|
Panisan Nikmat Tante Iin |
Sekarang saya ingin membagikan pengalaman saya sewaktu tinggal di
salah satu tempat kost di Bandung. Rumah kost saya hanya
mengontrakkan 1 kamar, yang punya rumah namanya Tante Iin dan
suaminya Pak Asep. Keluarga ini sangat baik dan ramah terhadap saya
dan tidak heran mereka menganggap saya seperti anak kandungnya dan
sering juga saya tidak bayar uang makan dan memang saya makan di
rumah itu biar ngak susah-susah dan teratur makannya. Sedangkan
kamar yang saya kontrak tepat di depan dan agak terpisah dari rumah
induk tapi masih satu gerbang dengan yang punya rumah. Itulah
sekilas situasi pada saat saya mengalami kejadian ini.
Saat itu saya hendak nonton Televisi ke rumah tante Iin. Sebelum
saya masuk saya panggil Teteh....teteh..... eh ngak ada yang nyahut
dari dalam rumah dengan pelan kudorong pintu rumahnya dan ternyata
nggak dikunci. Saya langsung masuk dan saya telusuri seisi rumah kok
nggak ada orang ya...sepi amat ini rumah pada kemana semua
penduduknya, agak ke dapur sedikit eh...terdengar suara gemercik air
di kamar mandi siapa yang mandi ya, saya agak penasaran dan belum
ada pikiran kotor saat itu. Saya liat ada ventilasi di atas pintu
kamar mandi akhirnya saya jadi kepingin ngeliat siapa yang ada di
kamar mandi.
Kamar mandi tante Iin memang agak besar dan sangat terang terlihat
dari luar, segera aku mengambil kursi dan menaikinyai. Benar, tante
Iin dengan T-shirt dan celana pendeknya ternyata baru masuk. Aku
berdebar. Dibuka kaosnya melalui kepala sehingga tampaklah BH warna
cream. Belahan susunya makin jelas ketika dia menunduk melepas
celana pendeknya. Dan makin jelas lagi ketika BHnya dia lepas juga.
Wow .. susunya !
Ukurannya sedang-sedang saja, mungkin sekitar 34, tapi benar-benar
membulat. Puncak buah dadanya adalah bulatan coklat yang agak besar
dengan putingnya yang begitu kuncup, Khas buah dada seorang Ibu-ibu.
Putih dan mulusnya .... CD warna cream dilepas juga. Rambut
kemaluannya dicukur habis dan terlihat sangat seksi diujung
selangkangannya. Tadinya aku mengharapkan lebatnya bulu kemaluan,
sebab kaki dan lengan tante Iin juga berbulu lebat. tapi justru aku
bisa menikmati gundukan kewanitaan tante Iin yang mulus. Penisku
tegang. Kupelorotkan kolor celana pendekku dan mulai mengelus-elus
batangnya. Di rumah Aku memang biasa memakai oblong dan celana kolor
pendek tanpa CD. Aku mulai mengocok waktu dia menyabuni tubuh
mulusnya. Kocokan tambah cepat ketika dia dengan agak lama menyabuni
sepasang buah dadanya, sambil meremas-remas seolah memang sengaja
merangsangku. Sampai akhirnya aku tak bisa menahan lagi untuk
menyemprotkan air maniku ketika tante Iin mengucel-ucel susunya
dengan handuk.
Sejak itu, mengintip tante Iin mandi menjadi "tugas pagi"ku yang
rutin. Biasanya kulakukan sambil bermasturbasi. Kadang sampai
muncrat, seringnya hanya "menggantung". Kalau tak bisa "nyampai"
begini, aku meneruskan kocokanku di kamar sambil berkhayal
menyetubuhi Tante Iin. Tak enak memang kalau hanya nggantung" saja.
Begitulah kerjaanku hampir setiap hari, sampai pada suatu pagi
seseorang memergoki tingkah rutinku.
Pagi itu sehabis ngintip Tante Iin aku tak berhasil orgasme. Maklum,
pemandangan yang sama dan rutin, mengurangi efek rangsangan. Aku
benar-benar ingin meningkat dengan menyetubuhi Tante Iin, tapi
kayanya tak mungkin .... Gagal mencapai puncak, kusimpan kembali
penisku lalu duduk di kasur. "Nak Larry", Seseorang memanggilku,
kayanya suara Tante Iin, Isteri Pak Asep. "Ya Tan", jawabku. "Tante
ingin bicara, boleh masuk ?", Bergegas aku berbenah diri, untung
penisku udah cukup surut sehingga tak menonjol di kolor tanpa CDku.
Aku membuka pintu, di depanku berdiri Tante Iin dengan dasternya
seperti biasa. wajahnya kelihatan lebih segar, jadi makin tampak
putih.
Daster yang biasa dipakai itu memang agak ketat, cukup menonjolkan
lekukan tubuhnya. "Silakan masuk Tante", kataku hormat. "Tumben,
pagi-pagi, ada apa Tante", lanjutku. Tante Iin masuk, menutup
kembali pintu kamarku, dan duduk di kursi belajarku, satu-satunya
kursi yang tersedia. Aku kembali duduk di kasurku menyender ke
dinding. Aku memang sengaja tak menggunakan dipan, hanya tikar rotan
dan kasur yang dibentang di lantai kayu. Tante Iin duduk menghadapku
menyilangkan kakinya. Karena posisiku lebih rendah, aku "terpaksa"
mengamati sepasang kaki Tante Iin. Ternyata indah juga. Mirip kaki
bintang favoritku dalam Film Porno, panjang putih dan mulus dengan
hiasan bulu-bulu halus. Aku sama sekali tak pernah mengamati Tante
Iin, karena memang minatku tidak pernah ada untuk menikmati tubuhnya
orang yang sangat baik dan ramah ini. Baru kali ini aku menikmati
kaki indahnya. "Gini nak ..", katanya tak berlanjut. diam agak lama.
"Kenapa Tante ?", kejarku. "Tante mau bicara langsung saja ya ..."
Tiba-tiba aku berdebar. Ada apa nih, mungkinkan dia menyuruhku
pindah sebab aku dengar ada keponakannya yang baru masuk Unpad dan
cari tempat kost ? Semoga jangan deh, aku udah amat betah di sini,
lagian aku bisa kehilangan Tante Iin mandi ...
"Tante tahu apa yang Nak Larry kerjakan tiap pagi", suaranya pelan,
halus, tapi bagi telingaku bagai petir di cuaca buruk, menggelegar.
Memang sudah hukum alam, barang busuk toh akhirnya tercium juga. Aku
tak menjawab, hanya tertunduk malu, amat malu. Bayangkan, orang yang
aku hormati ini tahu setiap pagi aku mengintipnya mandi ... "Kenapa
Nak Larry lakukan ?" "Hmm.. eh ...", aku gugup banget, keringat
dingin. "Kenapa nak ?" "Maafkan saya Tan ..." hanya itu yang bisa
keluar dari mulutku. Dia diam menunggu kalimatku berikutnya. "Nak
Larry kan saya anggap anak sendiri", lanjutnya lagi setelah aku
membisu. "Benar Tante, mohon Tante maklum" "Maklum apa" "Umur saya
sudah cukup untuk menikah, tapi sekolah belum selesai, jadi saya
suka me ...itu" "Masturbasi maksud Nak Larry ?" langsung aja si
Tante ini. "Benar Tan, saya hanya membutuhkan rangsangan untuk
melakukan itu", lancar aja jawabku sekarang. "Okey, Tante bisa
memaklumi, cuman Tante khawatir kalau nak Larry keterusan terus
berbuat ke orang lain" "Engga dong Tan.."sahutku cepat.
"Okey, janji ya ?" katanya sambil bangkit dan ikut duduk di kasur di
sebelahku.
"Saya janji Tante"
"jangan teruskan ya"
"Baik Tante. Tante enggak bilang bapak kan ?"
"tergantung"
"Tergantung apa Tante" tanyaku sambil mulai berani memandang
wajahnya, ingin tahu. Aduuhh ... Daster Tante berkancing di
tengah-tengah dadanya. Diantara dua kancing itu ada tepi kain yang
menganga menampakkan sedikit bulatan daging putih, tepi buah dada
Tante. Dasar kurang ajar, udah dimarahin masih sempat juga mencuri
pandang ke dada montok Tante ...
"Ada syaratnya" Katanya sambil meluruskan kaki dan menumpangkan kaki
kanannya di atas kaki kiri. Tepi dasternya sedikit tersingkap
menampakkan sedikit pahayang amat putih ...
"Apa Tan ?" Mendadak penisku mulai menggeliat. celaka nih, aku tak
pakai CD.
"Satu, kamu tak boleh mengulangi lagi"
"Saya kan udah janji Tan"
"Dua, jangan sekali-kali mengintip tante"
"saya udah janji juga Tan"
"Tiga ......" Diam. Lagi2 aku memandangnya menunggu.
Tante masih membisu, menatap tajam mataku. Aku "ngeri", mataku
sedikit ke bawah menghindari tatapannya, namun aku justru menemukan
pemandangan lain. Dada besar Tante Iin bergerak naik-turun seirama
alunan nafasnya yang ternyata mulai memburu ! Ada apa nih ?
"Yang ketiga apa Tan"
Tante Iin masih diam, masih tajam menatapku, nafasnya tambah
ngos-ngosan. Aku makin bingung !
Tiba2 Tante Iin melepas kancing dasternya yang paling atas, perlahan
tapi pasti lalu kancing kedua, dan stop. Belahan dada putih itu
terhidang di depanku. belahan "dalam" yang menunjukkan bulatnya buah
kembar di samping kiri dan kanannya. Penisku makin tegang ! Masih
menatap tajam, diraihnya tanganku dan dituntunnya ke belahan itu.
Aku langsung merasakan lembutnya dada Tante. Tante Iin
menginginkanku ? tapi aku kurang yakin, tanganku masih pasif
menempel di dada.
"Yang ketiga ... asal Nak mau sama Tante ...", barulah aku yakin.
Tanganku langsung bergerak menyusup dan meremas. baru aku menyadari
ternyata Tante Iin tak memakai BH. Kenapa tak kulihat dari tadi ?
Memang engga ada niat sih. Sekarang sih berminat, kemaluanku udah
berdiri tegak .....
"Ooohhhhh .... terus Nak ...." Reaksinya ketika aku makin semangat
meremasi dadanya. Benar2 dada istimewa, besar, lembut halus,
putingnya sudah mengeras, tapi tentu saja tidak sekenyal dada
sahabat sekuliahku yang kuperawani. Tante Iin merebahkan tubuhnya ke
kasur terlentang. Aku langsung menindih tubuhnya. Empuk .... Kedua
tangannya meraih kepalaku dan kami lalu berciuman, ciuman panas,
lidah tante begitu "ganas" mengerjai mulutku.
Tangannya ke bawah memelorotkan kolorku dan langsung menggenggam
penisku. dilepaskan ciumannya dan matanya melirik ke bawah.
"Punya nak Larry panjang ...." Kusingkirka tepi-tepi kain dasternya
sehingga buah dadanya secara utuh terbuka, lalu kuserbu dengan
mulutku.Dengan gemas bukit kembar itu aku ucel-ucel. Tante mengerang
menikmati ucelanku. Tapi melarangku untuk menggigiti buahnya. "Entar
berbekas Nak ..."
Benar juga. Tanganku juga kebawah menyingkap dasternya dan menelusup
CDnya. Basah ... kupermainkan itilnya dengan ujung telunjuk.
"Ooooghhhh .... Naaaak ...." Tak hanya itu, jariku terus ke bawah,
menusuk. "Oow !, pelan-pelan dong", Cepat-cepat kutarik jariku, lalu
menusuk lagi, perlahan. "Aahhhhhh ... sedaaap ..." Liang vaginanya
makin membasah. Tiba-tiba Tante Iin menolak tubuhku, jariku
terlepas. tante Iin langsung melepas kolorku, penisku mencuat.
"Ayo .... masukin ... sekarang ..."
Kulepas dasternya dan kupelorotkan CD, bulu kemaluannya tebal,
klit-nya menonjol gede ... Tapi lubangnya kok engga kelihatan ?
Tubuh telanjang Tante Iin tergolek dengan kaki membuka lebar. Masa
sih ... liang itu begitu sempit?
Kubuang oblongku. Kutempatkan kedua lututku di antara pahanya yang
mengangkang, kutempelkan penisku di bawah clit-nya.
"Pelan-pelan .. ya ... Nak .... Tante udah lama engga.."
"Iya Tan" Udah lama engga ?
Aku mulai menusuk.
"oooh ......." Busyet, mentok
Tekan lagi dengan menambah tenaga. Uuhh, sempitnya.
Rasanya aku tak percaya. Wanita matang berusia sekitar 35 tahun ini
kok punya liang vagina yang sempit banget. Sambil menggoyang
pinggul, aku menambah tenaga tusukanku lagi. Nah, masuk deh.
"Aaaaaaahhhhhh .... sedaaaaapppp .."
Tusuk lagi sampai penisku tertelan habis. Terasa banget jepitan
dinding vaginanya dan di ujung sana terasa ada "tembok" yang
mengelusi kepala penisku.
Aku mulai memompa. Pompaanku dibalas. pinggulnya bergerak-gerak
"aneh" tapi efeknya luar biasa. Penisku serasa dilumati dari pangkal
sampai kepalanya. Lalu masih ditambah dengan variasi. Ketika
pinggulnya berhenti dari gerakan aneh itu, tiba-tiba aku merasakan
jepitan teratur di dalam sana, sekitar 4 - 5 kali denyut menjepit,
baru bergoyang aneh lagi.
Wah, tak kusangka, sedap juga wanita dewasa ini. Menyesal aku karena
selama ini tak memperhatikannya. Wanita dengan wajah yang
biasa-biasa saja, tubuh molig, punya ketrampilan berhubungan kelamin
yang istimewa ..Gerakan anehnya makin bervariasi. terkadang aku
malah meminta Tante Iin berhenti bergoyang buat menarik nafas
panjang. Lumatan dinding vaginanya pada penisku membuatku geli dan
serasa mau 'nyampe'. Aku tak ingin cepat-cepat sampai, masih ingin
menikmati "elusan" vagina. Tapi Tante Iin makin galak, gerakannya
makin liar ....Hingga aku menyerah, tak mampu menahan lebih lama
lagi. Justru aku makin cepat bergerak mengimbangi goyangan
pinggulnya. Aku sedang menuju klimaks, mendaki puncak, saat2 yang
paling nikmat ... Dan akhirnya .... pada tusukan yang terdalam,
kusemprotkan maniku kuat-kuat, aku mengejang, melayang ... ,
menggetar ..... Pada detik-detik aku melayang tadi, tiba-tiba
kakinya yang tadi mengangkang, diangkat dan menjepit pinggulku
kuat-kuat. Amat kuat. Lalu tubuhnya mengejang beberapa detik
mengendor dan trus
mengejang lagi ..."Aaaaaaaahhhhhh" Tante Iin benar-benar teriak. Aku
khawatir
teriakannya terdengar sampai tetangga, makanya kututup mulutnya
dengan
mulutku. Beberapa detik dia histeris. Lalu jepitan kakinya terasa
mengendor. Kakinya jatuh ke samping. tangannya juga. rebah dan lemas
....
"Terima kasih Naak ...", pipiku diciumi.
"Saya juga Tan .... Tante sedap banget", kataku jujur.
"Ah ... Nak Larry bukan main"
"Kenapa Tan ?"
"Udah lama Tante puasa lho..."
"Ah masa"
"Benar"
"Emangnya Bapak ..."
"Pagi udah berangkat, pulangnya malem, udah lama engga menyentuh
Tante"
"Tante jangan bilang ke Bapak ya"
"Iyaa dong, gila apa"
"Maksud saya, tentang mengintip itu..."
"Jangan khawatir, asal ..."
"Syarat yang ketiga ? syarat yang nikmat begini sih okey aja"
potongku.
tante Iin langsung menciumi mukaku.
Dari pengalamanku bersetubuh dengan tante Iin, aku mendapatkan
pelajaran baru yang bisa mengubah persepsiku tentang wanita : Umur
belasan atau tigapuluhan ternyata sama nikmatnya,
tergantungketrampilannya dalam bermain. |
|
|
|