|
Kemarau akhirnya berlalu. Rintik hujan pertama jatuh di senja hari Rabu
itu, saat orang-orang pada umumnya berada di rumah. Awan yang
menjanjikan hujan sebenarnya telah sering bergantung-gantung di langit
selama seminggu terakhir ini. Tetapi baru sekarang hujan benar-benar
turun. Mulanya hanya menetes-netes seperti tidak sungguh-sungguh hendak
turun ke bumi, tetapi lalu dengan cepat membesar. Tanah yang telah lama
kering, segera menghisap air dengan cepat, dan bau bumi yang basah
segera memenuhi udara. Pohon-pohon seperti jejingkrakan, selayaknya
anak-anak yang ramai mandi hujan di halaman rumah masing-masing. Kino
berada di beranda rumah Alma ketika hujan turun. Patut kiranya
diketahui, hubungan mereka telah membaik kembali, setelah sempat "perang
dingin" selama seminggu. Kepergian Mba Rien dan rasa sedih yang
menelungkupi Kino telah menjadi picu dari ketegangan itu. Tetapi
kemudian segalanya kembali seperti semula, dan Kino kembali mengantar
Alma pulang setiap hari, atau membuat PR bersama seperti hari ini.
"Akhirnya hujan turun juga....," Kino menggumam, berdiri di beranda
memandang halaman rumah Alma dengan cepat tergenang air. Alma berdiri di
sampingnya, menggigit-gigit pensil, merengkuh tangan kekasihnya.
"Seperti dicurahkan dari langit," ucap Alma perlahan, mendongak
memandang garis-garis air turun seperti jarum-jarum raksasa dari langit
yang gelap kehitaman.
"Aku suka air hujan," kata Kino, "Aku tidak suka terik
berkepanjangan. Rasanya badanku mengering di saat kemarau, dan segala
sesuatu bisa berubah menjadi bencana,"
"Mmm...," Alma cuma bergumam. Ia juga tidak suka kemarau, terutama
kemarau yang baru saja lalu. Ia tidak suka pertengkaran terjadi antara
mereka berdua, dan sekarang bersyukur karena hujan telah datang. Mungkin
benar kata Kino, kemarau lah yang menyebabkan mereka berdua bertengkar.
Kino memeluk bahu Alma, dan gadis itu menyandarkan kepalanya manja ke
dada kekasihnya. Berdua mereka memandangi hujan, hampir lupa mengerjakan
PR matematika yang tertinggal di atas meja. Kalau tidak terdengar Ibunda
mendehem dari ruang tamu di dalam, pastilah PR itu tak kan pernah
selesai.
*****
Musim hujan juga mengiringi hari-hari akhir dari sekolah Kino dan
Alma. Mereka kini telah duduk di kelas tiga, dan telah memasuki masa
akhir. Ujian akan segera tiba, lalu mereka harus menempuh perguruan
tinggi. Segalanya berjalan dengan cepat, seakan-akan air hujan ikut
memperlancar roda kehidupan di kota kecil itu. Tanpa terasa, Kino dan
Alma kini tenggelam lagi dalam kesibukan mempersiapkan diri menghadapi
kertas-kertas ujian.
Mereka belajar dengan intensif, dalam kelompok yang semakin besar,
karena melibatkan pula Dodi dan Iwan dan dua teman putri yang konon
adalah pasangan mereka: Sita (pacar Dodi) dan Wiwik (pacar Iwan). Enam
orang ini sering berkumpul, terutama di rumah Alma yang adalah rumah
terbesar di antara rumah-rumah mereka, dan karena hanya Alma yang
rumahnya tidak ramai oleh anak-anak kecil. (Alma adalah putri bungsu.
Kedua kakaknya sudah tinggal di luar rumah).
Sesekali, mereka juga belajar di rumah Iwan yang punya kebun jambu di
halaman belakangnya. Tetapi belajar di rumah Iwan adalah kesia-siaan
belaka. Mereka lebih sering berada di atas pohon jambu, masing-masing
berbekal sekantong garam-cabai-terasi. Sedap sekali makan rujak di atas
pohon!
Belajar bersama dalam kelompok besar juga sering menimbulkan
pertengkaran. Maklumlah, ada enam kepala remaja yang keras,
masing-masing tidak mau mengalah kecuali kepada pasangannya. Dan kalau
ada tiga pasang remaja bertengkar, pastilah tidak ada penyelesaian. Alma
paling sering mengeluhkan hal ini kepada Kino, dan mengusulkan agar
mereka kembali belajar berdua saja. Apaboleh buat, Kino pun setuju, dan
Dodi maupun Iwan cuma menggerendeng tak berani menyatakan penolakan.
Tetapi belajar berdua --sebagai sepasang kekasih-- juga ada
kelemahannya bukan?
*****
Siang itu, ketika Kino dan Alma tiba dari sekolah, ibu Alma terlihat
sedang berkemas-kemas dibantu asistennya. Sebuah tas hitam besar berisi
alat-alat kebidanan tampak telah siap. Sebuah mobil milik BKKBN menunggu
di jalan.
"Ibu harus ke kota R, Alma," ucap Ibunda, tampak terengah-engah
karena harus berjalan bulak-balik. Ibu ini terlalu gemuk, pikir Kino
dalam hati. Cepat-cepat ia menolongnya membawa tas ke mobil.
"Kino,.. tolong temani Alma hari ini. Ayahnya juga sedang rapat
sampai malam di kantor Bupati," kata Ibunda sambil menutup pintu mobil.
Lalu, sebelum mobil berjalan, ia melongokkan kepala dari jendela dan
berucap, "Kamu makan siang di sini saja, Kino. Lalu belajarlah,....
jangan nakal!" Kata-kata yang terakhir itu diucapkan sambil melirik ke
Alma, yang masih menggendong tas sekolah dan berdiri mematung di sebelah
Kino.
"Baik, tante.." kata Kino.
"Ya, bu..." kata Alma.
Mobil pun lalu pergi diiringi lambaian tangan kedua remaja itu.
Setelah mobil hilang dari pandangan, barulah keduanya berjalan masuk ke
dalam rumah yang sepi. Alma berjalan di depan sambil mengayun-ayunkan
tasnya. Kino mengikuti dengan langkah ringan.
"Makan dulu, yuk..." ajak Alma yang tentu segera di-iya-kan oleh
Kino. Perutnya selalu lapar di hari-hari yang penuh hujan seperti ini.
Apalagi jam memang telah menunjukkan waktu untuk makan siang, dan Ibunda
Alma telah menyiapkan satu ayam panggang utuh.
Lahap sekali mereka berdua makan hari itu. Walau pada awalnya kikuk
juga, makan berduaan di rumah yang sepi. Alma dengan canggung menyiapkan
piring dan menyendoki nasi untuk Kino. Ia tiba-tiba merasa gugup, karena
rasanya mereka berdua sudah suami-istri, makan siang bersama seperti
ini. Kino juga canggung, karena ia sebenarnya tidak biasa dilayani. Di
rumah, ia mengambil nasi sendiri, sesuka hati.
Alma tertawa kecil pada suapan pertamanya. Kino mengernyitkan dahi,
"Kenapa?"
"Ah, tidak... aku cuma merasa lucu saja," jawab Alma.
"Apanya yang lucu?"
"Kita. Makan berduaan, seperti..." Alma tidak meneruskan
kata-katanya.
"Seperti apa?" desak Kino.
Alma terus mengunyah, lalu menjawab, "Sudahlah. Tidak boleh terlalu
banyak bicara jika sedang makan!"
Kino tersenyum mendengar "perintah" itu. Mereka pun makan diam-diam,
dan memang makanannya juga sedap untuk dinikmati tanpa banyak bicara.
Tak berapa lama, ayam hanya tersisa sepertiganya. Kino merasa sangat
kenyang, dan Alma pun takjub sendiri. Belum pernah ia makan begitu
banyak, padahal ayam panggang sudah sering jadi menu di rumah ini.
Lalu Kino membantu Alma mencuci piring di dapur, berdiri bersisian di
bak cuci piring sambil mengobrol. Sesekali tangan mereka yang dipenuhi
sabun bersentuhan, dan Alma dengan manja minta Kino membersihkan sabun
yang menciprat ke ujung hidungnya.
"Tanganku juga penuh sabun, bagaimana bisa membersihkan hidungmu,"
protes Kino.
"Gunakan pipimu!" sergah Alma sambil tersenyum manis.
Nakal juga pacarku ini, pikir Kino sambil mulai menyeka sabun dari
hidung Alma dengan pipinya. Tetapi tentu saja Kino tidak cuma menyekakan
pipinya ke hidung yang agak berkeringat itu. Dengan cepat ia mengecup
hidung itu setelah tak bersabun. Dengan cepat pula ia turun agak ke
bawah, mengecup bibir yang masih tersenyum itu. Alma menarik kepalanya,
tapi kurang ke belakang, tak mampu menghindar sepenuhnya.
Lalu tiba-tiba saja mereka lupa piring-piring yang belum dibilas.
Lupa tangan mereka yang berleleran sabun. Bibir mereka tiba-tiba saja
sudah saling melumat dan tangan Alma sudah memeluk leher Kino. Kedua
kaki Alma berjinjit, agar ia bisa leluasa mengulum bibir kekasihnya, dan
agar Kino leluasa pula melumat bibirnya. Tangan Kino pun kini merangkul
pinggang Alma, menekan tubuhnya agar lebih rapat lagi. Sedap sekali
mencium bibir gadis yang kau sayangi, yang wajahnya selalu kau rindukan.
Alma pun terpejam membiarkan tubuhnya terhenyak ke depan. Lembut sekali
rasanya dicium pria pujaan mu, pria yang tahu bagaimana memanjakanmu.
Hujan tiba-tiba turun, keras menerpa jendela dapur, menimbulkan suara
berisik bertalu-talu. Tetapi Kino dan Alma tidak mendengar apa-apa. Di
telinga mereka cuma ada debur jantung yang semakin mengencang, dan nafas
yang mendesah-desah. Cuma ada musik romantis yang mengiringi tarian
kerinduan di atas awan-awan cinta. Perlahan-lahan tubuh Kino dan Alma
semakin merapat, dan kedua mulut mereka semakin sibuk mengulum,
menghisap dan terkadang menggigit. Alma mengerang pelan ketika
kekasihnya mengulum perlahan bibir bawahnya, membuatnya membuka mulut
agak lebih lebar. Lalu terasa lidah Kino menyerbu masuk,
menyentuh-nyentuh lidahnya sendiri. Rasanya hangat dan geli, tetapi juga
mesra dan memanjakan.
Perasaan nikmat yang lain juga kini muncul di dada Alma, yang
terhenyak rapat di dada Kino. Dengan tangan semakin erat merangkul leher
pemuda pujaannya, gadis belia ini merasakan kegelian memenuhi
puncak-puncak payudaranya yang ranum. Apalagi gerakan tubuhnya
menyebabkan gesekan-gesekan kecil. Ia menggelinjang dan semakin
merapatkan dadanya. Oh, jangan biarkan semua ini berlalu! jeritnya dalam
hati. Matanya terpejam rapat, dan nafasnya yang hangat semakin menderu.
Alma terhanyut dalam gelora baru yang telah lama terpendam sejak ia
memacari Kino. Ia menggeliat merasakan tubuhnya bagai dipenuhi rasa geli
yang aneh, yang menyebar perlahan ke segala penjuru, dan yang
menyebabkan jantungnya berpacu. Terengah-engah, Alma mencoba memahami
semua ini, tetapi kepalanya terasa kosong tak bisa berpikir. Segalanya
terasa tak masuk akal, karena cuma ada rasa dan emosi. Cuma ada gairah
dan birahi.
Kino pun terpejam merasakan hangat menerpa dari tubuh gadis yang
dipeluknya. Selama ini, tubuh itu lah yang ia peluk dengan sayang, yang
ia terima ketika bersandar. Kini tubuh itu begitu dekat, begitu hangat,
dan begitu ranum seperti baru pertama kali disentuhnya. Sambil mengulum
bibir Alma yang semakin terasa panas dan basah, Kino mengusap-usap
punggung gadis itu. Ia tak peduli, sabun menodai seragam putihnya. Ia
tak bisa berpikir lain, selain ingin mengusap-usap tubuh gadis yang
dirindukannya ini. Tangannya lembut menjalar ke sana ke mari. Juga ke
bawah pinggang Alma, ke bagian belakang yang kenyal dan menonjol seksi
itu. Kino meremas gemas bagian itu.
Alma menjerit tertahan, menggeliat kaget merasakan remasan tangan
Kino. Sebuah aliran panas yang menggelisahkan menyerbu dari bagian yang
diremas itu, menerobos ke mana-mana, mendatangkan sebuah demam tanpa
sakit. Ini bukan flu, pikir Alma, ini bukan demam biasa. Ini demam
cinta. Alma mengerang, melepaskan ciumannya, dan menyembunyikan wajahnya
di leher Kino. Tangannya lebih erat merangkul, dan kini tubuh bagian
bawahnya ia tempelkan lebih keras lagi ke tubuh Kino. Remasan tangan
pemuda itu di bagian belakang telah memicu sebuah gemuruh di dalam tubuh
Alma.
"Jangan di sini, Kino...," desah Alma, repot sekali berucap di tengah
nafas yang memburu. Ia melepaskan diri dari pelukan kekasihnya, lalu
mengajak Kino ke ruang tengah. Kino membiarkan tangannya dituntun.
Mereka berdua sudah lupa sama sekali, ada beberapa piring dan sendok
masih menggeletak di bak cucian. Tangan mereka masih agak basah, walau
busa sabun telah lama hilang.
Di ruang tengah, Alma menarik Kino untuk duduk bersama di sebuah sofa
empuk. Dengan segera mereka melanjutkan apa yang tadi terputus di dapur.
Kino menindih tubuh kekasihnya, menciumi lehernya yang lembab oleh
keringat walaupun udara sebenarnya agak sejuk. Alma menggeliat kegelian
dan merebahkan tubuhnya pasrah. Ia ingin Kino melakukan sesuatu hari
ini, tapi ia tak pasti apakah "sesuatu" itu. Ia ingin membiarkannya saja
sebagai misteri yang menegangkan. Dan ketegangan adalah bumbu dari
percumbuan, bukan?
Dengan satu tangannya, Kino membuka kancing-kancing baju Alma. Oh, ia
dengan mudah bisa melakukannya, teringat pengalamannya dengan Mba Rien
yang kini sedang ia coba lupakan sekuat hati. Satu demi satu kancing itu
lolos dari lubangnya, sehingga akhirnya baju Alma di bagian depan
terkuak sudah. Sebuah beha putih membungkus sepasang bukit ranum, jauh
lebih kecil daripada payudara Mba Rien yang padat membusung itu. Tetapi
tak kalah menggemaskan pula, dada Alma yang terlihat turun naik dengan
cepat itu. Jemari Kino tak tertahankan, menelusup masuk ke bawah beha,
merayapi salah satu bukit ranum itu. Alma menggeliat-geliat kegelian,
merasakan kenikmatan baru yang belum pernah diterimanya dari siapa pun.
Ia memang senang menempelkan dadanya di pangkal lengan Kino jika
bergandengan, tetapi sungguh-sungguh disentuh langsung seperti ini.....
wow, berbeda sekali rasanya!
Kino merasakan puting Alma langsung mengeras ketika tersentuh ujung
jarinya. Ia putar-putarkan ujung jari itu dengan ringan di sana. Ah,
puting itu terasa panas seperti menyimpan air mendidih. Kenyal pula,
seperti terbuat dari karet berkualitas tinggi. Bukit kecil di bawahnya
terasa padat dan halus-licin. Berkali-kali telapak tangan Kino seperti
tergelincir di sana, seperti seorang pemain ski yang meluncur gembira di
bukit bersalju.
Alma kini mengerang di sela desahan-desahan nafasnya. Sebuah aliran
kehangatan, kecil saja bagai sebuah parit, terasa mulai terbentuk di
pangkal pahanya. Dengan gelisah, Alma merapatkan kedua pahanya, kuatir
aliran itu menerobos keluar membasahi celananya, atau bahkan membasahi
sofa. Tetapi berbarengan dengan itu, juga ada rasa nikmat yang makin
lama makin kuat terasa. Semakin ia merapatkan pahanya, justru semakin
nikmat rasanya. Membingungkan sekali, segalanya terasa penuh paradoks.
Segalanya terasa janggal sekaligus memikat. Alma akhirnya menyerah saja,
membiarkan apa pun yang terjadi. Ia cuma bisa mengerang ketika sebuah
tangan Kino mengelus-elus pahanya, perlahan-lahan mengangkat rok
seragamnya semakin tinggi.
Kino mengelus perlahan, menikmati paha yang lembut-hangat-mulus itu.
Telapak tangannya seperti sedang menjalani pualam yang hangat, membuat
ujung-ujung saraf di sana bergairah. Sesekali ia tak tahan meremas,
merasakan tubuh Alma bereaksi cepat terhadap setiap ramasan itu. Kino
merasa seperti seorang konduktor orkestra, yang dengan gerakan tangannya
mampu mengatur musik, kapan mengalun perlahan dan kapan menggelora penuh
semangat.
Dengan mata terpejam, Alma mencari-cari mulut Kino. Ketika
ditemukannya, ia mengulum bibir pemuda itu, sambil mendesah. Kino pun
menyambut pagutan bergairah itu, sementara tangannya kini telah sampai
di pinggir celana dalam Alma, di bagian berkaret yang ketat memagari apa
pun yang ada di baliknya. Mulanya, Kino ingin menerobos barikade itu,
tetapi sebuah suara kecil di hatinya segera melarang. Jemarinya pun
menghindari pinggiran itu, melainkan naik mengusap ke arah atas. Kain
nilon terasa halus di telapak tangannya, juga terasa hangat karena tak
mampu mencegah panas yang muncul dari tubuh yang diselaputinya. Dengan
lembut dan mesra, Kino mengelus-elus kewanitaan Alma yang masih
diselimuti celana dalamnya.
Alma meregang, diusap-dielus di bagian itu, ia merasa seakan-akan
sebuah ledakan sedang bersiap-siap meletus di dalam tubuhnya. Geli
sekali rasanya. Nikmat sekali rasanya. Tangan Kino bagai sedang
mengirimkan berjuta-juta rasa, dan semua rasa itu berpangkal pada
kenikmatan belaka. Alma tanpa sadar merenggangkan kedua pahanya,
membiarkan tangan Kino menjelajah lebih ke bawah lagi, ke bagian yang
kini lembab oleh cairan hangat itu. Alma kini tak lagi kuatir, apakah
lembab itu akan berubah menjadi basah, menjadi banjir, menjadi apa pun.
Ia sungguh tak peduli.
Dengan jari tengahnya, Kino mulai menelusuri celah yang terbentuk di
antara dua punuk kecil di bawah sana yang masih terlindung nilon tipis.
Perlahan-lahan jarinnya menelusur ke bawah, lancar karena nilon memang
adalah kain yang licin. Terutama juga karena kain itu telah basah. Ujung
jari Kino melesak sedikit, menyentuh bagian terbawah yang terhenyak di
sofa. Alma mengerang merasakan kegelian-kenikmatan menyerbu tubuh bagian
bawahnya. Ia mengangkat sedikit tubuhnya, sehingga tangan Kino bisa
menelusup lebih ke bawah. Lalu, jari itu naik lagi perlahan, menelusuri
jalur yang sama yang ditempunya ketika turun. Tubuh Alma pun terhenyak
kembali, dan bergeletar pelan ketika ujung jari itu menyentuh sebuah
tonjolan kecil di bagian atas. Apalagi kemudian Kino berlama-lama di
sana, memutar dan menekan tonjolan itu.
Tanpa dapat ditahan oleh Alma, tubuhnya meregang. Sebuah gemuruh
bagai banjir bandang memenuhi tubuhnya. Banjir itu menerjang segala yang
menghalanginya, menyerbu seperti hendak membuat tubuh Alma meledak. Kino
mempercepat usapan dan gosokan jari tangannya; ia tahu sebentar lagi
kekasihnya akan tiba di puncak kenikmatan yang telah didakinya dengan
sabar ini. Kino tahu, dari pengalamannya dengan Mba Rien, sebentar lagi
tubuh mungil ini akan menggelepar dilanda orgasme. Maka ia mempercepat
gerakan tangannya, dan menekan tubuh kekasihnya lebih dalam ke sofa.
Walaupun sudah mengantisipasinya, Kino tak urung terkejut juga ketika
akhirnya Alma mencapai klimaks. Terkejut karena gadis yang lembut dan
manja itu berteriak cukup keras, seperti seorang yang disengat listrik.
Cepat-cepat Kino membungkamnya dengan mencium mulut Alma. Agak sulit
melakukan hal ini, karena Alma seperti menghindar, menggelepar dan
menggelengkan kepalanya dengan mulut terpejam. Ketika akhirnya Kino
berhasil mengulum bibirnya, Alma pun masih mengerang keras, walau kali
ini ia hanya mengeluarkan suara "Ngggg....".
Tak kurang dari 3 menit lamanya diperlukan oleh Alma untuk melepaskan
semua desakan birahi yang menggumuruh di tubuhnya. Setelah itu, ia
merasa lunglai dan tak bertulang. Ia merengkuh leher Kino, mencoba
mencari kekuatan dari kekasihnya. Matanya seakan tak bisa membuka,
karena kepalanya masih berenang-renang di danau kenikmatan. Untuk
sejenak, Alma khawatir ia sudah tidak ada di dunia ini lagi. Ia sudah
berada di dunia lain, ia sudah tewas! Hanya kemudian sebuah gigitan
kecil dari Kino di cuping telinganya yang membuat ia sadar, bahwa tadi
itu bukanlah kematian. Tadi itu adalah orgasme pertamanya bersama pemuda
yang dicintainya.
Kino menciumi leher Alma dengan mesra. Ia seakan sedang mensyukuri
kejadian barusan. Ia pun merasa bangga telah berhasil membawa Alma ke
puncak birahi. Terlebih-lebih lagi, ia merasakan perbedaan yang besar
dengan percumbuan sebelumnya bersama Mba Rien. Dengan wanita itu, Kino
hanya dipenuhi birahi, dan ia hanyalah sebuah perahu yang dinakodai Mba
Rien. Dengan Alma, Kino dipenuhi rasa sayang, dan ia adalah nakodanya.
Siang itu, Kino berhasil pula memendam keinginannya untuk melanjutkan
percumbuan. Alma sebetulnya menawarkan kelanjutan, dengan caranya yang
lugu (dia bilang, "Lagi?" dengan ragu-ragu). Tetapi Kino tersenyum saja,
perlahan-lahan melepaskan pelukannya, mencium pipi gadis yang tampak
makin cantik dengan muka bersinar. Ia berbisik, "Jangan, Alma .. kita
cuma berdua di sini. Nanti kita terlena terlalu jauh.."
Alma terharu mendengar ucapan pemuda ini. Dipeluknya leher Kino
erat-erat. My hero, you are my hero! jeritnya dalam hati, penuh
suka cita.
*****
Masa ujian pun tiba, membuat semua murid di kota kecil itu menghilang
dari pantai atau sungai atau danau tempat mereka biasanya bermain. Semua
anak-anak usia sekolah tampak berwajah serius, bahkan tak sedikit yang
terlalu serius sehingga kehilangan warna kanak-kanaknya. Kino dan Alma
tampak penuh percaya diri, begitu pula Dodi, Iwan dan kedua pacar-pacar
mereka. Dengan tenang -walaupun kadang-kadang agak gentar- mereka
menghadapi setiap kertas ujian, dan selalu menyelesaikan soal-soal
sebelum bel akhir berdentang.
Hari-hari yang sibuk selalu terasa lebih pendek dari hari biasa.
Secepat datangnya, secepat itu pula masa ujian berlalu. Anak-anak
sekolah berhamburan ke luar dari kelas pada hari terakhir,
berteriak-teriak seakan perjuangan mereka telah usai dengan kemenangan.
Padahal, tentu saja perjuangan itu justru baru dimulai. Jalan masih
panjang, walau sekarang mereka tak punya pikiran lain selain liburan
sebulan penuh. Anak-anak SMA sudah pula mempersiapkan acara perkemahan,
sebelum mereka bersiap-siap ikut testing masuk perguruan tinggi.
Alma terpilih sebagai ketua regu kelas 3, sementara Kino
bertanggungjawab pada keamanan bumi perkemahan bersama beberapa "jagoan"
yang selama ini menguasai dunia anak-anak SMA. Kino sendiri bukan
termasuk jagoan, ia belum pernah berkelahi sepanjang sekolah menengah
atas. Terakhir berkelahi, ia masih kelas dua SMP, dan lawan berkelahinya
kini adalah salah satu jagoan itu. Tetapi, walau tak suka berkelahi,
Kino dikenal tegas dan dihormati, terutama karena dua sahabatnya, Dodi
dan Iwan, sering bercerita membual tentang kehebatan Kino bermain
pencak-silat. Nah,.. itulah gunanya memiliki dua sahabat tukang bual!
Perkemahan dilaksanakan di kaki sebuah bukit, kira-kira 10 kilometer
dari kota. Mereka naik truk pinjaman dari kesatuan zeni Angkatan Darat,
yang juga meminjamkan dua tenda raksasa untuk ruang P3K dan dapur umum.
Selebihnya, masing-masing regu membawa sendiri atau meminjam tenda-tenda
parasut. Ramai sekali bumi perkemahan yang bersebelahan dengan hutan
karet itu dihuni anak-anak SMA. Berbagai acara berlangsung semarak,
termasuk beramai-ramai mendaki bukit dan berenang-renang di bawah air
terjun.
Kino sibuk mengatur keamanan, termasuk membantu beberapa anak-anak
kelas dua yang jatuh sakit akibat terlalu bersemangat. Ruang P3K ramai
oleh suara batuk dan orang muntah. Para "perawat" amatir tampak sigap
melayani si sakit, dan Ibu Murni, ibu guru olahraga dan kesehatan,
tampak letih memimpin mereka. Untunglah, beberapa di antara perawat
amatir itu sudah terlatih sebagai anggota regu palang merah remaja.
Di tengah kesibukan dan keceriaan bumi perkemahan, tentu saja cinta
remaja berkembang tak kalah meriah. Kino dan Alma mendapat begitu banyak
kesempatan untuk berduaan, terutama ketika acara api unggun, di mana
semua anak duduk melingkar menyaksikan berbagai pertujukan oleh
masing-masing wakil regu. Pada umumnya adalah menyanyi dengan iringan
gitar yang tentu saja lebih banyak false-nya.
Percumbuan antar remaja juga tak terelakkan, walaupun para guru sudah
memperingatkan anak-anak gadis agar berhati-hati dengan "milik" mereka.
Kino adalah anggota keamanan yang juga ditugasi mengawasi kemah-kemah
peserta, agar setiap malam tidak ada "pelarian" atau "penyebrangan" dari
wilayah anak laki ke wilayah perempuan (atau sebaliknya!). Tetapi, siapa
yang mengawasi Kino? ... Ha! .. tidak ada. Bahkan "jagoan-jagoan" pun
pura-pura tidak tahu, ketika suatu malam Alma minta Kino menemaninya ke
sungai untuk "sebuah urusan".
"Kamu membuat saya serba-salah...," bisik Kino sambil mengiringi
langkah Alma menuju sungai. Beberapa anggota keamanan tersenyum saja
ketika Kino melambai minta ijin.
Alma menahan tawa, lalu balas berbisik, "Tetapi saya memang perlu ke
sungai!"
"Untuk apa?"
"Pipis!"
Kino menggeleng-gelengkan kepalanya. Apakah ia nanti minta diceboki
pula? gerutunya dalam hati. Walaupun tentunya menarik, kalau Alma nanti
sungguh-sungguh minta itu!
"Saya juga ingin berdua dengan kamu..." bisik Alma lagi ketika mereka
sudah melewati pintu gerbang bumi perkemahan yang dijaga dua "jagoan"
berjaket parasut hijau. Kepada kedua penjaga itu, Kino cuma tersenyum,
dan keduanya cuma mengangkat muka sebentar lalu kembali menekuni sebuah
majalah. Kino tahu, itu majalah untuk orang dewasa yang diam-diam
diselundupkan oleh salah seorang peserta untuk menyogok para penjaga!
Akhirnya mereka tiba di sungai, dan Alma memang benar ingin buang
air. Kino menunggu di pinggir, membelakangi sungai dan Alma yang sedang
berjongkok. Sepi sekali malam itu, hanya terdengar gemercik air dan
desiran angin.
Selesai buang air kecil dan membersihkan diri, Alma merengkuh tangan
Kino untuk mengajaknya pulang. Berdua mereka menyusuri sungai kembali ke
bumi perkemahan. Tetapi, pada sebuah pohon besar di tikungan pertama,
Kino menghentikan langkah mereka. Ditariknya Alma minggir, ke bawah
bayang-bayang gelap pohon, lalu dilumatnya bibir gadis itu dengan gemas.
Alma segera membalas, dan nafasnya segera mendesah-desah cepat, karena
ia memang sudah menunggu-nunggu inisiatif kekasihnya ini sejak tadi!
Cepat sekali ciuman mereka berubah menjadi pagutan-kecupan yang
menggelora. Alma merengkuh leher Kino dan menyambut setiap serbuan penuh
gairah dari pemuda itu. Gadis ini telah pula membuka resleting depan
jaketnya, mengundang Kino untuk melakukan remasan-remasan yang sangat
disukainya itu. Kino pun tak hendak mengecewakan Alma. Cepat-cepat ia
menelusupkan tangannya ke balik jaket, lalu ke bawah kaos. Ah, Alma
tidak mengenakan beha! Kino menemukan dua bukit kenyal di dada gadis itu
telah siap diremas-remas gemas. Hangat sekali rasanya kedua gumpalan
yang hanya sedikit lebih besar dari telapak tangan Kino itu. Kenyal dan
lentur dan halus. Kedua tangan Kino meremas-menekan, menyebabkan Alma
mengerang, semakin mempererat rengkuhannya di leher pemuda itu dan
semakin bernafsu menciumi bibirnya. Untunglah suara air sungai masih
cukup keras, dan gesekan daun-daun yang ditiup angin menyembunyikan
desah nafas mereka.
Sejak percumbuan pertama mereka di ruang tengah di rumah Alma, gadis
ini sudah dua kali mencapai orgasme di tangan Kino. Sekali, sewaktu
pulang dari rumah Dodi dan hari telah malam, Kino mengajak Alma masuk ke
sebuah gang kosong dan gelap di dekat bioskop. Di sana, sambil berdiri
seperti malam ini, Kino meremas-mengurut kekasihnya sampai mencapai
klimaks. Kedua, di belakang rumah Alma, ketika untuk kesekian-kalinya
ibunda harus keluar kota untuk membantu orang melahirkan, gadis ini juga
mengalami orgasme yang melenakan. Bahkan di belakang rumah itu pula Alma
pertama kali membantu Kino mencapai klimaks dengan tangannya.
Kini, di bawah pohon yang gelap, di malam yang dingin, Alma dengan
cepat terbakar birahi. Tubuhnya sangat sensitif terhadap setiap sentuhan
Kino. Sepertinya, apa pun yang dilakukan Kino dengan tangannya, pasti
menyebabkan getaran-getaran nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh. Tak
bedanya kali ini, walau sambil berdiri di bawah pohon yang sebenarnya
berkesan angker, Alma dengan mudah merasakan orgasmenya terpicu oleh
usapan dan remasan jari Kino di payudaranya. Apalagi Kino melepaskan
ciumannya, kemudian agak menurunkan tubuhnya, menunduk dan membenamkan
kepalanya di balik jaket Alma. Oh, nafas Kino yang hangat segera
mengalahkan dingin malam, menyerbu dada Alma yang kini terbuka karena
kaosnya telah terangkat setengahnya. Kedua payudaranya yang putih mulus
tampak tegak-terpampang-menantang, dengan dua puting hitam yang terasa
berdenyut bergairah. Alma menjerit tertahan ketika salah satu putingnya
tertangkap mulut Kino. Tak kuasa ia mencegah suara erangan parau keluar
dari kerongkongannya ketika Kino mulai menghisap sambil menjilati
putingnya dengan ujung lidah. Sementara telapak tangan Kino telah pula
menutupi dan meremas payudara yang satu lagi, membuat Alma menggelinjang
kekiri-kekanan dengan gelisah.
Inilah kali pertama Alma merasakan perlakuan seperti itu dari seorang
pemuda terhadap dadanya yang ranum dan yang rasanya semakin membesar
saja. Kenikmatan tiada tara segera memenuhi dadanya, dan sebentuk
orgasme segera meletup menggetarkan badannya. Alma mengerang-erang
merasakan kewanitaannya tiba-tiba sangat basah dan berdenyut liar
disertai geli dan nikmat yang berkepanjangan. Ia melingkarkan satu
kakinya ke kaki Kino, menambah rapat menempelkan bagian bawah tubuhnya
ke tubuh pemuda itu. Ia juga tak sadar menggerak-gerakan pinggulnya,
menggesek-gesekkan selangkangannya yang terlindung jeans ke paha Kino.
Bahkan gesekan itu semakin lama semakin cepat dan liar, sejalan dengan
semakin gemas dan bernafsunya Kino mengulum puting payudara Alma. Di
tengah angin yang mendesir dan suara air sungai yang begemercik keras,
gadis ini menikmati kilmaksnya yang sangat kuat mendera tubuh. Kino
terpaksa melepaskan pagutannya pada dada Alma, kembali menegakkan tubuh
dan merengkuh gadis itu erat dalam dekapan, karena tubuh gadis itu
berguncang hebat sambil merapat sangat erat di pahanya. Kino juga harus
membungkam mulut Alma yang mengerang semakin kencang, karena ia khawatir
ada orang yang mendengarnya.
Insting Kino ternyata juga benar. Ketika Alma tengah menikmati
klimaksnya, terdengar suara langkah-langkah orang di kejauhan, dari arah
bumi perkemahan. Cepat-cepat Kino mendorong Alma yang masih
menggeliatt-geliat itu, menyenderkan tubuhnya ke pohon, sehingga mereka
berdua semakin terlindung gelap malam. "Sst.. ada orang..." bisik Kino
ke telinga gadis itu, lalu ia melumat bibirnya yang hangat dan basah,
membungkam erangannya. Alma berdiri tegang, menahan geli-nikmat yang
memenuhi pangkal pahanya, memeluk leher Kino erat-erat. Berdua mereka
berdiri saling merapat, menunggu siapa yang akan lewat.
Suara orang berbincang sambil berjalan terdengar semakin mendekat.
Lalu lampu senter tampak diarahkan ke tanah, dan sebentar kemudian
tampak dua orang "jagoan" berjalan ke arah Kino dan Alma bersembunyi.
Tetapi, karena mereka mengarahkan senter ke bawah, kedua pasangan itu
tak terlihat. Ah, ternyata mereka adalah "patroli" malam yang tampaknya
sedang mengecek wilayah sungai, atau mungkin juga sambil mengambil air,
karena salah seorang dari mereka tampak menenteng jeriken (tempat air).
Setelah patroli berlalu, sambil menahan tawa, Alma dan Kino keluar
dari persembunyian dan setengah berlari kembali ke bumi perkemahan. Tak
lupa Alma mengancingkan kembali jaketnya dan merapikan rambutnya yang
berantakan. Ia sebenarnya menyesal harus berhenti "di tengah jalan"
seperti ini, tetapi ia tahu Kino tak akan mengambil risiko lebih jauh.
Berdua mereka masuk ke bumi perkemahan dengan wajah tak bersalah. Kino
melambai ke para penjaga gerbang, yang masih asik dengan majalah mereka.
Alma kembali ke kemahnya, sementara Kino menuju posko keamanan.
|