|
Berawal dari meja billiard - 2 |
Kemudian kupegang pipinya, aku masih mencium dengan lembut bibirnya.
Lama-lama nafas kami berdua mulai tidak beraturan. Lalu kujulurkan
lidahku ke dalam rongga mulutnya, agak gelagapan juga dia menerima
serangan dariku, tapi tiba-tiba dia membalas lebih ganas lagi, lidahku
disedotnya sesekali digigitnya. Bunyi perpaduan antara bibir yang
bertemu bibir dibarengi saling sedot lidah sudah tidak kami hiraukan,
permaianan lidah kami berdua malah bertambah hebat.
Pembaca yang budiman, mungkin bisa anda membayangkan posisi kami pada
waktu itu, aku yang duduk di jok depan kemudi, sedangkan dia berada di
jok sampingku, jelas perutku yang pada waktu itu sedang berasyik ria
terganjal oleh rem tangan, ditambah badanku yang agak melilit. Pegel
juga waktu itu, lalu kusudahi percumbuan kami. "Lia, kita pindah ke
belakang," bisikku. Lia tidak bicara, kemudian kami berdua pindah ke
belakang.
Oh ya, waktu itu aku memakai mobil espass supervan, jadi di bagian
tengahnya agak lega sedikit, didukung kaca yang gelap, sehingga sangat
mendukung sekali. Tapi sebelum melanjutkan, aku kembalikan dulu
peralatan bekas makan tadi sambil membayar, lalu aku balik lagi ke mobil.
Lama juga kami diam, dengan inisiatifku aku mulai menghampiri wajahnya,
sambil kedua tanganku memegang wajahnya. Dia memejamkan matanya. "Aku
sayang kamu Lia.." kataku sambil mencium kembali bibirnya yang mungil,
sehingga dia tidak sempat membalas ucapanku tadi.
Kali ini permainan kami lebih hebat dari tadi, Lia yang tadinya agak
ragu malah kini tampaknya makin ganas, nafasnya mulai agak memburu.
Tidak sampai disitu saja, tangan kananku mulai turun ke bawah, mengelus
pahanya yang mulus. Setelah mengelus, tanganku kuarahkan ke setelan jok
sehingga posisi Lia sekarang jadi setengah posisi tidur, sedangkan
badanku ada diantara kedua pahanya. Kemudian kupegang lagi wajahnya
sambil masih tetap berciuman, tanganku mulai menelusuri lehernya terus
pundak dan akhirnya sampai pada bongkahan payudaranya yang indah, lalu
tanganku kuarahkan ke kancingnya, kubuka satu persatu.
"Erickk.." bisiknya sambil tangannya merangkul leherku.
Setelah kancingnya terbuka semua, terpampanglah payudaranya yang masih
ditutupi oleh BH hitamnya. Aku mencari pengait BH-nya, lalu kubuka dan
kulempar ke jok paling belakang. Tanpa melepas bajunya, aku kemudian
bergeser lagi ke atas, kulumat bibirnya. Setelah puas, ciumanku mulai
berpindah ke telinga kirinya, kulumat dan sesekali kugigit telinganya.
Lia makin mendesah kenikmatan. Lalu setelah puas dengan apa yang
kulakukan, kujiilat lehernya yang jenjang, terus menuju pundaknya, yang
akhirnya sampai ke payudaranya yang masih kencang, dengan putingnya yang
tampak lebih mencuat. Dengan lembut kujilat putingnya silih berganti,
kadang aku meremas keduanya, lalu kusedot puting susunya, sesekali
kugigit mesra.
"Ooohh.. Eriicckk.." rintihnya.
Aku masih saja asyik mempermainkan kedua bukit kembarnya itu, lalu
tanganku kugunakan untuk membuka bajuku, lalu kulepas juga celana
jeans-ku, karena batang kemaluanku agak sakit, maklum pada waktu itu
sudah dalam posisi siap tempur. Kemudian tanganku kuarahkan ke
payudaranya, kuremas-remas dengan lembut, sambil lidahku masih
mempermainkan puting susunya yang begitu menantang. Puas dengan meremas
kedua payudaranya, kedua tanganku kuarahkan ke pahanya. Dengan posisi
masih melumat payudaranya, tanganku mengelus-elus pahanya, terasa juga
olehku bulu-bulu halusnya, kugeser ujung rok mininya ke atas sehingga
bukit kemaluannya yang masih tertutup CD putihnya jelas telihat. Tapi
aku tidak mau terburu-buru, kualihkan tanganku ke pinggangnya.
Setelah puas bermain dengan payudaranya, lidahku menjulur ke bagian
bawah. Kujilat pusarnya.Tangan Lia meremas-remas rambutku, kakinya
bergerak tidak beraturan, mungkin karena dia menerima rangsangan
sehingga dia tidak bisa diam. Setelah itu, lidahku turun lebih ke bawah
lagi, kali ini di hadapanku terpampang jelas surga kenikmatan. Lalu
kujilat kemaluannya yang masih tertutup CD putih, jari tanganku
kuarahkan ke pinggir CD-nya. Kugeser sedikit pinggir CD-nya sehingga
bibir kemaluannya agak kelihatan, lalu kujilat bibir kemaluannya,
kusedot mesra yang mana membuat Lia semakin keras meremas rambutku.
Tidak puas dengan itu, kutarik CD-nya untuk kulepaskan, sedangkan roknya
kubiarkan saja karena itu membuatnya makin seksi aja. Lia ikut membantu
dengan mengangkat pantatnya ke atas sehingga dengan mudah aku melepas
CD-nya.Dengan tidak sabar, aku lalu menjilat kemaluannya. Dengan kedua
jariku, kukuakkan bibir kemaluannya itu, lalu kujulurkan lidahku ke
dalamnya.
Kemaluannya sudah basah sekali, lalu aku sambil menjilat dinding
kemaluannya aku mencari klitorisnya. Setelah ketemu, kujilat
klitorisnya. Kemudian kusedot sampai cairannya pun ikut tersedot olehku.
Lia semakin mendesah tak karuan. Tiba-tiba kakinya dinaikkan ke atas
pundakku sehingga wajahku agak terjepit oleh kedua pahanya.
"Eerriicckk.." jeritnya sambil tangannya meremas rambutku. Kubenamkan
wajahku di kemaluannya, disamping itu jepitan pahanya semakin terasa
oleh wajahku. Hmm.. rupanya dia baru klimaks.
"Rick, udah Rick.. udah.. masukin aja Sayang.." pintanya sambil
mengusap-usap rambutku, sengaja kubiarkan dulu jilatan dan hisapanku
terhadap kemaluannya. Kubiarkan dulu dia menikamati puncak
kenikmatannya. Setelah kulihat dia agak santai, kutundukkan kepalaku
lagi untuk menuju kemaluannya yang indah itu, tapi dia malah menahannya,
sambil menggelengkan kepalanya dia tersenyum. "Udah Rick.. jangann.. aku
nggak kuat loh.." katanya. Akhirnya kuturuti juga, dengan posisi kaki
agak ditekuk, badanku aku ditegakkan, lalu kuarahkan batang kemaluanku
yang sejak tadi sudah minta bagian. Kulihat wajahnya yang agak
berkeringat."Sshh.. Erickk.. pelan Sayang.." katanya begitu aku baru
memasukkan setengah batang kemaluanku, sambil kedua tangannya agak
menahan dadaku. Memang kurasakan agak sulit juga. Kalau perawan sih
bukan, tapi karena jarang dipakai, jadinya agak susah juga masuknya.
"Aakkhh.. Ricckk.." rintihnya begitu aku langsung memasukkan batang
kemaluanku, dia kaget juga waktu kuperlakukan begitu. "Nakal kamu
Rick.." sambil berkata dia mencubit pinggangku, Pelan-pelan aku mulai
menggerakkan pantatku, dengan refleks dia melingkarkan kedua kakinya ke
pinggangku. Makin lama gerakanku makin cepat, bibir kami pun sesekali
saling berpagutan, diselingi desahan-desahan nikmat.
"Oookhh.. Lia.. enak sekali Sayang.." kataku dibarengi nafas yang
memburu. Kulihat wajah Lia, matanya terpejam, sepertinya dia sedang
menikmati persetubuhan yang kami lakukan. Tidak berapa lama.. tiba-tiba
pelukannya makin erat dan jepitan kakinya yang melingkar di pinggangku,
terasamenjepit sekali, rupanya dia mencapai puncaknya lagi, aku diam
sebentar sambil kutekan lagikemaluanku ke dalam vaginanya.
"Ricckk.. aakkhh.. sshh.." rintihnya sambil matanya merem melek.
Aktifitasku kuhentikan sejenak biar dia merasakan kenikmatan yang baru
dia dapat. "Rick.. kamu belum keluar ya.. gantian ya," pintanya sambil
tersenyum manis, aku hanya menganggukkan kepalaku. Memang kalau dalam
bercinta bukannya aku kuat, tapi aku selalu mengatur irama. Aku ingin
supaya pasanganku puas lebih dulu, setelah dia puas baru aku yang
mencari kepuasan, jadi tidak akan saling mengecewakan.
Kini gantian posisiku yang agak setengah tidur, dan tubuh Lia berada di
tengah kedua pahaku. Kulihat dia mengambil tissue, lalu mengelap batang
kemaluanku. Setelah itu dia melihat wajahku sebentar, lalu dengan
perlahan dia mulai menjilat kepala kemaluanku. "Sshh.." aku cuma bisa
mendesis karena geli yang kurasakan. Lia masih saja asyik menjilati
lubang kepala kemaluanku, lalu tiba-tiba dia memasukkan kepala
kemaluanku ke dalam mulutnya. Sesekali batangku dia gigit dengan lembut.
Hisapannya lembut sekali, aku cuma bisa mendesah kenikmatan. Lia
tampaknya menikmati permainan ini, aku hanya bisa mengelus-elus
rambutnya, sesekali kuremas kedua bukit kembarnya.
Lama-lama hisapannya semakin kuat, enak sekali rasanya. Kurasa mungkin
kalau begini terus aku bisa ambrol maka aku buru-buru menghentikan
aktifitasnya, dia tampak keheranan. "Udah Lia sayang.. aku nggak kuat..
kamu sekarang di atas, ya.." kataku. Lia cuma tersenyum, mungkin
senyumannya itu penuh arti, aku tidak bisa mengartikannya. Lalu Lia
setengah berdiri, kemudian dia mengangkangi tubuhku, diraihnya batang
kemaluanku, lalu diarahkan ke lubang kemaluannya. Begitu kepala
kemaluanku tepat pada lubang kemaluannya, dengan sedikit sentakan
kemaluanku amblas dilahapnya. Kami terdiam sesaat, kulihat Lia
memejamkan matanya, tangannya dia taruh di dadaku, lalu pelan-pelan dia
gerakkan pantatnya naik turun, kepalanya mendongak ke belakang. Setiap
kali dia melakukan gerakan, dari mulutnya keluar desahan dan rintihan
yang makin membangkitkan nafsu birahiku, begitu juga denganku, aku pun
mengerang kenikmatan.
Makin lama gerakan Lia makin cepat, batang kemaluanku terasa seperti
diremas-remas. Walaupun keadaannya agak gelap tapi dapat kulihat mimik
wajahnya seperti menikmati permainanan ini. Badannya yang terlihat
mengkilap karena keringat yang keluar. Aku pun tidak tinggal diam,
tanganku meremas kedua payudaranya, sambil sesekali memelintir
putingnya, lalu kuangkat badanku sedikit supaya aku bisa menghisap
putingnya yang begitu menantang. Tangannya mendekap leherku, seperti
meminta lebih keras lagi aku menghisap putingnya. Gerakannya tambah liar
saja, dan erangannya jelas sekali terdengar. "Aaakkhh.. sshh..
Erriicckk.." erangnya sambil meremas rambutku. Aku semakin aktif saja
melumat putingnya, dan Lia makin hebat saja gerakannya.
Tiba-tiba kurasakan sesuatu akan keluar dari batang kemaluanku. Aku
mencoba bertahan, tapi sepertinya tidak bisa. "Liaa.. aku mau keluarr..
aakkhh.." erangku. "Aku juga Rick.. sebentar lagi.. bareng yaa.. okhh..
okhh.. Erickk.." desahnya sambil tangannya sekarang memegang wajahku,
lalu dia melumat bibirku, tangannya melingkar di pundakku, tetapi
bibirnya masih mencium bibirku.
Dan.. "Aaakkhh.. Erriicckk.." jerit Lia sambil mendekapku begitu kuat
sekali. "Aakkhh.. aku keluaarr Liaa.. ookhh.." eranganku menahan
kenikmatan yang tiada taranya. Kami lalu terdiam dengan nafas yang
tersenggal-senggal, dengan posisi Lia masih di atasku, kemudian Lia
mencium keningku, lalu melumat bibirku, aku pun tak mau kalah, kubalas
ciumannya. Kami berciuman cukup lama, sambil mengucapkan kata-kata
sayang. "Aku sayang kamu Lia.. kuharap jangan berakhir disini," kataku
sambil mencium keningnya, tampak dia memejamkan matanya begitu aku
mencium keningnya. "Lia sayang kamu juga Rick.." ucapnya. Kulihat
sepintas wajahnya penuh kebahagian dan kepuasan. Tak terasa kami
tertidur dalam posisi masih di atas badanku. Deru kendaraan yang lewat
terdengar jelas sekali, aku sadar, lalu aku bangun, kulihat kami masih
dalam keadaan telanjang bulat. Lalu kubangunkan Lia untuk segera
berpakaian kemudian kita kembali untuk pulang. Untungnya posisi mobil
tidak menghandap ke jalan raya, ditambah kaca mobil yang gelap sehingga
kecil kemungkinan kalau orang bisa melihat ke dalam mobil. Setelah beres
berpakaian lalu kami pulang, tapi sebelumnya saya janjian dulu dengan
Lia untuk bertemu kembali malam nanti, dan dia setuju. |
|
|
|