|
Hubungan kerja |
ISudah cukup lama Ratih menunggu Tom. Setengah jam lebih. Sebelum
akhirnya Tom tiba dan datang menemui Ratih yang sedang duduk di
sofa, di lounge sebuah hotel bintang lima di kota Jakarta. Mereka
akan mendiskusikan masalah budget tahunan dari bagian Treasury yang
harus dikerjakan Ratih. Seperti diketahui, Tom atau nama panjangnya
Tommy Hudson yang berkebangsaan Inggris adalah Treasury Head dan
Ratih adalah Unit Manager pada bagian Treasury sebuah Cabang Bank
Asing di Jakarta. Agar lebih santai mereka bersepakat untuk bertemu
setelah jam kantor di hotel tersebut untuk mendiskusikan masalah
budget tersebut.
Tom muncul dengan penampilan yang charming sore itu, membuat Ratih
agak terpesona. Tom mengenakan kemeja favoritnya. Penampilan Tom
sore ini benar-benar membuat Ratih menilainya lebih dari orang-orang
yang lalu lalang di depan situ sepanjang sore ini. Tom tersenyum
menyapa Ratih, mereka berjabat tangan seperti umumnya dua orang
profesional yang akan membicarakan masalah bisnis. Tom duduk di
depan Ratih, lalu setelah sedikit berbasa-basi, mereka membuka map
masing-masing dan mulai membicarakan angka-angka. Tom benar-benar
menguasai bidangnya, sehingga sejujurnya Ratih perlu berpikir keras
untuk bisa mengimbanginya dan mencari celah-celah yang bisa
menguntungkan unit yang dipimpin Ratih dalam hal pengalokasian biaya.
Namun sepanjang pembicaraan, Ratih sering memergoki mata Tom tidak
selalu menatap kertas-kertas kerja mereka. Pandangan Tom sering
mengarah ke tempat-tempat lain di tubuh Ratih. (Sekedar informasi
agar pembaca lebih mudah menghayati cerita ini, Ratih memiliki
tinggi badan 156 cm, berat badan 49 kg, bentuk badan slender, tidak
serba mungil, rambut pendek seleher, dengan wajah blasteran
Cina-Jepang, Ratih juga mengenakan kacamata minus). Sore itu Ratih
mengenakan blazer biru muda dan rok mini dengan warna yang sama. Di
balik blazer itu, Ratih mengenakan kaos ketat berwarna kuning, yang
membuat kecerahan warna kulitnya lebih menonjol.
Ratih sering memergoki pandangan Tom mengarah ke paha dan tungkainya
yang putih mulus itu. Kadang-kadang mata nakalnya yang genit itu
juga sering terarah pada leher dan kaos Ratih yang mungkin memang
cukup ketat, meski masih tertutup blazer. Pada satu saat, pandangan
mata mereka bertemu. Ratih mengerutkan dahi dan Tom malah tersenyum
nakal.
"Kok kayaknya kita tidak terlalu serius membicarakan ini?", tanya
Ratih.
"Agak sulit untuk serius dengan kondisi seperti ini", jawab Tom
sambil terus menatap ke dalam mata Ratih.
"Yah..., lantas kita mesti gimana?", tanya Ratih lagi.
"Mungkin kita tunda sampai besok pagi, sekarang sudah di luar jam
kerja kan?", jawab Tom enteng.
"Baik.., ide bagus, kalau begitu kita pulang saja", jawab Ratih
sambil mengemasi kertas-kertas kerjanya dari meja kecil itu.
"Atau mungkin bisa kita bicarakan secara agak santai sambil makan
malam?", ajak Tom.
Ratih sempat terpikir akan apa yang ada di otak Tom waktu itu, namun
demi karirnya, Ratih memilih untuk membuang pikiran itu jauh-jauh.
Namun Tom tersenyum manis sambil mengangkat bahu.
"Gimana?", tanyanya sambil tetap menyunggingkan senyum, memancarkan
daya tariknya.
"Hm..., terserahlah", akhirnya jawab Ratih setelah cukup lama
menimbang-nimbang.
Tom mengajak Ratih untuk naik ke mobilnya. Mobil kantor yang selama
ini dipakainya sehari-hari. Ratih menyukai suasana di dalamnya.
Benar-benar menggambarkan kepribadian Tom, kepribadian khas seorang
pria yang berasal dari Inggris. Ratih memandangi sudut-sudutnya, dan
mengagumi selera Tom. Sepanjang jalan, mereka tidak banyak berbicara.
Ratih mengamati Tom yang sedang memegang kemudi. Wajah, tubuh,
otot-otot dan cara Tom berpakaian, hmm..., sangat mengesankan. Ups!
Ratih buru-buru memandang ke depan ketika Tom tiba-tiba menengok ke
arahnya. Dari sudut mata, Ratih dapat melihat bahwa Tom tersenyum
nakal karena memergoki Ratih mencuri pandang ke arah Tom. Dan naluri
pria Tom mengetahui bahwa Ratih sedang mengaguminya. Lalu Tom
kembali memandang ke jalan sambil tersenyum puas merasa menang.
Setelah mereka tiba di sebuah hotel berbintang tiga yang terkenal
akan restorannya yang baik, mereka turun dari mobil. Tom membukakan
pintu untuk Ratih. Entah sengaja atau tidak, mereka bertabrakan.
Dada Ratih bersentuhan dengan lengan Tom, dan mereka masing-masing
bukan tidak tahu itu. Ratih mencoba untuk tetap cool namun Tom
tersenyum, seolah-olah tahu bahwa kedua putik di ujung dada Ratih
sedang agak menegang karena bersentuhan dengan lengannya tadi. Lalu
mereka berjalan masuk.
"Hm, apakah kita makan di Coffee Shop atau memesan room service
saja?", tanya Tom ketika mereka memasuki lobby.
Sejujurnya, Ratih menyukai cara pendekatan Tom yang soft namun
terarah itu. Tanpa banyak berpikir, Ratih hanya menjawab singkat,
"Terserah kamu saja". Ratih mengucapkan kalimat itu sambil melirik
ke mata Tom dan sedikit menyipitkan mata, memberi tanda setuju
dengan apa yang Tom pikirkan. Lagi-lagi Tom tersenyum nakal
menggemaskan.
Lalu Tom segera mendatangi meja resepsionis untuk check-in. Kamar
yang mereka tempati tidak terlalu luas, meski cukup mewah untuk
ukuran hotel berbintang tiga. Sebuah ranjang king size tertata rapi
menghadap ke set televisi. Dinding di belakang set televisi itu
dilapisi oleh cermin sepenuh tembok, sehingga ruangan itu terkesan
lebih luas. Secara refleks, Ratih melirik ke cermin itu, dan
merapikan poni di dahinya serta membetulkan letak kacamatanya dengan
jari tengah. Tom melemparkan tubuh tegapnya ke ranjang dan mengamati
Ratih yang sedang bercermin.
"Kamu mau pesan apa?", tanya Tom sambil mengangkat gagang telepon di
meja kecil di samping ranjang.
"Apa kamu mau langsung makan?", jawab Ratih sambil memandangnya dari
cermin.
Tom terdiam karena tidak mengharapkan reaksi Ratih yang begitu
direct. Ratih membalikkan tubuhnya dan menatap ke mata Tom. Dengan
pelahan Ratih membuka satu persatu kancing blazernya, sambil
melangkah mendekati ranjang. Setelah semua kancing blazernya
terbuka, Ratih menaikkan lutut kirinya ke atas ranjang, dan
menurunkan blazernya hingga kedua bahunya terlihat karena kaosnya
yang sangat ketat itu berpotongan tanpa lengan. Mata Ratih menatap
ke arah Tom sambil sedikit menyipit.
Secara refleks, Tom mulai membuka satu-persatu kancing kemejanya,
sedikit demi sedikit menampakkan dadanya yang bidang, tegap
menggairahkan. Lalu dengan gerakan yang amat cepat, Tom melepaskan
kemejanya dan melemparkannya ke samping, lalu bangkit dan menabrak
tubuh Ratih, memeluk, dan menghujankan ciuman-ciuman hangat ke leher
dan rahang Ratih. Ratih menengadahkan kepala menikmati ciuman Tom
yang hangat dan bertubi-tubi itu. Tom menarik lepas blazer Ratih dan
melemparkannya ke sudut ruangan, tangan Tom juga menarik kaos Ratih
ke atas dan melepaskannya dari tubuh Ratih yang mulai berkeringat.
Lalu Tom menarik Ratih hingga kini rebah telentang di ranjang besar
itu.
Ratih menyukai cara Tom itu, dan dia begitu menikmatinya. Ratih
hanya telentang di ranjang itu dan pasrah sepenuhnya pada Tom.
Menatap Tom yang kini sedang berdiri di dekat ranjang sambil
mengawasi tubuh Ratih yang telentang dengan hanya bra putih dan rok
mini yang agak tersingkap ke atas. Ratih memandang Tom dengan
setengah terpejam dan jari-jarinya bergerak ke bibir Ratih,
merabanya, dan turun pelan-pelan ke leher, ke dada, mengait bagian
leher kaosnya dan menariknya sedikit. Tangan Ratih yang lain
bergerak mengusap pinggangnya, bergerak ke tengah dan berhenti di
bawah gesper sabuknya. Tom segera bereaksi, naik ke ranjang dan
mulutnya mulai menjelajahi wajah Ratih. Tangan Ratih bergerak untuk
melepaskan kacamatanya, Tom menggerakkan hidungnya menelusuri
telinga kiri Ratih, menurun ke leher Ratih.
"Aduuuhh..., aahh..., ssshh", Ratih kegelian hingga agak
menggelinjang dan mengangkat bahu kirinya yang segera dijilati oleh
Tom. Hangat dan lembabnya lidah Tom terasa begitu nikmat, membuat
Ratih kian pasrah saja. Tom menarik tali bra Ratih ke bawah agar
lidahnya lebih leluasa menjilati pundak Ratih yang halus mulus, bulu
kuduk Ratih berdiri semakin tegak merasakan itu semua. Tom semakin
bergairah, kedua tangannya membuka kaitan bra Ratih yang ada di
bagian depan. Dan terlihatlah olehnya kedua bukit payudara Ratih
yang tidak terlalu besar, namun kencang berwarna kuning cerah. Di
puncaknya terdapat dua tonjolan kecil merah jambu yang dikelilingi
lingkaran coklat muda.
Untuk beberapa detik Tom terdiam menyaksikannya. Ratih hanya dapat
menatapnya dengan pandangan meminta, menatap tegapnya tubuh Tom inci
demi inci dan membayangkannya melekat, menyatu dengan tubuhnya.
Dengan mata yang terfokus pada wajah Ratih, kedua tangan Tom mulai
bergerak menyentuh kedua payudara Ratih, mengusap, meraba dan
meremasnya dengan lembut. Jari-jari Tom dengan halus bergerak-gerak
di atasnya, melingkar-lingkar tanpa menyentuh putingnya. Ratih makin
menyipitkan matanya dan memandang mata Tom dengan memelas.
"Aughh.., aughh", Ratih merintih lirih. Tom menanggapinya dengan
cara meletakkan bibirnya melingkupi puting kiri Ratih. Membuat Ratih
agak terhenyak dan menggeliat keras, namun kedua lengan Tom memeluk
pinggang Ratih dan menahannya bergerak lebih jauh. Kini mulut Tom
dengan pelahan namun tegas segera memainkan puting kiri Ratih.
Lidahnya mengait-ngaitnya, bibirnya mengisap-isapnya.
"Ngghh..., aahh..., Tooomm", Ratih merintih lirih sambil menyebut
nama Tom. Mulut Tom menarik puting kiri Ratih dan membiarkannya
terlepas. Tom dapat melihatnya menjadi bersemu merah dan tegak
mengacung ke depan. Puas dengan karyanya itu, Tom beralih ke puting
kanan Ratih, menciumnya dan menggigitnya dengan lembut dan
perlahan-lahan.
"Akhh..., hhmm", Ratih kembali mengerang-ngerang ketika merasakan
puting kanannya mendapat jilatan dan isapan Tom, sementara puting
kirinya yang telah membengkak itu berada di antara telunjuk dan ibu
jari Tom yang memilin-milinnya pelan. Kedua alis mata Ratih seperti
menyatu di tengah keningnya yang mengerut, kedua matanya terpejam
rapat, gigi Ratih terkatup namun bibirnya setengah terbuka, mendesah
dan mengerang menahan rasa geli bercampur nikmat yang datang
bertubi-tubi pada bagian badannya yang paling sensitif itu. Tom
mulai merasakan betapa puting kanan Ratih mulai menegang dan
mengeras di dalam mulutnya yang dengan rakus mengisap-isapnya.
Rintihan dan erangan Ratih terdengar memenuhi ruangan.
Tiba-tiba Tom menarik tubuh Ratih hingga terduduk. Tom duduk di
belakang tubuh Ratih sambil mulutnya menjilati bahu dan leher Ratih
yang halus. Ibu jari tangan kanan Tom menjentik-jentik puting kanan
Ratih sementara telunjuknya bermain di puting kiri Ratih, membuat
Ratih kian tak mampu menahan birahi. Apalagi ketika tangan kiri Tom
menarik rok mini Ratih ke atas, lalu menyelip di balik celana
dalamnya. Dengan segera telunjuk kiri Tom menemukan bibir kewanitaan
Ratih yang telah lembab, lalu jari nakal Tom itu bergerak seperti
mencungkil-cungkil, menggosok bibir kewanitaan Ratih, dan
menjentik-jentik tonjolan kecil di atasnya. Ratih menggeliat-geliat
tak karuan menahan semuanya. Rasanya sulit untuk bernafas. Mata
Ratih terbuka sedikit, dan dari cermin di dinding itu Ratih bisa
melihat betapa rakusnya Tom mempermainkan tubuhnya yang sudah hampir
tanpa daya itu.
"Ohh..., aahh..., aduuuhh", Ratih hanya bisa merintih sekenanya
untuk bertahan dari serangan-serangan birahi Tom. Tanpa Ratih duga
sebelumnya, jari tengah tangan kiri Tom menyusup masuk ke liang
kewanitaannya, "Ehgggg....", Ratih menjerit tertahan ketika
merasakan sesuatu memasuki tubuhnya lewat tempat sensitif itu. Tom
semakin buas, jarinya bergerak berputar-putar di dalam liang
kewanitaan Ratih, sementara tangan kanan Tom terus meremas-remas
payudara Ratih yang kini terasa ngilu namun nikmat.
Ratih menyandarkan kepalanya di dada Tom, tubuhnya bergetar tak kuat
menahan birahi. Tangan Ratih bergerak ke atas dan memeluk leher Tom.
Rupanya mereka sudah sama-sama menginginkannya, Tom segera
menghempaskan tubuh Ratih hingga kembali telentang di ranjang.
Dengan gerakan sigap Tom menyingkapkan rok mini Ratih,
mengangkangkan kedua pahanya lebar-lebar, dan menyingkap celana
dalam Ratih ke samping. Tangan Tom membimbing penisnya yang besar
dan panjang itu menyentuh bibir vagina Ratih yang telah dibanjiri
cairan pelumas, lalu dengan segenap kekuatan Tom menekan penisnya
dalam-dalam.
"Aduhh..., aahh..., eeennngg..., ooooohh", jerit Ratih ketika
merasakan terobosan penis Tom ke dalam vaginanya. Tom segera
menggerakkan tubuhnya dengan cepat maju mundur, membiarkan penisnya
menggosok dinding vagina Ratih dengan kencang dan bertenaga. Kedua
tangan Tom dengan gemas terus meremas payudara Ratih sambil
memilin-milin putingnya. Ratih hanya bisa merintih dan mengerang
keras-keras, kepala Ratih terlempar ke kiri dan kanan merasakan
sodokan-sodokan penis Tom yang membuatnya lupa diri karena digempur
kenikmatan yang begitu luar biasa. Gerakan-gerakan Tom kian cepat
hingga tubuh Ratih terhentak-hentak. Matanya terpejam-pejam tak
mampu menahan kenikmatan yang luar biasa ini. Kedua tangan Ratih
mencengkeram bantal di bawah kepalanya.
"Aaduuhh..., enaakkk..., ssekaallii..., Toom", Ratih benar-benar tak
mampu menahannya lagi, terlalu nikmat. Ratih dapat merasakan dinding
kewanitaannya kian licin karena cairan pelumas makin banyak
membanjirinya. Namun di situ penis tetap dengan perkasanya mengikis
dinding-dindingnya. Ratih meringis keenakan sementara Tom terus saja
menghunjam-hunjamkan penisnya yang amat besar dan keras itu ke dalam
vagina Ratih, sambil meremas kedua payudaranya dan menatap wajah
Ratih yang kini berekspresi menahan nikmat. Ratih tak tahu bagaimana
dengan Tom, namun Ratih benar-benar tak mampu lagi bertahan.
Gelombang-gelombang kenikmatan terlalu buas menerpa tubuhnya yang
kini tak berdaya. Otot-otot kewanitaannya terasa menegang berusaha
menjepit kejantanan Tom yang terus saja bergerak keluar masuk.
Akhirnya, sesuatu terasa meledak di seluruh tubuh Ratih. Badannya
melengkung, punggungnya terangkat dari ranjang. Untuk sesaat seluruh
tubuhnya mengejang. Gigi Ratih bergemeretak menahan hantaman
gelombang orgasme itu. Pandangannya seperti kabur dan semuanya
tampak putih. Lalu kenikmatan yang begitu intens itu merenggut
seluruh energinya. Ratihpun lunglai tak berdaya di tangan Tom. Kini
tinggallah Tom yang dengan leluasa dan rileksnya membolak-balik
tubuh Ratih. Setelah Tom menumpahkan semuanya ke dalam vagina Ratih,
barulah dia berhenti. Lambat laun Ratih mulai pulih. Terlihatlah
plafon kamar yang putih dan bertekstur. Seluruh ruangan pun mulai
terlihat jelas. Namun kenikmatan itu belum hilang. Kenikmatan di
seluruh tubuhnya yang baru saja Tom berikan.
Ratih menengok ke samping dan mendapati Tom terbaring di situ
menatap wajah Ratih yang masih tampak kelelahan. Lalu mereka berdua
berpelukan erat. Tubuh mereka terasa amat menghangatkan. Lalu mereka
terbang ke alam mimpi. |
|
|
|