Selamat berburu. Semoga sukses Bung
Andy," katanya. Sekitar jam 10 aku membolos kerja, hanya untuk mencari
perempuan bernama Liana. Sengaja aku datang agak pagi supaya tidak
keduluan Liana. Aku memarkir mobil, dan menunggu. Sekitar 30 menit
kemudian datangah mobil yang aku tunggu.
Seorang perempuan dengan tinggi badan sekitar 160cm turun dari mobil.
Rambutnya sebahu. Kulit putih bersih dan tubuh yang padat berisi. Dia
menenteng sebuah tas. Setelah dia masuk ke area kolam renang aku
menyusulnya. Masuk ke ruang ganti dengan buru-buru supaya bisa mengikuti
Liana. Soalnya aku takut keliru dengan perempuan lain. Maklum hanya
sekilas tadi aku melihat wajah Liana.
Setelah mengenakan pakaian renang, akupun mencebur ke kolam. Berenang.
Tidak banyak orang. Hanya beberapa yang berenang, itupun hampir semuanya
orang-orang chinese. Aku lihat perempuan menuju kolam. Liana. Gila,
bodinya bener-bener membuatku ngiler. Alangkah sedapnya bisa meniduri dia.
Perempauan itu sudah membasahi tubuhnya dengan air. Pakaian renangnya
benar-benar mengeksplorasi keindahan tubuhnya. Dia segera mencebur, dan
berenang gaya dada. Memperhatikan Liana, jantungku berdebar-debar. Aku
tidak berani bertindak. Aku ikuti saran Om Han. Awalnya jarak start kami
sekitar 3 meteran. Tetapi ketika berbalik arah aku sengaja landing
mendekat ke arah dia. Lalu pura-pura istirahat, menunggu Liana datang.
Setelah beberapa kali, akhirnya terjadilah. Liana tersenyum kecil ke
arahku. Aku membalasnya. Mungkin itu dia lakukan karena memang tak banyak
yang berada di kolam, dan kami selalu berdekatan posisi. Makin lama makin
sering kami melempar senyum, dan aku mencoba untuk menyapanya.
"Gerakannya bagus sekali. Dulu les ya ci?" kataku memuji. Dia tersenyum
tapi tidak menjawab dengan kata. Aku tinggalkan dia dan mengambil gaya
kupu-kupu. Aku ingin menarik perhatiannya. Ini adalah gaya yang paling
sulit. Tak banyak yang bisa melakukan kecuali pernah ikut les. Rupanya dia
memperhatikanku.
"Mas tuh yang pernah les," katanya. Aku senang sekali.
"Sudah lama sih," jawabku. Pura-pura tak acuh, aku kembali mengayunkan
tangan dan kaki menjauh darinya. Liana masih di sana. Mungkin mulai
kecapekan. Ketika kembali ke tempat semula aku mendekati Liana.
"Sering berenang ke sini ya ci?"
"Ya kadang-kadang aja."
"Ooo, saya baru kali ini. Biasanya di Graha. Tapi pengin suasana baru.
Ternyata di sini enak. Sepi dan airnya jernih," kataku.
"Di Graha juga jernih kan?
Percakapan ringan terjadi. Kami mulai agak akrab. Sampai akhirnya kami
berada di resto. Dia memesan mie titee, dan aku pisang goreng.
"Laper kalau habis berenang," kataku. Liana membungkus tubuhnya dengan
handuk. "Kok sendirian aja ci?"
"Iya saya biasa sendirian," sahutnya.
"Gak dianter pacar? Ga kerja?"
"Pacar, saya sudah bersuami kok. Suami saya kerja saya ibu rumah tangga."
"Hah? Sudah bersuami? keliatannya kayak bujangan. Emang umur cici berapa?
Aku berbohong, sekadar untuk membuatnya bangga.
"35 tahun."
"Ahh bohong. Masih muda gitu."
Percakapan itu berjalan lancar. Kami juga sempat tukar-menukar nomor HP.
Kami berjanji akan bertemu lagi Rabu pekan depan.
Aku ceritakan semuanya ke Om Han yang terjadi hari itu. Om Han juga senang
dan memujiku sebagai pria yang gentle. "Kayaknya you mau sukses. Teruskan
saja." Om Han juga mengizinkan aku untuk berkomunikasi lewat HP dengan
istrinya. Yang penting. Aku tidak boleh berkencan tanpa sepengetahuannya.
Aku juga dilarang bercerita soal keterlibatan Om Han, karena Liana bisa
tersinggung. "Nanti bisa bisa buyar semuanya," kata Om Han.
Komunikasi lewat SMS dengan Liana berjalan lancar. Bahkan sudah mulai
mesra, sampai kahirnya aku mengajaknya untuk berkencan. Ajakanku diterima,
dan aku melaporkan itu kepada Om Han. Akhirnya Om Han memintaku bertemu
dengannya. Aku menemui Om Han di sebuah kafe pada sore hari. Om Han
berbadan tinggi. Wajahnya biasa saja. Sejak semula aku menduga dia orang
yang sangat kaya. Dan itu terbukti ketika aku bertemu untuk pertama
kalinya. Dia mengendarai BMW jenis SUV warna hitam. Mobil yang gagah
sekali. Limited edition. Dia senang sekali bertemu denganku. "Maaf Bung
Andy, kayaknya Bung Andy menjadi pria Jawa pertama yang meniduri Liana.
Selama ini yaa sesama chinese," katanya. Setelahnya Om Han akan mengatur
jadwal kencanku dengan Liana.
"Aku yang booking kamar, tapi nanti bilang sama Liana, you yang booking,"
kata Om Han.
Ternyata aku harus booking kamar di Hotel X. Kenapa tidak di Hotel Y,
rupanya inilah tak-tik Om Han untuk mengintip aku dan Liana. Om Han
membooking dua kamar. Satu untuk aku, satu lagi kamar sebelahnya untuk dia
dan peralatan mengintipnya. Dan ... ini yang tidak disadari Liana. Di
dalam mobil Liana telah terpasang kamera pengintip yang tersembunyi.
Kamera ini terhubung melalui sinyal ke dalam monitor yang ada di tangan Om
Han. Dia tahu semua yang terjadi di mobil istrinya. Ini baru aku ketahui
beberapa hari setelah kencan terjadi. Itu pun atas pemberitahuan Om Han.
Karena itu Om Han minta supaya kencan dilakukan dengan mobil Liana,
sehingga sepanjang perjalanan menuju hotel, Om Han mengetahui apa yang
terjadi. Benar-benar luar biasa laki-laki tajir itu. Sepanjang perjalanan
aku dan Liana memang sudah saling cubit, saling remas. Bahkan aku yang
pegang kemudi digoda dengan remasan-remasan nakal di kontolku. "Ayooo..
keluarin di mobil aja..." Liana tertawa.
"Dodol ah..." jawabku. Singkat cerita aku dan Liana telah memasuki kamar
hotel. Tak sabar rasanya ingin segera ngentot Liana. Sejak dalam
perjalanan nafsuku sudah meledak-ledak.
Begitu pintu kamar aku kunci, aku langsung mendekap Liana dari belakang,
dan aku hujani tengkuknya dengan ciuman penuh nafsu. Liana terpekik. Tas
tangannya terjatuh. Dia membalikkan badan dan menyambut dengan penuh
gelora ciuman bibirku. Kami berpagutan. Aku lepas blus yang membungkus
tubuhnya. Juga bra yang membungkus bukit kembarnya. Toketnya yang putih
dengan puting warna pink menyembul. Masih kenceng, seperti puting gadis
perawan. Aku dengan rakus melumatnya. Aku tak peduli lagi bahwa apa yang
aku lakukan ini diintai dengan kedua mata Om Han, suami Liana.
Aku rebahkan tubuh Liana, kulucuti semua pakaiannya hingga tak satu helai
benang menempel di tubuh putihnya. Aku jilati semuanya. Semua. Benar-benar
baru kali ini aku melihat tubuh seputih itu. Bahkan di antara
selangkangan, seputar anus, nyaris tanpa warna coklat atau hitam. Tak
ragu-ragu, aku jilati seluruh memek dan isinya, juga seputar anusnya.
Liana menggelepar-gelepar tidak karuan. Dia meminta kontolku, dan
dikulumnya dengan rakus.
"Agghhhhh...." Aku mengeluh panjang. Kuluman yang luar biasa. Tampaknya
Liana sangat pintar. Kontolku terbenam seluruhnya ke dalam
kerongkongannya. Kontolku memang tidak terlalu besar dan panjang. Ya
ukuran Asia, sekitar 12cm. Bibirnya menempel di kulit perut bawahku. Dia
hisap, dia kili-kili dengan lidahnya. Aku menjerit tertahan. Merasakan
nikmat yang amat sangat. Lama kami bermain 69. Rupanya Liana sangat suka
gaya ini. Dia tak segera mengakhiri permainan 69. Dia balikkan tubuh kami,
sehingga aku berada di bawah. Diangkatnya pantatnya sehingga memeknya
menjauh dari mulutku. Tadinya aku mengira dia ingin mengakhiri 69. Tetapi
ternyata Liana ingin mulutku mengejar memeknya. "Ayo sayang... emut
lagi..." pintanya. Ketika aku menjilat, dia berusaha menjauhkan lagi
dengan mengangkat bokongnya. Maka aku pun memeluk pinggangnya.
"Yeahhhh...." Dia melenguh saat tubuhku menggandul di pinggangnya sambil
menjilati itilnya. "Terusss... sayang... teruss..." Ia kembali mengemut
kontolku. "Pakai jari sayang..."
Aku masukkan jari tengahku, dan mengobok-obok memeknya yang sudah basah
kuyup. Liana melonjak-lenjak kenikmatan, lalu mengerang tertahan. Rupanya
dia orgasme. Bersamaan dengan itu, diisapnya kontolku kuat-kuat.
"Keluarin sayang... keluarin...." Dia menepuk-nepuk pahaku memintaku
segera ejakulasi. Aku coba mengejan, tetapi tak juga berasa ejakulasi. Dia
kocok kontolku dengan mulutnya sambil terus dihisap-hisap.
"Ohhhh... sayang... aku mau keluar," kataku.
"Ayoo keluarin.. keluarin..."
Dan akhirnya memang keluar. Maniku menyemprot jauh ke dalam
kerongkongannya. Dia menghisap begitu kuatnya, sampai kontolku terasa
ngilu, dan tubuh seolah terpental ke awang-awang. Baru kali ini aku
mengalami ejakulasi sehebat ini. Setelah itu, benar-benar lemas. Nyaris
seperti pingsan. Liana tampak berusaha menelan sisa-sisa maniku di
mulutnya.
"Kamu gak jijik say?"
"Gak. Enak banget kok," katanya. "Kan tadi kamu juga gak jijik jilati
anusku." Aku meraih tubuhnya dan mencium dia. Aku memeluk erat Liana
sebagai rasa terima kasih atas pelayanannya yang luar biasa.
Kami kembali bermain beberapa menit kemudian. Persenggamaan yang seru.
Gaya-gaya dalam BF yang belum pernah aku jalani kami lakukan. Hanya ketika
aku meminta anus, Liana menolak. Rupanya Liana paling suka gaya tusukan
dari belakang. Dia memunggungiku, aku mengarahkan kontol melewati
pantatnya. Dia menjerit-jerit, mencengkeramku. Dia berusaha menoleh ke
belakang mencari bibirku. Ketika kami berciuman lidahnya menari-nari liar.
Dia juga memintaku menjulurkan lidah, dan dihisap-hisapnya lidahku.
Semakin aku keras menggenjot kontol, semakin liar reaksi dia. Liana
menyukai gaya itu, katanya sentuhan kontol ke bagian-bagian memeknya
sangat fantastis. Dia juga merasa kenikmatan ketika bulu-bulu kemaluanku
menyapu pantatnya. "Kayak dikili-kili.." katanya. Kami bermain sampai sore
hari. Sekitar jam 4 sore Liana berkemas.
"Aku harus segera pulang. Sebentar lagi suamiku pulang kerja. Kalau aku
gak ada di rumah bisa dicincang aku," katanya. Aku diam saja, dan baru
teringat akan Om Han. Entah apa yang dipikirkan dan dilakukan pria itu di
kamar sebelah....
Aku tidak pernah tahu karena Om Han tidak pernah bercerita dan aku tidak
enak hati bertanya. Yang agak mengagetkanku, keesokan harinya Om Han
mencoba memberiku sejumlah uang. Cukup banyak. Kutaksir lima jutaan.
Tetapi aku menolaknya. Dia coba memaksa, tetapi aku tetap menolak. "Saya
kan yang diuntungkan Om, saya yang enak." Om Han tampaknya senang dengan
reaksiku.
Percintaanku dengan Liana berlanjut beberapa bulan kemudian. Semua
berjalan lancar. Selama itu aku tidak pernah mengkhianati Om Han dengan
misalnya kencan diam-diam. Setelah itu Om Han memintaku mengakhirinya.
"Ini untuk kebaikan bersama Bung," katanya. Baik untuk menjaga rahasia
dari Liana, juga mencegah kemungkinan larutnya aku ke dalam hubungan yang
lebih personal dengan Liana. "Kasihan istri Bung kalau keterusan. Aku
mohon pengertian Bung ..."
Meski dengan berat hati, aku menuruti kemauan Om Han. Sejak itu aku
mencoba menghindari Liana, dan kembali hidup sebagai petualang yang
berburu mangsa....***
|
|
|
|
|
|